BPBD Sulbar Pasang Tameng dari Desa, Destana Didorong Jadi Garda Depan, Kelompok Rentan Ikut Terlindungi

waktu baca 2 menit

Mamuju – Bencana tidak pernah memberi aba-aba. Ia bisa datang saat warga tidur, bekerja, atau berkendara. Karena itu, BPBD Sulbar memilih memperkuat pertahanan dari titik paling dasar, yakni desa dan kelurahan.

Program Desa/Kelurahan Tangguh Bencana (Destana) terus BPBD dorong agar masyarakat bukan hanya tahu risiko, tetapi juga siap bertindak saat keadaan darurat.

Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Sulbar, Muhammad Yasir Fattah menegaskan pengembangan Destana menjadi tindak lanjut arahan Gubernur Sulbar untuk memperkuat ketahanan daerah mulai dari akar. Menurut dia, ketangguhan tidak cukup hanya tampak pada bangunan atau fasilitas, tetapi juga harus hidup dalam cara pikir warga.

“Ketangguhan tidak hanya diukur dari infrastruktur yang berdiri kokoh, tetapi juga dari pengetahuan, kesiapsiagaan, dan kepedulian warganya. Desa dan kelurahan harus menjadi garda terdepan dalam upaya pengurangan risiko bencana,” ujar Yasir Fattah, Rabu (18/2).

BPBD Sulbar menyiapkan Destana sebagai paket penguatan kapasitas yang menyentuh langsung warga. Program ini mencakup pelatihan kebencanaan, penyusunan rencana evakuasi mandiri, pembentukan relawan desa, hingga pengembangan sistem peringatan dini berbasis kearifan lokal. BPBD juga mendorong kolaborasi lintas sektor agar penanganan bencana tidak berjalan sendiri-sendiri.

Menurut Yasir, sinergi harus melibatkan banyak unsur: pemerintah daerah, TNI-Polri, relawan, dunia usaha, dan komunitas. Semakin kuat jejaring, semakin cepat respons, dan semakin kecil peluang korban berjatuhan.

Pada sisi lain, BPBD menekankan aspek perlindungan sosial dalam konsep Destana. Yasir menyebut desa dan kelurahan harus berfungsi sebagai ruang aman bagi semua lapisan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penyandang disabilitas. Dalam situasi darurat, kelompok rentan sering menjadi pihak yang paling terdampak. Karena itu, kesiapsiagaan perlu menyertakan mereka sejak tahap perencanaan.

Yasir menilai kesiapan warga yang terbangun sejak dini dapat menekan dampak bencana sekaligus mempercepat pemulihan. Ia menekankan gotong royong sebagai tenaga utama di lapangan, karena bantuan pertama hampir selalu datang dari orang-orang terdekat.

“Semangat gotong royong dan kebersamaan menjadi fondasi utama dalam mewujudkan Sulawesi Barat yang tangguh. Ketika masyarakat memahami risiko dan tahu apa yang harus dilakukan, maka kita telah selangkah lebih maju dalam melindungi daerah ini dari ancaman bencana,” tutup Yasir Fattah.

error: Content is protected !!
Play sound