Sulbar Perkuat TPID, Sekda Minta Strategi Inflasi Lebih Terukur
Mamuju – Pemprov Sulbar menggelar capacity building Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) untuk memperkuat strategi menghadapi tekanan inflasi 2026.
Sekretaris Daerah Sulbar, Junda Maulana menegaskan, prestasi TPID 2025 harus terjaga lewat laporan berkualitas dan aksi nyata yang terukur.
Pemprov Sulbar, kata Junda, berhasil meraih penghargaan TPID Provinsi Berkinerja Terbaik 2025 untuk wilayah Sulawesi. Ia menilai capaian itu menunjukkan kinerja Sulbar mulai sejajar dengan provinsi lain meski usia daerah masih muda.
“Walaupun daerahnya kita belum bisa sejajar, tapi prestasi-prestasi harus bisa sejajar dengan provinsi lain, khususnya dari region Sulawesi,” kata Junda Maulana saat membuka capacity building penyusunan laporan kinerja TPID se-Provinsi Sulawesi Barat di Hotel Maleo, Selasa (10/2/2026).
Junda menekankan penghargaan bukan tujuan akhir. TPID perlu memahami faktor yang melahirkan prestasi agar capaian tidak turun pada tahun berikutnya. Ia menyoroti aspek pelaporan sebagai salah satu kunci.
“Jangan sampai kita tidak tau apa yang kita kerja, kemudian tiba-tiba kita dapat prestasi, kita bangga, tau-taunya tahun depan turun, kita kecewa, ini bisa saja terjadi,” jelasnya.
Menurutnya, kinerja tidak akan terbaca kuat tanpa laporan yang rapi dan terstruktur. Perbaikan pelaporan, kata dia, harus sejalan dengan langkah nyata pengendalian inflasi.
“Kalau sudah laporannya kita perbaiki, tentunya aksi-aksinya juga harus nyata,” kata Junda.
Bidik Kelompok Pengeluaran Tertinggi
Junda mengingatkan TPID perlu memperhatikan pola inflasi yang kerap dipicu kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Karena itu, TPID perlu menyiapkan strategi untuk menjaga pasokan dan meningkatkan produktivitas komoditas yang sering langka.
“Strategi-strategi kebijakannya nanti bisa direkomendasikan kepada dinas-dinas terkait,” paparnya.
Ia menyebut pemerintah dapat mengambil langkah konkret, seperti pemberdayaan petani hingga dukungan subsidi untuk komoditas tertentu, agar gejolak harga tidak berulang.
Untuk 2026, Junda menilai Sulbar berpotensi menghadapi tekanan inflasi, antara lain akibat penyesuaian subsidi listrik dan kenaikan harga emas perhiasan yang ikut mendorong inflasi lokal. Ia meminta TPID mengantisipasi agar lonjakan harga komoditas tidak melebar dan menekan daya beli.
“Saya harap bahwa TPID ini dapat menjaga ketersediaan pangan, TPID juga mampu menstabilkan harga, dan ketiga melindungi daya beli masyarakat dan keempat meningkatkan kesejahteraan produsen,” pungkas Junda.
Kegiatan tersebut merupakan kerja sama Biro Ekonomi dan Pembangunan (Ekbang) Pemprov Sulbar dengan Bank Indonesia. Forum juga melibatkan TPID provinsi serta TPID kabupaten se-Sulawesi Barat.




