Kotak Amal Masjid Kerap Jadi Sasaran Pencurian, Kesbangpol Sulbar Minta Pengawasan Diperketat Selama Ramadan
Sulbar — Gelombang pembobolan kotak amal pada sejumlah masjid di Sulawesi Barat memantik alarm sosial. Aksi ini bukan sekadar pencurian, tetapi serangan terhadap ruang ibadah yang seharusnya aman dan dihormati.
Pemerintah daerah pun mendorong pengurus masjid dan warga memperketat kewaspadaan, terutama memasuki Ramadan saat aktivitas ibadah meningkat.
Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Sulawesi Barat menilai pengawasan yang longgar sering memberi celah bagi pelaku. Kepala Kesbangpol Sulbar Darwis Damir meminta pengurus masjid memperkuat kontrol atas kotak amal dan lebih peka terhadap gerak-gerik orang tidak dikenal di sekitar masjid.
“Pengurus masjid dan masyarakat diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan, terutama terhadap kotak amal dan aktivitas orang yang tidak dikenal di sekitar lingkungan masjid,” kata Darwis.
Darwis menegaskan, imbauan ini sejalan dengan arahan Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka serta mandat Kesbangpol dalam deteksi dini guna menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), terutama pada ruang sosial-keagamaan. Kesbangpol, kata dia, berkepentingan mencegah gangguan yang menimbulkan keresahan dan memicu ketidaknyamanan warga saat beribadah.
Menurut Darwis, upaya pencegahan perlu bergerak dari sekadar reaksi setelah kejadian menuju langkah antisipatif. Kesbangpol memantau potensi gangguan keamanan sekaligus membangun koordinasi dengan pemerintah daerah, aparat keamanan, dan elemen masyarakat agar kasus serupa tidak berulang.
“Melalui fungsi deteksi dini dan kewaspadaan masyarakat, kami mengingatkan agar pengurus masjid memperkuat sistem pengamanan, misalnya dengan menempatkan kotak amal di lokasi yang mudah diawasi, melakukan penguncian yang lebih baik, serta mempertimbangkan pemasangan kamera pengawas atau CCTV,” ujarnya.
Selain penguatan pengamanan fisik, Darwis mendorong warga aktif menjaga lingkungan. Ia meminta masyarakat segera melapor kepada aparat keamanan atau pemerintah setempat jika menemukan aktivitas mencurigakan. Menurutnya, respons cepat warga sering menjadi pembeda antara pencegahan dan keterlambatan penanganan.
Darwis menekankan, partisipasi publik menjadi faktor kunci menjaga situasi tetap kondusif, terutama pada Ramadan ketika masjid lebih ramai. Pada momentum itu, pelaku kejahatan kerap memanfaatkan kelengahan karena pengurus fokus pada aktivitas ibadah dan pelayanan jamaah.
“Kesbangpol akan terus berkoordinasi dengan berbagai pihak guna menjaga stabilitas keamanan dan ketertiban masyarakat di Sulawesi Barat agar tetap aman, nyaman, dan kondusif,” pungkasnya.





