Nafkah Warga Polman Tercekik Cuaca Ekstrem

waktu baca 4 menit

Oleh: Muh. Muhsin R
Anggota Dewan Daerah Walhi Sulawesi Barat

Cuaca ekstrem bukan lagi sekadar persoalan perubahan kondisi alam. Bagi masyarakat kecil di Polewali Mandar, dampaknya sudah menyentuh persoalan paling mendasar, yaitu sumber penghidupan.

Petani membutuhkan air untuk mempertahankan tanaman. Nelayan membutuhkan laut yang aman untuk mencari ikan. Ketika kekeringan, kebakaran lahan, dan cuaca laut ekstrem datang bersamaan, masyarakat kecil menjadi kelompok yang paling cepat merasakan dampaknya.

Sawah terancam gagal panen. Kebun kakao terbakar. Nelayan tradisional terpaksa menepi.

Ini bukan sekadar persoalan lingkungan. Ini adalah persoalan ekonomi, pangan, keselamatan, dan keberlangsungan hidup masyarakat.

Kekeringan membuat ketersediaan air untuk persawahan semakin terbatas. Jika berlangsung lebih lama, tanaman dapat mengalami kerusakan hingga gagal panen. Bagi petani kecil, gagal panen bukan sekadar kehilangan hasil pertanian. Itu berarti hilangnya pendapatan yang menjadi tumpuan keluarga.

Risiko semakin besar ketika lahan yang mengering berubah menjadi kawasan rawan kebakaran.

Kita bisa melihat salah satu contohnya pada kebun Usmar, 35 tahun, warga Desa Karombang, Kecamatan Bulo. Kebakaran menghanguskan sekitar 500 pohon kakao produktif pada lahan seluas kurang lebih 0,5 hektare.

Yang hilang bukan hanya pohon. Yang hilang adalah aset produktif dan sumber pendapatan keluarga. Pohon kakao yang telah produktif membutuhkan waktu panjang untuk tumbuh dan kembali menghasilkan jika diganti.

Karena itu, kerugian petani tidak dapat dihitung hanya berdasarkan nilai pohon yang terbakar. Ada kehilangan pendapatan untuk waktu yang panjang.

Di wilayah pesisir, persoalan lain muncul. Angin kencang dan kondisi laut ekstrem membuat nelayan tradisional sulit melaut. Bagi nelayan kecil yang menggunakan perahu tradisional dan bergantung pada hasil tangkapan harian, tidak melaut berarti tidak ada pendapatan yang dibawa pulang.

Tetapi kebutuhan rumah tangga tidak ikut berhenti ketika nelayan berhenti melaut. Kebutuhan pangan tetap ada. Anak tetap membutuhkan biaya pendidikan. Perahu membutuhkan perawatan. Bahan bakar tetap menjadi kebutuhan ketika nelayan kembali melaut.

Nelayan akhirnya menghadapi pilihan sulit. Melaut dalam kondisi ekstrem mengancam keselamatan. Tidak melaut mengancam ekonomi keluarga.

Dalam kondisi seperti ini, kita tidak bisa meminta masyarakat kecil hanya bersabar dan menunggu cuaca membaik. Pemerintah tidak boleh sekadar menunggu kekeringan berlalu atau berharap bahwa “Badai Pasti berlalu”.

Kita membutuhkan langkah nyata. Pemerintah harus memiliki sistem mitigasi yang bekerja sebelum kerugian terjadi. Bukan hanya bergerak setelah kebun terbakar, sawah gagal panen, atau nelayan kehilangan pendapatan.

Masyarakat yang terdampak membutuhkan perlindungan. Karena itu, pemerintah perlu menyiapkan skema Bantuan Langsung Khusus bagi masyarakat yang kehilangan sumber penghidupan akibat kekeringan dan cuaca ekstrem.

Ini bukan persoalan memanjakan masyarakat dengan bantuan. Ini adalah bentuk perlindungan sosial ketika masyarakat kehilangan kemampuan memperoleh pendapatan akibat kondisi yang berada di luar kendali mereka.

Kekeringan yang menyebabkan gagal panen dan kebakaran lahan dapat memberikan dampak serius terhadap kehidupan masyarakat, sama seperti bencana lain yang merusak sumber penghidupan warga.

Pemerintah juga harus turun langsung. Bukan hanya ke pusat-pusat pemerintahan, tetapi ke desa-desa pesisir, pulau-pulau, persawahan, dan kawasan perkebunan pegunungan.

Ketersediaan air bersih harus dijamin. Pasokan air untuk persawahan dan perkebunan harus diperhatikan. Masyarakat yang kehilangan tanaman akibat kebakaran membutuhkan perlindungan dan dukungan pemulihan.

Nelayan kecil yang tidak dapat melaut membutuhkan jaminan keselamatan sekaligus perlindungan ekonomi.

Ketersediaan BBM bersubsidi juga harus dijaga agar nelayan dapat kembali menjalankan aktivitas ketika kondisi laut sudah memungkinkan. Kita harus melihat persoalan ini secara utuh.

Ketika petani kehilangan panen, dampaknya tidak berhenti pada petani. Ketahanan pangan ikut terpengaruh.

Ketika nelayan berhenti melaut, yang hilang bukan hanya pendapatan nelayan. Pasokan hasil laut dan ekonomi masyarakat pesisir juga ikut terdampak.

Ketika kebun kakao terbakar, yang hilang bukan sekadar tanaman. Ada investasi, tenaga, waktu, dan masa depan ekonomi keluarga yang ikut terbakar.

Karena itu, kekeringan, kebakaran lahan, dan cuaca ekstrem tidak boleh lagi dipandang sebagai persoalan musiman yang cukup ditunggu sampai berlalu.

Perubahan cuaca harus kita jawab dengan kebijakan yang lebih siap.

Pemerintah harus memiliki data masyarakat rentan, peta wilayah rawan, sistem peringatan dini, dukungan air untuk pertanian, perlindungan sosial bagi warga terdampak, serta skema pemulihan bagi mereka yang kehilangan sumber pendapatan.

Kita memang tidak dapat mengendalikan hujan. Kita tidak dapat menghentikan angin.

Kita juga tidak dapat memerintah laut agar selalu tenang. Tetapi pemerintah dapat memastikan masyarakat tidak menghadapi dampak cuaca ekstrem seorang diri.

Petani membutuhkan air. Nelayan membutuhkan laut yang aman. Masyarakat membutuhkan perlindungan.

Dan negara harus hadir bukan setelah rakyat kehilangan semuanya, tetapi sebelum kerugian itu menjadi semakin dalam.

Sebab ketika sawah gagal panen, kebun terbakar, dan nelayan tidak bisa melaut, yang sedang dipertaruhkan bukan hanya pendapatan hari ini.

Yang sedang dipertaruhkan adalah keberlangsungan hidup masyarakat kecil.

error: Konten Ini Dilindungi !!!
Putar suara