Gubernur Sulbar Target Event Budaya Bulan Mamase Tembus KEN, UMKM dan Budaya Jadi Andalan

waktu baca 3 menit

Mamasa — Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka mendorong event budaya “Bulan Mamase” naik kelas ke panggung nasional melalui Kharisma Event Nusantara (KEN). Ia menilai ajang ini memiliki kekuatan budaya dan potensi ekonomi yang layak bersaing secara nasional.

Dorongan itu disampaikan saat membuka Bulan Mamase di Tribun Lapangan Kondosapata, Mamasa, Senin (6/4/2026). Gubernur bahkan meminta pemerintah kabupaten segera mengajukan event tersebut ke Kementerian Pariwisata.

“Segera daftar ke KEN, nanti kita bantu. Tahun depan Pemprov juga akan dukung anggarannya,” ujar Suhardi Duka.

Ia menegaskan langkah itu harus masuk dalam perencanaan anggaran 2027. Gubernur juga mengingatkan jajaran terkait agar tidak mengabaikan hal tersebut.

“Ada dinas perwisata disini catat ini hari, kamu akan dimarahin oleh pak bupati kalau tidak masuk anggaran 2027,” ungkap Gubernur Suhardi Duka.

Suhardi menilai Bulan Mamase tidak sekadar agenda seremonial. Event ini memadukan kekuatan budaya dan peluang ekonomi. Parade dari 17 kecamatan menjadi bukti kekayaan tradisi yang masih terjaga kuat.

Menurutnya, identitas budaya menjadi fondasi penting pembangunan daerah. Ia mengapresiasi masyarakat Mamasa yang tetap mempertahankan tradisi, termasuk penggunaan busana sambu’.

“Siapa yang bangga dengan budayanya, berarti bangga dengan dirinya. Siapa yang mencintai budayanya, berarti mencintai daerahnya,” ucapnya.

Ia menyoroti peluang pengembangan tenun sambu’ agar menembus pasar lebih luas. Produk budaya, kata dia, harus beradaptasi tanpa kehilangan identitas.

“Kita perlu desain supaya bukan hanya orang Mamasa yang suka, tapi seluruh Indonesia juga tertarik memakai sambu’,” jelasnya.

Selain budaya, Gubernur menekankan penguatan sektor ekonomi melalui UMKM dan hilirisasi produk lokal. Ia menilai komoditas unggulan Mamasa seperti kopi, markisa, dan nenas belum dikelola optimal.

“Kopi Mamasa jangan dijual mentah. Harus sudah dalam bentuk bubuk, dikemas bagus, punya merek,” katanya.

Ia bahkan menggagas branding “kopi gubernur” untuk meningkatkan daya tarik pasar. Gubernur juga menyoroti rendahnya nilai jual nenas yang bisa diolah menjadi produk turunan.

“Kalau diolah, nilai tambahnya bisa berkali lipat. Ini yang perlu didorong,” pungkasnya.

Sementara itu, Bupati Mamasa Welem Sambolangi menegaskan Bulan Mamase menjadi agenda tahunan pemerintah daerah. Event ini berfungsi menjaga kearifan lokal sekaligus menggerakkan ekonomi warga.

Ia menyebut kegiatan berlangsung 6–30 April 2026 dengan melibatkan sedikitnya 48 pelaku UMKM lokal. Pemerintah juga membuka ruang bagi pelaku usaha kecil di sepanjang jalan utama selama kegiatan berlangsung.

“Dan kami juga membuka ruang bagi usaha-usaha kecil lainnya di sepanjang Jalan Poros di depan sampai tanggal 30 April yang akan datang. Mohon maaf kami memberi prioritas UMKM lokal Mamasa,”ujarnya.

Menurut Welem, event ini juga menjadi momentum memperkuat silaturahmi dan menarik diaspora untuk pulang kampung. Selain itu, ajang ini dimanfaatkan untuk mempromosikan pariwisata dan potensi sumber daya alam Mamasa.

“Harapan kami dalam event Bulan Mamase yang merupakan event tahunan yang senantiasa akan kita kerjakan kita laksanakan setiap tahun mohon dukungan dari Bapak Gubernur Provinsi Sulawesi barat dari Dinas Kebudayaan, Dinas Perwisata sehingga betul-betul event Bulan Mamasa bukan hanya milik orang Mamasa tapi akan menjadi milik Indonesia, bahkan dunia sekalipun,” pungkasnya.