Kejar Eliminasi TBC, Pemprov Sulbar Bentuk Desa Siaga sebagai Sistem Deteksi Dini Berbasis Warga
Sulbar – Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat menggeser fokus penanganan tuberkulosis (TBC) dari pendekatan klinis semata menuju strategi berbasis komunitas.
Langkah itu muncul lewat penguatan Desa Siaga TBC sebagai garda terdepan deteksi dini, pendampingan pasien, dan edukasi pencegahan.
Pemprov menilai, tanpa kontrol dari tingkat desa, upaya eliminasi berisiko tersendat karena kasus kerap terlambat terdeteksi dan kepatuhan pengobatan masih rapuh.
Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Sulawesi Barat menggelar Pertemuan Koordinasi Pengembangan Desa Siaga TBC di Aula Andi Depu DKPPKB Sulbar, kemarin.
Forum ini menajamkan koordinasi lintas program sekaligus membangun kesepahaman lintas sektor agar intervensi berjalan seragam sampai level desa.
Program tersebut juga mengikuti arah pembangunan daerah melalui konsep Panca Daya yang menitikberatkan penguatan sumber daya manusia unggul dan berkarakter pada era kepemimpinan Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka.
Pemprov menempatkan isu TBC sebagai tantangan kesehatan publik yang berpengaruh langsung pada kualitas hidup, produktivitas, dan beban sosial ekonomi keluarga.
Pertemuan itu menyasar tiga agenda utama, yakni menyamakan persepsi, menyusun strategi bersama, dan memperkuat sinergi lintas sektor untuk pengembangan Desa Siaga TBC yang berkelanjutan di seluruh kabupaten.
Pengelola Program TBC Provinsi Sulawesi Barat, Harsalim, memaparkan materi pengembangan Desa Siaga TBC. Ia menekankan deteksi dini, pendampingan pasien berkelanjutan, dan peran aktif warga desa sebagai kunci keberhasilan eliminasi.
Dalam praktiknya, desa berfungsi sebagai “radar awal” karena warga paling cepat mengenali gejala dan perubahan kondisi sosial di lingkungannya.
Kepala DKPPKB Sulawesi Barat, dr. Nursyamsi Rahim, menegaskan program tersebut menjadi bagian dari implementasi Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) yang pemerintah pusat dorong untuk mempercepat peningkatan layanan kesehatan.
“Pengembangan Desa Siaga TBC adalah wujud komitmen bersama dalam mempercepat penanganan tuberkululosis berbasis komunitas. Program ini memastikan intervensi kesehatan menjangkau hingga tingkat desa, sehingga pencegahan dan pengendalian TBC dapat berjalan lebih efektif,” kata Nursyamsi Rahim.
Sementara itu, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit serta Kesehatan Lingkungan DKPPKB Sulbar, dr. Muh. Ihwan, menilai Desa Siaga TBC memperkuat pembinaan wilayah karena pendekatan kerja menjadi lebih terukur dan terintegrasi. Ia menekankan, eliminasi tidak cukup mengandalkan layanan kuratif, tetapi menuntut edukasi dan pemberdayaan warga agar rantai penularan terputus.
“Melalui Desa Siaga TBC, pembinaan wilayah menjadi lebih terarah dan terintegrasi. Kita tidak hanya fokus pada pengobatan, tetapi juga penguatan edukasi, pencegahan, dan pemberdayaan masyarakat,” jelasnya.
Dengan model Desa Siaga TBC, Pemprov Sulbar menargetkan respons lebih cepat pada temuan kasus, dukungan lebih kuat untuk kepatuhan minum obat, serta pelibatan lintas sektor agar pencegahan berjalan konsisten. Pemprov berharap desa mampu menjadi benteng pertama sekaligus pusat gerak bersama melawan TBC.



