Polda Sulbar Pulihkan Trauma Korban Kebakaran Polman, Anak-Anak Jadi Prioritas
Polman — Polda Sulawesi Barat mengerahkan Tim Trauma Healing dari Biro Sumber Daya Manusia untuk memulihkan trauma warga korban kebakaran yang menghanguskan puluhan rumah di Polewali Mandar.
Dalam penanganan pascabencana itu, anak-anak menjadi perhatian utama karena paling rentan mengalami guncangan psikis setelah kehilangan rumah dan rasa aman.
Tim psikologi turun langsung ke lokasi bencana dan menggelar pendampingan selama tiga hari. Fokus utama kegiatan ini ialah memulihkan kondisi mental warga, terutama anak-anak, agar tidak larut dalam ketakutan dan kesedihan akibat kebakaran.
Dengan izin masyarakat setempat, tim mengadakan sesi terapi bermain melalui berbagai permainan edukatif. Metode ini dipilih untuk mengalihkan perhatian anak-anak dari ingatan buruk saat kebakaran, sekaligus membantu membangun suasana yang lebih tenang dan positif.
Kepala Bagian Psikologi Biro SDM Polda Sulbar A. Sirajuddin yang memimpin kegiatan tersebut menegaskan bahwa trauma healing menjadi bagian penting dalam penanganan korban bencana, bukan sekadar pelengkap setelah bantuan fisik tersalurkan.
“Melalui kegiatan ini kami berupaya memberikan dukungan psikologis, menumbuhkan kembali rasa aman, serta menghadirkan suasana yang lebih ceria dan menenangkan, khususnya bagi anak-anak,” tuturnya.
Menurut dia, pemulihan mental anak harus berjalan cepat agar trauma tidak berkembang menjadi beban psikologis jangka panjang yang dapat mengganggu tumbuh kembang mereka.
Selain terapi bermain, tim juga memberi motivasi kepada anak-anak agar segera kembali ke sekolah. Dukungan moral juga diberikan kepada seluruh korban sebagai upaya membangkitkan semangat mereka untuk kembali menata kehidupan.
A. Sirajuddin menekankan, kehadiran aparat dalam situasi bencana harus mampu memberi rasa tenang bagi warga yang sedang berada dalam titik terendah.
“Harapan kami, para korban kebakaran tidak merasa sendiri karena banyak pihak yang peduli dan siap membantu. Semoga kegiatan ini dapat memberikan semangat baru, terutama bagi anak-anak, agar tetap optimis menjalani kehidupan ke depan,” tutupnya.
Sebagai bentuk kepedulian lanjutan, tim menutup kegiatan dengan menyerahkan Al-Qur’an kepada anak-anak yang rumahnya terdampak kebakaran. Langkah ini menjadi simbol dukungan moral sekaligus penguatan batin bagi para korban.
Warga Desa Galung Tulu menyambut positif langkah tersebut. Mereka menilai Polda Sulbar tidak hanya hadir menangani dampak fisik pascakebakaran, tetapi juga memberi perhatian serius pada kondisi psikologis anak-anak dan keluarga korban.
Dalam konteks penanganan bencana, pendekatan seperti ini menunjukkan bahwa pemulihan tidak cukup hanya lewat bantuan logistik. Perhatian terhadap trauma, terutama pada anak, menjadi kunci agar korban mampu bangkit dan menatap masa depan dengan lebih kuat.




