Massa dan Aparat Adu Serangan di Gerbang Perwakilan Rakyat
Aksi demonstrasi di gerbang Gedung DPRD Sulbar mendadak mencekam. Gelombang kritik yang semula kondusif beringsut impulsif. Massa dan petugas saling bertukar serangan di tengah kegaduhan.
Pengunjuk rasa melayangkan batu, kayu, hingga ban bekas. Sebaliknya, polisi bertalu-talu melecutkan amunisi gas air mata. Ratusan jiwa kalang kabut mencari perlindungan di tengah hunjaman benda dan perihnya kepulan asap.
Sekira 700 orang berunjuk rasa siang kemarin, Minggu (31/8). Massa aksi menamakan diri sebagai Aliansi Sulbar Bergerak. Mahasiswa, masyarakat, hingga komunitas ojol tergabung dalam gerakan itu.
Gedung DPRD Sulbar menjadi lokasi terakhir dari tiga titik aksi. Sebelumnya, mereka berunjuk rasa di simpang empat Jalan Ahmad Kirang dan DPRD Mamuju.
Massa menggotong tiga tuntutan dalam aksinya. Pertama mereformasi DPR dan mencopot legislator yang dinilai melukai hati rakyat.
Tuntutan kedua, memecat petugas yang terlibat dalam insiden tewasnya driver ojol Affan Kurniawan. Terakhir, mereka mendesak pengesahan Undang-Undang Adat.

Mulanya aksi itu berlangsung kondusif sekira pukul 16.10 WITA. Satu per satu demonstran menyampaikan orasi dengan membara. Seruan kritik pun silih bersambut dari kerumunan massa.
Di hadapan mereka, petugas anti huru-hara berbaris membentuk barikade. Polisi lain dan prajurit TNI siap siaga di belakang barisan. Jumlahnya kurang lebih 500 personel.
Setengah jam kemudian massa membakar ban. Tepatnya di sela-sela antara petugas dan orator. Seruan makin lantang di tengah kobaran api dan asap hitam yang membumbung tinggi. Di saat itu pula, suasana berangsur memanas. Amarah massa meletup ketika petugas bersikap siaga.
Tepat pukul 17.02 WITA, batu berbagai ukuran melesat menuju barisan pengamanan. Lemparan awal melayang dari sisi kanan kerumunan. Seketika aksi pelemparan itu meluas dari segala arah.
Jumlah pasti tak terhitung, namun berkali-kali suara benturan terdengar riuh. Cukup jelas bebatuan itu menimpa dinding beton, tiang, dan pagar besi. Bunyi gemeretak juga terdengar nyaring dari helm dan tameng para petugas.
Dalam kegaduhan, petugas seketika merapatkan barisan. Tameng disusun bertumpuk dan menyatu untuk menghalau lemparan massa aksi. Bukan hanya menepis batu, tetapi kayu hingga ban mobil bekas.
Meredam kericuhan, aparat terpaksa menembakkan gas air mata berulang kali. Asap putih yang menyebar menimbulkan sensasi panas dan perih di mata. Ratusan massa aksi kemudian berlarian ke segala arah.
“Tadi kan rekan-rekan tahu sendiri, lempar batu dan lainnya. Sehingga personel menembakkan gas air mata,” Kapolresta Mamuju, Kombes Pol Ardi Sutriono menyingkap alasan penembakan itu, malam tadi.
Sebelas menit berlalu, massa kembali berkumpul dan menggelar aksi. Tepat pukul 17.13 WITA, kobaran api yang sebelumnya dipadamkan petugas, juga kembali dinyalakan. Tetapi unjuk rasa itu tak berlangsung lama.

Pukul 17.29 WITA, kericuhan kembali memucak. Petugas menangkap seorang demonstran yang diduga membawa bom molotov. Penemuan itu menyulut kegaduhan yang kedua kalinya. Lagi-lagi, petugas membubarkan massa lewat gas air mata.
Totalnya ada enam massa aksi yang diboyong petugas selama demo berlangsung. Mereka diduga terindikasi melakukan tindakan anarkisme. Empat demonstran terlibat pelemparan benda. Dua lainnya memicu reaksi waspada.
Dari tangan keduanya, petugas menemukan bom molotov. Satu orang mengaku tidak sengaja mendapatinya di belakang kios ketika kencing. Satu lainnya tertangkap tangan memboyong tas yang diduga berisi bom yang sama.
“Kita mengamankan bukan sebagai seorang pelaku, tapi kita amankan dulu supaya mereka tidak anarkis,” beber Kapolresta Mamuju.
Setengah jam berlalu dalam suasana tegang. Massa aksi memaksa petugas melepas rekan mereka. Desakan itu disuarakan melalui orasi pada pukul 18.03 WITA.
Negosiasi yang alot pun terjadi. Massa aksi bersedia bubar bila rekan mereka dibebaskan malam itu juga. Sementara petugas masih memeriksa keenam orang tersebut.
“Kami minta saudara kami dibebaskan. Kami hanya aksi damai. Keluarkan teman kami,” teriak Muh. Ahyar, salah seorang demonstran dari balik kerumunan massa aksi.

Massa aksi dan aparat menemui titik terang pada pukul 18.36 WITA. Namun, hanya lima orang dibebaskan. Mereka dinilai kooperatif dan benar aktivis.
Satu orang yang kedapatan membawa tas diduga berisi bom molotov harus menjalani pemeriksaan di Mapolresta Mamuju. Dia dianggap sebagai penyusup dan provokator.
Ketua GMNI Sulbar, Sugiharto menepis bahwa massa sengaja membawa alat untuk bertindak anarkis. Hasil teklap, semua sepakat demonstrasi itu hanya aksi damai. Cuma menyampaikan tuntutan dan mengedepankan kondusivitas.
“Terkait situasi dan kondisi yang ada di lapangan, kami menyatakan itu tidak sesuai dengan kesepakatan. Tidak pernah kami men-setting alat untuk memperkeruh suasana aksi. Tuntutan kami jelas dan harus kondusif,” Sugiharto menerangkan peristiwa insidentil itu.
Begitu pula dengan penemuan bom molotov di tengah kerumunan aksi. Sugiharto menegaskan, sosok tersebut tidak dikenal. Perwakilan OKP dan masyarakat serta lainnya sudah memastikannya.
“Itu bukan dari barisan kami. Dia tidak ikut teklap dan tidak ada yang mengenal,” tegasnya menutup percakapan.
Setelah lima orang dibebaskan, massa aksi membubarkan diri denga tertib pada pukul 18.47 WITA.


