Buka Akses Pasar dan Hilirisasi, DTPHP Sulbar Jajaki Kemitraan Strategis dengan Charoen Pokphand
Sulbar – Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat mulai mendorong penguatan hilirisasi dan akses pasar petani melalui penjajakan kemitraan strategis dengan industri besar.
Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura, dan Peternakan (DTPHP) Sulbar menggandeng PT Charoen Pokphand Indonesia untuk membangun ekosistem agribisnis terintegrasi, khususnya komoditas jagung dan sektor peternakan.
Langkah ini ditandai melalui pertemuan resmi yang berlangsung di kantor Feedmill PT Charoen Pokphand Indonesia, Makassar, Jumat, 3 April 2026. Pertemuan menghadirkan jajaran direksi perusahaan bersama tim DTPHP Sulbar yang dipimpin langsung Kepala DTPHP, Hamdani Hamdi.
Kolaborasi ini tidak sekadar membahas kerja sama biasa. Pemerintah daerah mendorong model kemitraan yang mampu menghubungkan rantai produksi dari hulu hingga hilir, sehingga petani dan peternak tidak lagi terjebak pada persoalan klasik, terutama akses pasar dan kepastian serapan hasil.
Dalam forum tersebut, pihak perusahaan memaparkan peluang kemitraan yang terbuka luas. Skema kerja sama meliputi pola direct farm hingga pengembangan jaringan agen atau poultry shop. Model ini memungkinkan keterlibatan berbagai pihak, mulai dari individu, koperasi, BUMDes, hingga badan usaha.
Secara pasar, peluang tersebut tergolong besar. PT Charoen Pokphand Indonesia menyebut kebutuhan jagung industri mencapai sekitar 600 ton per hari. Di sisi lain, mutu jagung petani Sulawesi Barat dinilai telah memenuhi standar industri, sehingga membuka ruang serapan yang lebih luas.
Kepala DTPHP Sulbar, Hamdani Hamdi, menegaskan komitmen pemerintah dalam mengawal penguatan sektor ini secara menyeluruh.
“Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat akan memberikan dukungan penuh terhadap penguatan agribisnis jagung dan peternakan dari hulu hingga hilir melalui berbagai kebijakan, program, dan kegiatan, baik yang bersumber dari APBD maupun APBN,” kata Hamdani.
“Kami ingin memastikan peluang kerja sama yang ditawarkan dapat dimanfaatkan secara optimal oleh petani dan peternak,” sambungnya.
Secara analitis, kemitraan dengan industri besar menjadi kunci dalam mempercepat transformasi sektor pertanian dan peternakan. Tanpa keterlibatan offtaker yang kuat, produksi petani kerap tidak terserap optimal.
Kepala Bidang Peternakan DTPHP Sulbar, Nur Kadar, menilai kerja sama ini akan memberi dampak langsung terhadap peningkatan kapasitas pelaku usaha di daerah.
“Melalui kemitraan dengan pihak industri seperti PT Charoen Pokphand Indonesia, kami berharap terjadi peningkatan akses pasar, pendampingan teknis, serta jaminan keberlanjutan usaha bagi peternak di Sulawesi Barat, khususnya pada sektor perunggasan yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan,” jelasnya.
Pertemuan ini sekaligus mempertegas arah kebijakan Pemprov Sulbar dalam kerangka Panca Daya yang menempatkan sektor pertanian dan peternakan sebagai penggerak ekonomi daerah.




