Ekonomi Sulbar Tumbuh 6,55 Persen (YoY) pada Triwulan IV 2025, Sawit Menguat namun Investasi dan Konstruksi Menahan
Mamuju – Perekonomian Sulawesi Barat (Sulbar) pada Triwulan IV 2025 tumbuh 6,55 persen (yoy), menguat dibanding Triwulan III 2025 sebesar 5,83 persen (yoy). Angka ini pun lebih tinggi dari pertumbuhan nasional Triwulan IV 2025 sebesar 5,39 persen (yoy).
Penguatan kinerja ini terutama ditopang sektor pertanian, khususnya sawit serta perbaikan ekspor dan konsumsi rumah tangga. Namun, kontraksi investasi Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) dan melemahnya sektor konstruksi masih menjadi faktor penahan. Sektor ini membatasi akselerasi pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.
Dari sisi lapangan usaha, KPw BI Sulbar mencatat pendorong utama pertumbuhan berasal dari lapangan usaha (LU) pertanian, LU perdagangan, dan LU administrasi pemerintahan. Penguatan LU pertanian didorong meningkatnya produksi tandan buah segar (TBS) seiring kenaikan berat janjang rata-rata sawit, serta dukungan subsektor lain seperti peternakan terutama ayam potong yang terdorong meningkatnya permintaan.
Perdagangan turut menguat sejalan dengan meningkatnya arus komoditas, khususnya yang terkait output perkebunan sawit dan komoditas tanaman pangan. Sementara itu, administrasi pemerintahan tumbuh seiring peningkatan realisasi belanja pegawai pada APBD dan APBN, termasuk dampak penambahan ASN melalui formasi PPPK di tingkat pusat maupun daerah.
Deputi Kepala KPw BI Sulbar, Erdi Fiat Gumilang memaparkan kontributor utama pertumbuhan ini dalam Sipakada Media dengan tema Sinergi dan Kolaborasi dengan Media dalam Rangka Diseminasi Perekonomian Terkini, di Noon Cafe Mamuju, Rabu (18/2).
“Pertanian tumbuh dari 3,74 persen menjadi 8,28 persen, sementara perdagangan juga mampu tumbuh dari 6,22 persen menjadi 8,43 persen. Ini merupakan faktor-faktor utama kenapa Sulbar bisa tumbuh lebih tinggi dari nasional,” ungkap Erdi Fiat Gumilang.
Dari sisi pengeluaran atau permintaan, BI mencatat sejumlah komponen yang berkontribusi pada peningkatan pertumbuhan adalah ekspor, konsumsi rumah tangga, serta konsumsi LNPRT. Kinerja ekspor ditopang oleh peningkatan produksi perkebunan semusim dan kontribusi industri kimia melalui komoditas arang serta minyak atsiri.
Sementara itu, konsumsi rumah tangga tumbuh lebih tinggi dan didominasi oleh kelompok makanan jadi. Kenaikan konsumsi juga terlihat pada komponen rekreasi serta akomodasi, seiring meningkatnya aktivitas perjalanan masyarakat pada akhir tahun.
Industri Pengolahan Melambat, Konstruksi Kontraksi
Meski pendorong pertumbuhan menguat, BI mencatat terdapat faktor penahan yang menyebabkan pertumbuhan tidak meningkat lebih tinggi. Dari sisi penawaran, LU industri pengolahan melambat, antara lain akibat melemahnya permintaan ekspor terhadap produk turunan CPO.
“Produksi turunan CPO melandai seiring normalisasi permintaan dari negara tujuan ekspor turunan CPO di akhir tahun 2025,” sebut Erdi Fiat Gumilang.
Selain itu, LU konstruksi juga mengalami kontraksi yang dipicu menurunnya realisasi belanja modal pada kelompok bangunan. Penurunan belanja modal pemerintah untuk proyek jalan, jembatan, dan irigasi serta kontraksi pada pengadaan semen turut memperlemah kinerja konstruksi.
Dari sisi pengeluaran, tekanan juga datang dari PMTB yang mengalami kontraksi, terutama pada PMTB bangunan. BI menilai pelemahan ini terkait dengan menurunnya belanja modal pemerintah sebagai dampak kebijakan efisiensi anggaran.
“Selain itu, konsumsi pemerintah juga masih mengalami kontraksi akibat berlanjutnya efek efisiensi, terutama pada komponen belanja barang dan jasa serta belanja modalm,” bebernya.
Ekonomi Menguat, Tapi Sensitif pada Siklus Komoditas
Struktur pertumbuhan tersebut menegaskan perekonomian Sulbar masih sangat bergantung pada sektor berbasis komoditas, khususnya sawit dan turunannya. Penguatan melalui kanal ekspor menunjukkan keterkaitan ekonomi daerah terhadap dinamika eksternal, terutama permintaan dan harga pasar global atas CPO. Meskipun struktur PDRB Sulbar tidak semata-mata berasal dari sawit.
Ke depan, penguatan investasi dan diversifikasi sumber pertumbuhan menjadi kunci agar pertumbuhan Sulbar lebih berimbang dan tidak terlalu bergantung pada siklus komoditas. Upaya ini sekaligus menjaga momentum ekonomi yang sudah menguat pada akhir 2025.



