Perbedaan Idulfitri, Sekda Sulbar Minta Publik Utamakan Persatuan

waktu baca 2 menit

Mamuju – Sekretaris Daerah Provinsi Sulawesi Barat, Junda Maulana, mengingatkan masyarakat agar tidak terjebak dalam polemik perbedaan penetapan Hari Raya Idulfitri.

Ia menilai perbedaan tersebut sebagai hal wajar dalam praktik keagamaan dan tidak layak memicu perpecahan.

“Ini kita tidak bisa menyalahkan. Artinya, ini hal yang terjadi berdasarkan pemahaman dan berkaitan dengan masalah keimanan,” ujar Junda Maulana.

Ia menegaskan, perbedaan waktu perayaan antara pemerintah dan sejumlah organisasi keagamaan, termasuk Muhammadiyah, merupakan dinamika yang kerap muncul dalam kehidupan beragama. Karena itu, masyarakat perlu menyikapinya dengan sikap dewasa dan saling menghormati.

Menurut Junda, substansi Idulfitri tidak terletak pada perbedaan waktu pelaksanaan, melainkan pada makna spiritual yang menyertainya. Ia menekankan, seluruh umat Islam tetap merayakan momentum yang sama, yakni kembali pada kesucian diri.

“Bagi kita, apa yang dilaksanakan Idulfitri oleh khususnya jamaah Muhammadiyah kemarin atau jamaah-jamaah yang lain ini sama saja. Kita tidak mencari perbedaannya, tapi kita mencari persamaannya bahwa kita sekarang terlahir fitrah,” jelasnya.

Ia juga mendorong masyarakat menjadikan Idulfitri sebagai titik balik memperkuat persatuan dan mempercepat pembangunan, baik secara nasional maupun regional.

“Terlahir fitrah untuk bagaimana kita membangun Indonesia pada umumnya, membangun Sulawesi Barat khususnya,” tutur Junda Maulana.

Pemprov Sulbar berharap, perbedaan penetapan hari raya justru memperkaya kehidupan sosial dan memperkuat harmoni, bukan sebaliknya menjadi sumber konflik di tengah masyarakat.

error: Content is protected !!