Dispusip Mamuju Pantik Nalar Kritis Anggota Pramuka Lewat Bedah Buku
Mamuju – Home Theater Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Mamuju bergelora dengan kehadiran 50 anggota pramuka se-Sulawesi Barat, Kamis, 21 Agustus 2025.
Mereka datang bukan untuk berbaris, melainkan untuk membongkar tumpukan ide lewat sebuah acara bedah buku yang menggebrak nalar.
Dengan tajuk “Quo Vadis Pendidikan?”, diskusi kali ini benar-benar menantang para peserta untuk bertanya: ke mana arah pendidikan kita hari ini? Dua buku radikal menjadi pedoman: “Nalar Kritis Pendidikan” karya Dr. M. Arfan Mu’ammar, dan “Pendidikan Kaum Tertindas” dari filsuf legendaris Paulo Freire. Kedua buku ini dipilih bukan tanpa alasan, melainkan untuk membekali para Pramuka dengan ‘senjata’ baru—kemampuan untuk berpikir kritis dan membaca realitas di balik kurikulum.
Dua pembicara kunci, Muh. Zakir Akbar, seorang pemerhati pendidikan, dan Syafri Arifuddin, pegiat literasi, bersepakat: pendidikan tidak seharusnya hanya mencetak robot pekerja. Menurut mereka, sekolah harus menjadi tempat di mana siswa didorong untuk berani mempertanyakan, tidak takut menghadapi tantangan, dan menjadi agen perubahan.
Kepala Dispusip Mamuju, M. Fausan Basir, turut menekankan pentingnya hal ini. “Dengan bedah buku seperti ini, kami ingin menyalakan kesadaran bahwa membaca adalah kunci. Dari sana, nalar kritis akan tumbuh, dan itu adalah modal utama untuk memajukan pendidikan kita,” ucap Fausan.
Para peserta dari Saka Pramuka menyambut acara ini dengan antusias. Mereka merasa mendapatkan amunisi baru untuk menjadi agen perubahan, tidak hanya di barisan Pramuka, tetapi juga di sekolah dan lingkungan mereka.
Melalui kegiatan ini, Dispusip Mamuju berharap dapat terus mengobarkan semangat literasi, menjadikan buku bukan hanya sebagai sumber pengetahuan, tetapi juga sebagai alat untuk membangun generasi muda Sulawesi Barat yang lebih cerdas dan bermartabat.






