Dualisme Berakhir, GMNI Sulbar Kembali Satu Nafas
Mateng – Dua kepemimpinan DPD Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Provinsi Sulawesi Barat sepakat mengakhiri dualisme dan bergerak menuju satu barisan.
Kesepakatan itu menguat dalam rapat konsolidasi pra-Konferda Persatuan GMNI Sulbar di Topoyo, Kabupaten Mamuju Tengah, Jumat (23/1). Komitmen itu mengakhiri konflik internal panjang yang menggerus ritme organisasi.
Forum itu mengusung tema “Vis Unita Fortior, GMNI Sulbar Adaptif, Berkarakter, dan Menangkap Zaman”. Pengurus DPD dan DPC se-Sulawesi Barat hadir. Termasuk GMNI Mamuju, Majene, dan Mamuju Tengah.
DPC GMNI Mamuju Tengah yang menjadi tuan rumah. Ketuanya Gibran Adhi Putra menegaskan, wilayahnya siap menjadi ruang pemersatu pasca dinamika panjang.
“Atas nama keluarga besar GMNI Mamuju Tengah, kami mengucapkan selamat datang di Bumi Lallatassisara, tanah persatuan, tanah perjuangan, dan tanah harapan. Kehadiran seluruh kader GMNI Sulbar di Mamuju Tengah menjadi energi untuk kembali merawat persatuan dan marhaenisme,” ujar Gibran.
Gibran mengingatkan, pra-Konferda harus memulihkan energi ideologis, bukan memperpanjang garis pertentangan.
“Pra Konferda ini harus menjadi ruang pemersatu, bukan pemisah. GMNI Sulbar harus adaptif terhadap zaman tanpa kehilangan jati diri ideologisnya,” tegasnya.
Ketua DPD GMNI Sulawesi Barat, Nur Alamsyah menyebut, konsolidasi sebagai langkah awal agar Konferda Persatuan berjalan tertib dan bermartabat.
“Konsolidasi ini adalah langkah awal memastikan Konferda Persatuan GMNI Sulbar berjalan dalam semangat kebersamaan dan kedewasaan berorganisasi. GMNI harus tetap kokoh sebagai organisasi kader dan organisasi perjuangan,” katanya.
Ia meminta seluruh DPC menahan ego kelompok dan mengutamakan dialog dalam setiap keputusan.
Persatuan Bukan Sekedar Slogan
Ketua DPD GMNI Sulawesi Barat lainnya, Sugiarto Alberth, menegaskan persatuan bukan sekadar slogan. Persatuan adalah prasyarat agar GMNI tetap punya daya jawab terhadap persoalan rakyat di Sulbar.
“Vis Unita Fortior bukan sekadar slogan. Persatuan adalah kekuatan utama GMNI. Kita ingin GMNI Sulbar berkarakter, progresif, dan tetap berpihak pada realitas sosial rakyat Sulawesi Barat,” ungkap Sugiarto.
Ia berharap konsolidasi melahirkan kesepahaman. Tidak lain agar Konferda Persatuan berlangsung demokratis dan tidak meninggalkan nilai marhaenisme.
Rapat pra-Konferda berakhir dengan komitmen bersama untuk menjaga persatuan organisasi dan memperkuat konsolidasi ideologis. Setelah kesepakatan itu, tantangan GMNI Sulbar bukan lagi soal “dua kubu”, melainkan membuktikan persatuan bekerja dalam keputusan, kaderisasi, dan kerja sosial di lapangan.




