Respons Kilat Wagub Sulbar: Susu dan Air Mineral untuk Bayi Annisa

waktu baca 3 menit
Kondisi bayi Annisa di bawah pengasuhan sang nenek usai ibunya meninggal dunia.

Polman – Seorang bayi berusia tiga bulan di Desa Baru, Kecamatan Luyo, Kabupaten Polewali Mandar, terpaksa meminum susu formula yang bercampur air sumur keruh berwarna kecokelatan.

Kisah Annisa memantik respons cepat Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat. Wakil Gubernur Sulbar, Salim S. Mengga mengerahkan tim dan relawan untuk mengirim bantuan darurat, sekaligus menekan percepatan akses air bersih.

Tim Wagub datang pada Minggu (18/1). Mereka membawa susu bayi, air mineral, serta kebutuhan pokok untuk keluarga pengasuh Annisa.

“Saya tidak bisa membayangkan bagaimana bayi sekecil ini harus bertahan dengan kondisi seperti itu. Ini bukan hanya soal bantuan, tetapi soal kemanusiaan. Tidak boleh ada warga yang hidup dalam keadaan seperti ini,” tegas Salim S. Mengga.

Tim dan relawan ketika menyalurkan bantuan kepada bayi Annisa dan keluarga.

Annisa hidup dalam keterbatasan sejak ibunya meninggal beberapa waktu lalu. Neneknya mengambil alih pengasuhan. Namun, keterbatasan ekonomi dan jauhnya akses air bersih membuat sang nenek mengandalkan air sumur yang keruh untuk mencampur susu formula.

Kondisi itu terungkap setelah relawan menerima informasi dari warga dan segera meneruskannya ke lingkar Wagub. Relawan juga memastikan laporan tidak berhenti sebagai cerita simpati, melainkan berubah menjadi respons lapangan.

“Kami menerima informasi kondisi bayi ini dari warga, lalu kami langsung berkoordinasi dan menyampaikan ke Pak Wagub. Syukurnya, responsnya sangat cepat. Bantuan bisa segera turun,” ujar salah satu relawan yang terlibat.

Kolaborasi untuk Bayi Annisa

Pemerintah kabupaten ikut masuk. Dinas Sosial Polewali Mandar mendatangi rumah keluarga Annisa untuk pendataan dan asesmen awal. Tujuannya jelas: bantuan tidak cukup sekali kirim, perlu pengawalan.

“Kami ingin memastikan keluarga ini mendapatkan pendampingan dan bantuan berkelanjutan, bukan hanya hari ini,” kata salah satu petugas Dinas Sosial.

Di rumah sederhana itu, sang nenek membeberkan situasi yang membuatnya terpojok: air bersih sulit dijangkau, sementara membeli air galon setiap hari melampaui kemampuan. Ia memilih opsi yang tersedia, meski berisiko bagi bayi.

“Air bersih jauh. Tidak cukup uang beli galon tiap hari. Saya hanya bisa pakai air sumur. Saya kasihan sekali sama cucu saya, tapi saya tidak punya pilihan,” ujarnya dengan suara bergetar.

Kasus Annisa menyodorkan dua masalah sekaligus. Kemiskinan rumah tangga dan akses layanan dasar yang timpang. Bantuan susu dan air mineral menyelamatkan kondisi jangka pendek. Namun akar persoalan tetap berada pada sumber air yang tak layak dan biaya pemenuhan air bersih yang menekan keluarga rentan.

Pemerintah provinsi menyatakan komitmen untuk menindaklanjuti kebutuhan akses air bersih warga setempat serta memantau kesehatan Annisa. Salim menekankan langkah lanjutan, bukan sekadar respons sesaat.

“Masalah air bersih ini tidak bisa dibiarkan. Tidak boleh ada lagi anak yang meminum susu dari air keruh,” tutup Wagub Sulbar.

error: Content is protected !!
Play sound