Inflasi YoY Sulbar Naik 4,02 Poin Persentase, Harga Barang dan Jasa Lebih Tinggi

waktu baca 2 menit
Suasana rilis perkembangan Indeks Harga Konsumen tahun 2026 oleh Badan Pusat Statistik (BPS) Sulbar.

Mamuju – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Barat mencatat inflasi year-on-year (y-on-y) pada Januari 2026 sebesar 4,34 persen. Angka ini lebih tinggi dibanding inflasi y-on-y Januari 2025 sebesar 0,32 persen, atau meningkat 4,02 poin persentase.

Dengan kata lain, harga barang dan jasa pada Januari 2026 secara rata-rata lebih tinggi 4,34 persen daripada Januari 2025. Perkembangan harga tersebut disampaikan dalam rilis resmi BPS Sulbar pada Senin (2/2).

Selain secara tahunan, BPS Sulbar juga mencatat inflasi month-to-month (m-to-m) pada Januari 2026 sebesar 0,71 persen atau meningkat dibanding Desember 2025.

Sementara inflasi year-to-date (y-to-d) pada Januari 2026 juga sebesar 0,71 persen. Hal ini terjadi karena Januari merupakan bulan pertama tahun berjalan, sehingga akumulasi inflasi sejak awal tahun masih sama dengan inflasi bulanan.

“Pada Januari 2026 terjadi inflasi y-on-y Provinsi Sulawesi Barat sebesar 4,34 persen dengan Indeks Harga Konsumen (IHK) sebesar 110,21,” kata Kepala BPS Sulbar, Suri Handayani.

Sementara itu, inflasi tertinggi terjadi di Kabupaten Mamuju pada Januari 2026 sebesar 6,94 persen dengan IHK 111,93. Angka ini lebih tinggi dibanding inflasi y-on-y Mamuju Januari 2025 sebesar 1,37 persen, atau meningkat 5,57 poin persentase. IHK Mamuju juga meningkat dari 104,67 pada Januari tahun sebelumnya menjadi 111,93, atau naik 7,26 poin indeks.

Sebaliknya, inflasi terendah terjadi di Kabupaten Majene sebesar 2,69 persen dengan IHK 109,10. Pada Januari 2025, Majene mengalami deflasi y-on-y sebesar 0,34 persen dengan IHK 106,24.

Dengan demikian, laju inflasi y-on-y Majene pada Januari 2026 lebih tinggi 3,03 poin persentase dibanding Januari 2025. Sementara IHK Majene meningkat 2,86 poin indeks dari 106,24 menjadi 109,10.

“Inflasi y-on-y terjadi karena adanya kenaikan harga yang ditunjukkan oleh naiknya indeks kelompok pengeluaran,” ungkap Suri Handayani.

Tiga Kelompok Pengeluaran Tertinggi

Dari total 11 kelompok pengeluaran dalam IHK, terdapat 8 kelompok yang mengalami peningkatan indeks. Kenaikan indeks tertinggi terjadi pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga (12,68 persen), diikuti kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya (7,96 persen), serta kelompok makanan, minuman, dan tembakau (4,81 persen).

Suri Handayani menjelaskan, komoditas yang memberikan andil terhadap inflasi y-on-y pada Januari 2026 cukup beragam. Dari kelompok perikanan, komoditas yang tercatat antara lain ikan layang, cakalang, tuna, bandeng, tongkol, kembung, dan selar.

“Sementara itu, komoditas lainnya yang memberi andil antara lain tarif listrik, beras, emas perhiasan, bawang merah, sigaret kretek mesin (SKM), sigaret putih mesin (SPM), asam, telur ayam ras, bayam, pemeliharaan/servis, daging ayam ras, ayam hidup, dan kelapa,” pungkasnya.

error: Content is protected !!