Ditopang Sektor Potensial, Ekonomi Sulbar Tumbuh di Bawah Tekanan Fiskal
Sulbar – Pertumbuhan ekonomi Sulbar menembus angka 5,8 persen di saat banyak provinsi justru menahan laju akibat tekanan fiskal.
Kombinasi sawit dan industri pengolahan membuat Sulbar muncul sebagai kejutan baru di kawasan Indonesia timur. Capaian ini mencuri perhatian nasional. Sulbar mampu melesat ke dalam daftar lima daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia.
Padahal, provinsi ke-33 ini juga mengalami efisiensi anggaran dan perlambatan penyaluran kredit. Tidak berbeda dengan wilayah lain di Indonesia. Namun, Sulbar justru menunjukkan resiliensi lewat sektor penggerak utamanya.
“Pertumbuhan ekonomi ekonomi Provinsi Sulawesi Barat pada triwulan III ini alhamdulillah baik. Pertumbuhan ekonominya secara yoy sekitar 5,8 persen, merupakan 5 besar nasional,” ujar Kepala KPw BI Sulbar, Eka Putra Budi Nugroho, kemarin.
Menurut Eka, performa ini menjadi angin segar bagi daerah. Struktur ekonomi Sulbar yang masih bertumpu pada sektor perkebunan. Terutama kelapa sawit dan industri pengolahan berbasis CPO. Sektor potensial ini kembali terbukti sebagai motor utama pertumbuhan.
Kedua sektor tersebut menyumbang lebih dari separuh PDRB daerah. Masing-masing sekitar 47 hingga 48 persen untuk perkebunan dan 11 sampai 12 persen untuk industri pengolahan.
“Nah ini tentu menjadi salah satu motor utama perekonomian Sulbar ke depan,” bebernya.
Eka menegaskan, penguatan hilirisasi menjadi kunci agar Sulbar tidak hanya berperan sebagai pemasok bahan mentah. Tetapi mampu mengembangkan industri bernilai tambah yang dapat menyerap tenaga kerja dan memperkuat ketahanan ekonomi jangka panjang.
Efisiensi dan Pembiayaan Jadi Tantangan
Meski demikian, sejumlah tantangan perlu mendapat atensi. Kebijakan efisiensi anggaran pemerintah pusat yang akan berlanjut hingga dua tahun ke depan berpotensi mempengaruhi ruang fiskal daerah. Padalah selama ini pemerintah daerah juga menjadi salah satu pendorong aktivitas ekonomi.
Dengan demikian, Eka mendorong aksi kolaboratif untuk meningkatkan komponen penggerak utama ekonomi Sulbar. Baik dari sektor pertanian, perkebunan, maupun perikanan. Begitu pula pada industri pengolahan yang merupakan turunan dari sektor perkebunan.
“Saya rasa ketika ini dinaikkan dan ditingkatkan efektivitasnya, produktivitasnya, maka pertumbuhan perekonomian Sulawesi Barat bisa tetap terjaga,” paparnya.
Selain efisiensi, tantangan lain juga muncul dari sisi pembiayaan. BI mencatat adanya perlambatan penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR). Pemicunya tidak lain adanya permintaan serta penyesuaian kebijakan perbankan.
“Koordinasi antara BI dan OJK terus diperkuat agar KUR tetap efektif sebagai instrumen pengungkit ekonomi rakyat, khususnya bagi pelaku usaha kecil di daerah,” jelas Eka.
Pendongkrak Ekonomi Baru
Di tengah dinamika dan kompleksitas ekonomi, BI menilai Sulbar memiliki peluang besar untuk memperluas sumber pertumbuhan ekonomi. Sektor perdagangan juga sektor potensial yang dapat mendongkran ekonomi Sulbar ke depan.
“Jika sektor ini digerakkan lebih masif, perdagangan dapat menjadi motor baru yang memperkuat fondasi ekonomi daerah,” ucapnya.
Selain perdagangan, sektor perikanan juga memiliki ruang signifikan dalam mendorong ekonomi daerah. Sulbar memiliki garis pantai yang panjang dan letak geografis yang strategis. Kondisi ini menjadikan sektor kelautan sebagai salah satu sektor yang menjanjikan.
Pemanfaatan potensi laut yang optimal, menurut Eka, bukan hanya memperluas basis ekonomi daerah, tetapi juga mengurangi ketergantungan terhadap sektor perkebunan yang selama ini dominan.
“Jika itu bisa kita manfaatkan sebaik-baiknya, ini dapat menjadi salah satu ujung tombak perekonomian di masa depan,” pungkas Eka.


