Disbun Sulbar Perketat Penerima Bibit Kakao, Tak Ingin Bantuan Salah Alamat

waktu baca 2 menit
Suasana pertemuan koordinatif Dinas Perkebunan Sulbar terkait pengetatan penerima bantuan agar tak salah sasaran.

Mamuju – Program penyediaan benih kakao di Sulawesi Barat memasuki fase penentuan Calon Petani dan Calon Lokasi (CPCL).

Pada tahap ini, satu kesalahan data bisa membuat bantuan meleset. Bisa saja benih jatuh ke tangan yang salah, lokasi tidak siap tanam, atau penerima ganda. Untuk menutup celah itu, Dinas Perkebunan (Disbun) Sulbar memperketat verifikasi dan merapatkan koordinasi lintas bidang.

Kepala Disbun Sulbar, Muh. Faizal Thamrin mengumpulkan seluruh bidang dalam rapat internal pada Senin (26/1). Fokus rapat mengerucut pada ketepatan data calon petani dan akurasi titik lokasi penerima manfaat.

Langkah ini menandai terjadinya perubahan pendekatan dalam penyaluran bantuan. Disbun tidak ingin program berjalan sekadar “asal salur”. Mereka membedah proses CPCL dari hulu ke hilir. Mulai pendataan, verifikasi calon lokasi, hingga kesiapan penyediaan dan distribusi benih sesuai ketentuan.

Kuncinya terletak pada disiplin administrasi sekaligus kecermatan lapangan. Bukan tanpa alasan, data yang rapi tanpa cek fisik sering menipu. Sementara cek lapangan tanpa dokumen rawan tak bisa dipertanggungjawabkan.

Faizal menegaskan, perbaikan proses CPCL harus menghasilkan program yang benar-benar menyentuh petani dan menaikkan produktivitas. Bukan sekadar menggugurkan kewajiban.

“Melalui rapat kolaborasi ini diharapkan pelaksanaan CPCL lebih optimal dan tepat sasaran” kata Faizal.

Disbun juga menekankan pentingnya kolaborasi lintas bidang untuk mempercepat pemeriksaan data. Begitu pula mengurangi potensi salah sasaran dan menjaga transparansi.

Dalam rapat itu, peserta menyepakati komitmen memperkuat kualitas data, membuka proses lebih akuntabel, serta membangun sinergi dengan pihak terkait, termasuk lintas level pemerintahan.

Program CPCL penyediaan benih kakao ini selaras dengan arah kebijakan Pemprov Sulbar yang mendorong pertumbuhan ekonomi inklusif dan berkelanjutan. Namun, capaian kebijakan itu akan sangat ditentukan oleh satu hal yang kerap luput.

Ketelitian memilih siapa yang menerima dan di mana bantuan ditanam. Jika CPCL bersih, dampaknya bisa terasa bertahun-tahun. Jika CPCL bocor, masalahnya bisa lebih lama daripada umur benih itu sendiri.

error: Content is protected !!
Play sound