Ancaman Banjir Mengintai, BPBD Sulbar Desak Kabupaten Siapkan Rencana Kontinjensi

waktu baca 2 menit

Mamuju — Banjir sering datang tanpa kompromi. Curah hujan tinggi, luapan sungai, lalu genangan merambat cepat ke permukiman.

Saat air sudah naik, waktu untuk berpikir menyempit. Karena itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Barat menekan satu pesan penting kepada pemerintah kabupaten. Siapkan Rencana Kontinjensi (Renkon) Banjir yang matang sebelum keadaan darurat terjadi.

BPBD Sulbar menilai dokumen Renkon bukan sekadar formalitas administrasi. Dokumen ini menjadi “peta tempur” yang menentukan siapa melakukan apa, kapan bergerak, ke mana warga harus evakuasi, dan bagaimana logistik sampai tanpa tersendat.

Kepala Pelaksana BPBD Sulbar, Muhammad Yasir Fattah menegaskan penyusunan Renkon Banjir merupakan tindak lanjut arahan Gubernur Sulbar Suhardi Duka. Ia meminta seluruh perangkat daerah meningkatkan kesiapsiagaan dan memperkuat respons cepat menghadapi potensi bencana hidrometeorologi.

“Rencana Kontinjensi Banjir ini menjadi pedoman bersama lintas perangkat daerah, TNI-Polri, relawan, serta masyarakat dalam upaya mitigasi, kesiapsiagaan, tanggap darurat hingga pemulihan pascabencana. Kita ingin memastikan setiap unsur memahami peran dan tanggung jawabnya,” ujar Yasir Fattah, Rabu (18/2/2026).

Menurut BPBD, dokumen Renkon memuat pilar-pilar krusial: pemetaan risiko wilayah rawan banjir, penetapan skenario kejadian berdasarkan tingkat ancaman, sistem peringatan dini, rencana kebutuhan dan distribusi logistik, hingga penentuan jalur evakuasi dan lokasi pengungsian. Dengan struktur yang jelas, respons dapat berjalan cepat, tepat, dan terkoordinasi. Bukan bergerak spontan tanpa kendali.

BPBD Sulbar juga menekankan faktor manusia sebagai kunci keselamatan. Sebagus apa pun rencana di atas kertas, dampaknya akan kecil jika warga tidak memahami langkah penyelamatan diri.

Karena itu, BPBD memperkuat edukasi kebencanaan lewat sosialisasi, simulasi, dan penyebaran informasi kesiapsiagaan agar masyarakat tahu apa yang harus dilakukan saat banjir datang.

“Kita tidak hanya fokus pada penanganan saat bencana terjadi, tetapi juga pada upaya pencegahan dan pengurangan risiko. Kolaborasi dan komitmen bersama menjadi kunci mewujudkan Sulawesi Barat yang tangguh dan siap menghadapi banjir,” tegas Yasir Fattah.

error: Content is protected !!
Play sound