Kursi Kepala BPS Sulbar Berganti, Suri Handayani Ambil Alih
Jakarta – Badan Pusat Statistik (BPS) RI menempatkan wajah baru di pucuk pimpinan BPS Sulbar. Suri Handayani resmi menjabat usai pelantikan di Jakarta, Senin (20/1).
Kepala BPS RI, Amalia Adininggar Widyasanti memimpin pelantikan yang juga mengisi sejumlah kursi strategis di tubuh BPS. Di momentum itu, Amalia menautkan pergantian jabatan dengan agenda besar penguatan tata kelola data.
“Pelantikan ini merupakan bagian dari upaya penguatan tata kelola statistik nasional, peningkatan kualitas data, serta percepatan transformasi statistik yang adaptif terhadap kebutuhan pembangunan,” kata Amalia.
BPS menuntut pimpinan baru menjaga kualitas statistik yang menjadi rujukan perencanaan dan evaluasi pembangunan. Tekanan kerja tidak kecil. Data harus cepat, akurat, dan relevan, sementara kebutuhan pemerintah daerah semakin spesifik.
BPS menekankan tanggung jawab pejabat yang baru dilantik agar menjaga integritas dan profesionalisme. Lembaga ini ingin memastikan statistik resmi tetap menjadi pijakan kebijakan, bukan sekadar pelengkap laporan.
Pelantikan ini tidak hanya mengisi kursi Kepala BPS Sulbar. Amalia melantik 49 pejabat lain di jajaran pusat hingga provinsi, mencakup Sekretaris Utama, deputi, direktur, inspektur, kepala biro, dan kepala BPS provinsi di berbagai wilayah. BPS mengarahkan rotasi ini untuk memperkuat organisasi yang adaptif dan fokus pada mutu data.

Rekam Jejak Panjang Lintas Wilayah
Suri Handayani lahir di Semarang, 9 Maret 1974. Ia memulai karier di BPS sejak 1998 dan menapaki berbagai jabatan dari level kabupaten hingga provinsi.
Sebelum memimpin BPS Sulawesi Barat, Suri bertugas sebagai Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Sulawesi Selatan. Ia juga pernah memegang peran analisis strategis, termasuk Kepala Bidang Neraca Wilayah dan Analisis Statistik di BPS Sulawesi Selatan dan Gorontalo. Pengalaman lapangannya terbentuk dari penugasan di BPS Kabupaten Soppeng dan Pohuwato.
Suri mengantongi pendidikan Diploma Ilmu Statistik, Sarjana Statistik, dan Magister Pengelolaan Lingkungan Hidup dari Universitas Hasanuddin. Kombinasi ini menempatkannya pada titik temu penting: ketelitian angka sekaligus konteks pembangunan.
Sulbar Jadi Panggung Ujian
Penempatan Suri di Sulawesi Barat membawa ekspektasi. BPS Sulbar harus mampu memperkuat statistik sektoral, mendorong literasi data, dan memastikan pemerintah daerah memakai data sebagai dasar keputusan.
Tantangan paling nyata bukan pada seremoni pelantikan, melainkan pada konsistensi pengawalan data—dari pengumpulan, pengolahan, hingga penyajian—agar publik dan pemda tidak bergerak berdasarkan asumsi.





