Kapolda Sulbar Kerahkan Pasukan Gabungan Selama Ramadan: Sasar Curanmor, SOTR hingga Titik Rawan Takjil

waktu baca 3 menit

Mamuju — Polda Sulbar menggelar apel siaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) untuk mengamankan aktivitas warga selama Ramadan 1447 H.

Apel berlangsung di Lapangan Tribrata Mapolda Sulbar, Jumat (27/2/26), dengan melibatkan lintas instansi dan organisasi kemasyarakatan.

Barisan pasukan gabungan hadir lengkap. Selain TNI-Polri, tampak unsur Basarnas, Dinas Perhubungan, Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Senkom, KBPPP, Kokam, Pemuda Pancasila, hingga Banser. Kehadiran mereka menandai pola pengamanan yang mengandalkan kolaborasi, bukan kerja tunggal.

Kapolda Sulbar Irjen Pol Adi Deriyan Jayamarta membuka amanat dengan ucapan selamat menjalankan ibadah puasa. Ia menekankan Ramadan sebagai momentum memperkuat silaturahmi sekaligus menegakkan integritas dalam tugas.

Namun, inti pesannya tegas: stabilitas keamanan menjadi syarat utama warga bisa beribadah tanpa rasa cemas, dan roda sosial-ekonomi tetap bergerak. Kapolda mengingatkan, apel siaga tidak boleh berhenti sebagai agenda rutin, tetapi harus berujung pada kerja nyata di lapangan.

“Keamanan, kenyamanan dan ketertiban masyarakat merupakan fondasi utama kelancaran pembangunan dan aktivitas sosial. Apel siaga hari ini bukan sekadar seremonial, melainkan wujud nyata kesiapsiagaan dan komitmen kita semua untuk menjamin rasa aman bagi seluruh lapisan masyarakat di Provinsi Sulawesi Barat,” tutur Kapolda.

Ia menilai Ramadan mengubah pola hidup warga secara drastis. Aktivitas padat sejak dini hari hingga malam hari berpotensi memunculkan celah gangguan kamtibmas bila aparat lengah. Karena itu, Kapolda meminta personel hadir lebih terlihat, lebih cepat merespons, dan lebih presisi membaca risiko.

“Ketika masyarakat beristirahat, kita bekerja. Ketika masyarakat beribadah dengan khusyuk, kitalah yang tetap berjaga. Kita harus menguatkan tekad dalam satu misi mulia dengan menjadi benteng keamanan dan penyejuk hati bagi masyarakat di bualan Ramadan,” tegasnya.

Kapolda juga menekankan bahwa atribut kedinasan bukan sekadar pakaian kerja, melainkan simbol kehadiran negara yang warga harapkan saat situasi rawan muncul.

“Seragam yang kita kenakan adalah simbol harapan dan jaminan masyarakat bahwa negara hadir di setiap tarikan nafas warga yang menjalankan ibadah,” tuturnya.

Dalam arahannya, Kapolda merinci langkah prioritas yang harus berjalan selama Ramadan. Ia meminta penguatan intelijen dan sistem peringatan dini untuk memotong gangguan sejak awal, bukan sekadar merespons setelah kejadian terjadi.

Selain itu, ia memberi perhatian khusus pada simpul ekonomi dan logistik rakyat yang biasanya ramai selama Ramadan.

Kapolda juga meminta patroli intensif pada jam-jam krusial dengan menyasar titik rawan yang selama ini kerap luput pengawasan. Waktu ngabuburit, misalnya, rawan macet dan gesekan di pasar tumpah atau sentra takjil.

Saat tarawih, ia menyorot area parkir masjid sebagai titik rentan pencurian kendaraan bermotor. Sementara waktu sahur, ia mendorong patroli gabungan skala besar untuk mencegah potensi Sahur on The Road (SOTR) yang berujung anarkis.

Di sisi lain, Kapolda menggarisbawahi pendekatan humanis. Ia meminta personel menyesuaikan cara bertugas dengan kondisi warga yang menahan lapar dan dahaga.

Ia mendorong senyum, sapaan, dan salam sebagai standar pelayanan. Untuk pelanggaran lalu lintas ringan, ia mengarahkan edukasi yang menenangkan, bukan pendekatan yang memicu emosi.

Terakhir, Kapolda mengingatkan pentingnya sinergi lintas sektor “tanpa batas.” Ia menilai keamanan selama Ramadan tidak mungkin lahir dari satu institusi saja. Karena itu, ia meminta koordinasi aktif dengan tokoh agama, pemuda, hingga organisasi masyarakat agar pengamanan berjalan menyeluruh dan berlapis.

Play sound