Menjemput Mata Air Bulo, Deru Bor TMMD dan Harapan yang Tak Pernah Padam

waktu baca 3 menit

Polman – Pagi di lereng perbukitan Desa Bulo, Kecamatan Bulo, biasanya berjalan pelan. Angin menyusup lewat pepohonan, tanah lembap menahan jejak kaki warga yang saban hari hidup berdamai dengan medan.

Namun Sabtu itu, suasana berubah. Suara mesin bor meraung, memecah sunyi, seolah mengabarkan satu kabar yang lama ditunggu. Harapan air bersih mulai mengetuk pintu-pintu rumah yang selama ini dinantikan.

Di tempat seperti Bulo, air bukan sekadar benda bening yang mengalir. Air berarti napas untuk dapur, tenaga untuk mencuci, dan penyangga untuk kebun kecil yang memberi makan keluarga. Ketika kemarau datang, yang mengering bukan hanya tanah, tetapi juga kesabaran. Warga kerap menakar hari berdasarkan ketersediaan air. Cukup atau tidak, dekat atau jauh, ringan atau melelahkan.

Karena itu, pembangunan sumur bor melalui Program Manunggal Air menjadi sasaran tambahan TMMD ke-127 Kodim 1402/Polman. Ini sekaligus bagian dari program unggulan Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD). Di balik istilah “program”, ada satu hal yang paling dipahami warga. Kesempatan untuk tidak lagi bergantung pada sumber air terbatas yang menyulitkan.

Wakil Komandan Satgas TMMD ke-127 Kodim 1402/Polman, Kapten Inf Ahmad Yani, menyampaikan perkembangan pekerjaan yang terus bergerak. Hingga Sabtu (21/2), pengeboran pada satu titik telah menembus kedalaman 17 meter. Sebuah angka yang bagi warga terasa seperti jarak antara cemas dan lega.

“Alhamdulillah hari ini kita sudah kerjakan satu titik sumur bor dengan kedalaman 17 meter. Sudah ada tanda-tanda menemukan mata air tanah,” ujarnya di lokasi.

Desa Bulo berdiri pada wilayah pegunungan, sekitar 400 meter di atas permukaan laut. Bentang alam yang indah itu menyimpan konsekuensi, akses air bersih tidak selalu ramah. Ketika hujan jarang turun, warga harus menghadapi kenyataan yang berulang. Mencari air, menempuh jarak, menunggu giliran, lalu menghemat sehemat mungkin.

Di titik pengeboran, warga berkumpul. Mereka tidak hanya menonton, tetapi ikut menjaga harapan. Mesin bor bekerja tanpa mengenal perasaan, tetapi di sekelilingnya, setiap bunyi putaran besi memantul menjadi doa. Setiap meter yang bertambah seperti menipiskan jarak menuju hidup yang lebih layak.

Ahmad Yani menjelaskan, Program Manunggal Air diharap mampu menjadi jawaban jangka panjang. Bukan solusi sesaat yang habis ketika musim berganti, melainkan penopang baru agar warga tidak terus-menerus memikul beban mencari air.

Di tengah kerumunan itu, suara seorang warga menyelinap pelan, namun kuat. Suara yang mewakili banyak kepala keluarga, juga mewakili hari-hari yang selama ini berjalan dengan keterbatasan.

“Semoga ini benar-benar keluar airnya, supaya kami tidak lagi kesulitan kalau musim kemarau datang,” ujarnya dengan nada penuh harap.

TMMD ke-127 Kodim 1402/Polman memang dikenal lewat pembangunan akses jalan dan hunian layak. Namun di Bulo, sumur bor terasa lebih dari sekadar proyek. Ia menjelma sebagai simbol bahwa negara bisa hadir sampai ke lereng-lereng sunyi, sampai ke kampung yang selama ini berjuang sendiri memenuhi kebutuhan paling dasar.

Di ujung pagi, deru mesin bor masih terdengar. Tanah terus ditembus, kedalaman terus dikejar. Warga menunggu bukan dengan tangan kosong, tetapi dengan keyakinan: suatu hari nanti, Bulo tidak lagi menghitung kemarau sebagai ancaman. Air akan mengalir. Hidup akan lebih ringan. Dan harapan, akhirnya punya wujud.

error: Content is protected !!
Play sound