Agenda Keagamaan Dipermantap, Pamkesra Sulbar Bidik Akuntabilitas dan Dampak Nyata
Mamuju – Biro Pemerintahan dan Kesejahteraan (Pemkesra) Setda Sulbar mulai merapikan strategi pelaksanaan subkegiatan hari-hari besar keagamaan.
Upaya itu tampak dalam rapat rencana kerja pada Rabu (28/1). Pertemuan internal itu untuk mematangkan arah program agar tepat sasaran dan terasa manfaatnya bagi warga.
Rapat itu membahas berbagai aspek krusial. Di antaranya memastikan rangkaian kegiatan keagamaan berjalan efektif dan tertib, tanpa terjebak rutinitas seremonial.
Pemkesra menilai hari besar keagamaan bukan sekadar agenda kalender. Melainkan ruang intervensi sosial. Agenda itu untuk merawat kerukunan, memperkuat nilai spiritual, dan menambal retak kohesi sosial di wilayah yang majemuk.
Kepala Biro Pemkesra Setda Sulbar, Murdanil, menegaskan rapat ini menjadi titik kontrol agar program tersusun jelas, terbuka, dan sejalan dengan prioritas daerah.
“Melalui rapat ini, kita mematangkan seluruh perencanaan sub kegiatan hari-hari besar keagamaan agar pelaksanaannya berjalan optimal, akuntabel, serta mampu mendukung pembinaan kehidupan keagamaan dan penguatan kerukunan umat di Sulawesi Barat,” kata Murdanil.
Ia juga menekankan Pemkesra akan memperkuat kerja lintas perangkat daerah dan melibatkan para pemangku kepentingan terkait. Targetnya, pelaksanaan kegiatan bergerak inklusif, berkesinambungan, dan menghasilkan dampak sosial yang terukur. Bukan sekadar ramai di hari H lalu sunyi setelahnya.
Di internal Pemprov, rapat ini juga menjadi pintu masuk untuk menyelaraskan program dengan arah pembangunan Sulbar yang mengusung nilai religius dan kebersamaan dalam kerangka “Pancadaya” Gubernur dan Wakil Gubernur Sulbar, Suhardi Duka dan Salim S. Mengga.
Dalam konteks itu, kegiatan keagamaan diposisikan sebagai instrumen penguatan karakter masyarakat sekaligus perekat harmoni sosial.
Pemkesra berharap, setelah pembahasan rencana kerja ini, seluruh kegiatan hari besar keagamaan di Sulawesi Barat berlangsung lancar, tertib, dan meninggalkan jejak manfaat yang tidak berhenti pada dokumentasi kegiatan, tetapi terasa di kehidupan sehari-hari masyarakat.





