Warisan Salim S. Mengga Jadi Kompas Pembangunan Sulbar

waktu baca 2 menit
Gubernur Sulbar, Suhardi Duka ketika mengenang perjalanan dan perjuangannya bersama almarhum Salim S. Mengga.

Mamuju – Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat menggelar tahlilan dan doa bersama untuk almarhum Wakil Gubernur Mayjen TNI (Purn) Salim S. Mengga, di Rumah Jabatan Gubernur, malam tadi.

Gubernur Sulbar, Suhardi Duka (SDK) menegaskan, roda pemerintahan dan pembangunan harus tetap berjalan di jalur yang sama seperti komitmen yang pernah dirintis bersama almarhum.

“Kita harus kuat, tegar untuk melanjutkan harapan-harapan beliau, kita harus tetap pada jalan yang telah kami rintis bersama-sama. Jangan di belok-belok supaya beliau tidak menangis melihat kita. Kita ingin dalam perjalanan ini beliau senyum melihat kita. Ternyata adik-adik saya, sahabat-sahabat saya berada pada jalur yang menjadi harapan saya dalam menjalankan roda pemerintahan, pembangunan, dan pelayanan masyarakat di Sulawesi Barat ini,” kata SDK.

SDK mengenang kedekatannya dengan Salim S. Mengga jauh sebelum keduanya memimpin Sulbar. Saat masih menjadi anggota DPR RI, ia sering berdiskusi dan bertukar pikiran dengan almarhum tentang persoalan daerah. Dari rangkaian diskusi itu, keduanya memilih kembali ke Sulbar untuk membangun daerah.

Menurut SDK, keputusan itu lahir dari keprihatinan, bukan ambisi jabatan. Ia mengaku sudah merasa nyaman di DPR RI. Sementara itu, almarhum disebut sempat berpikir menjalani masa pensiun di Jakarta bersama keluarga.

“Tapi karena keprihatinan kita bersama. Dia mengatakan sama saya kalau kau cintai daerahmu, kembali kedaerahmu, itu yang dia pesankan,” kenangnya.

Sosok Berintegritas dan Teguh pada Kepercayaan

Selama hampir satu tahun kebersamaan memimpin Sulbar, SDK menilai almarhum memegang teguh kepercayaan dan menghargai relasi kerja. Ia menyebut Salim Mengga sebagai sosok yang membalas kepercayaan dengan integritas.

“Saya ingin katakan pada kesempatan yang baik ini, satu kali saya hargai Pak Salim, satu kali saya beri kepercayaan, dia balas ke saya dua kali, itu hebatnya, sedangkan dia kakak sebelah tahun dari saya,” ungkap Suhardi Duka.

SDK juga menceritakan momen saat menerima kabar duka. Ia mengaku terpukul karena kehilangan bukan hanya rekan kerja, tetapi figur yang ia hormati.

“Saya benar-benar susah berdiri, dia tidak hanya baik, istrinya juga sangat baik, kita belajar tentang integritas, kejujuran sama beliau, jadi pantas Sulbar kehilangan,” ucapnya.

Dalam kesempatan itu, SDK menilai Sulbar kehilangan sosok langka. Ia meyakini daerah ini belum tentu mudah menemukan figur serupa dalam waktu panjang.

“Dan mungkin 30-50 tahun kedepan kita belum tentu menemukan seperti sosok beliau almarhum,” ungkap SDK.

SDK mengatakan tahlilan dan doa bersama menjadi bentuk penghormatan terakhir bagi almarhum. Ia juga menyebut kegiatan itu sebagai penguat tekad untuk menjaga nilai, komitmen, dan arah pembangunan yang telah dibangun bersama Salim Mengga.

error: Content is protected !!
Play sound