Prahara Tanah Sejati, Sirna di Tangan TNI
Bagi warga Desa Sejati, gemericik hujan memendam definisi menakutkan dari sekadar berkah dari langit. Secara berkelindan, hujan menjadi simbol kesuburan, tetapi juga pertanda keterasingan.
Selama 25 tahun, hujan menjadi pedang bermata dua yang terhunus lewat doa. Tetesannya menikam keringnya ladang, tetapi juga menebas langkah ribuan jiwa. Berkah dan bencana seakan hadir dalam satu tarikan napas.
- Saharuddin Nasrun
- Mamuju Tengah
Desa Sejati berada di ujung timur Kecamatan Tobadak, Kabupaten Mamuju Tengah, Provinsi Sulawesi Barat. Ia bersemayang di tengah pelukan bukit dan pepohonan sawit. Di atas lahan seluas 288,28 km², seribu tiga ratus jiwa hidup harmonis. Sejati merupakan akronim dari Sulawesi-Jawa-Timor Timur, sebuah entitas awal yang mendiami wilayah tersebut.
Dari kota kabupaten, Desa Sejati hanya berjarak 32 kilometer. Dengan sepeda motor, cukup berkendara 1,5 jam saja. Waktu tempuh bertambah sejam bila menggunakan roda empat. Walau terdengar dekat, akses menuju perkampungan itu seakan menari di tepi ajal.
Sepanjang lintasan, jurang nan curam menganga di bibir jalan. Tiada bebatuan apalagi pengaman di setiap sisinya. Hanya tanah merah yang rapuh dan mudah amblas. Walau lebarnya 2,5 meter, jalan itu selalu berhasil membuat jantung berdegup kencang.
Nuansa mencekam semakin pekat seiring rintik hujan turun menghujam. Dalam sekejap, tanah yang semula kering menjelma menjadi lautan lumpur. Jalanan amblas dan tebing yang runtuh menjadi pemandangan lumrah dalam setiap peristiwa.
Kendaraan meluncur bebas jika memaksa melintas. Bila itu terjadi, tiada pilihan lain kecuali menerjang tebing atau tersungkur ke dalam lembah. Sejumlah kejadian nahas menjadi kisah kelam di desa itu.
Kepala Desa Sejati, Nurdin Karim mulai menyusuri ingatan pada nasib pilu desanya. Kata demi kata yang terlontar menguak kondisi penduduk yang selama ini bergantung pada hujan. Sembilan puluh persen warga menjadikan ladang sawit sebagai tulang punggung ekonomi keluarga. Ada yang bekerja sebagai petani dan sisanya buruh pabrik kelapa sawit.

Itulah mengapa masyarakat tiada henti melantunkan doa demi setitik hujan. Dengan tetesannya, ladang mereka tumbuh dan berkembang dengan asupan air yang cukup. Hujan pula yang menjadikan hasil panen mereka jauh lebih banyak dari biasanya.
“Tetapi di saat yang sama, hujan juga yang membuat aktivitas masyarakat lumpuh total. Satu-satunya akses yang kami miliki terputus karena penuh lumpur. Hasil panen membusuk karena tidak bisa diangkut ke pabrik,” Nurdin Karim menyibak perasaan dilematis warganya, Agustus lalu.
Kehadiran dua sungai yang mengapit permukiman warga memperparah kerusakan jalan. Bila hujan mengguyur cukup lama, Sungai Tetapa langsung meluap dan memblokade aliran Sungai Lumu. Akibatnya, air Sungai Lumu yang seharusnya mengalir menjauhi desa, malah berbalik menyerang penduduk.
Tak tanggung-tanggung, lima dusun di desa itu tergenang. Kelima dusun itu, yakni Timor Oan Namkari, Timor Oan Dame, Tateppa, Asri, dan Baban Lumu. Peristiwa bisa terjadi dua kali dalam setahun. Ketinggian air paling rendah mencapai lutut orang dewasa.
“Kerusakan jalan bertambah parah dan waktu keringnya makin lama. Harus tunggu berhari-hari supaya jalan itu bisa dilalui,” pria 37 tahun itu berkisah sembari mengecap kenangan buruk yang pernah dialaminya.
Selama ini, jalan rusak tidak hanya membuat perjalanan menantang dan melelahkan. Tetapi juga memicu lonjakan harga kebutuhan pokok. Cukup beralasan, sebab tak satu pun distributor pangan yang berani menjajal tanah desa itu.
“Telur di sini bisa sampai Rp70 ribu per rak, di luar cuma 48 ribu. Gas elpiji selisihnya bisa 25 ribu per tabung. Beras, ikan, semua mahal,” Yaba, pria paruh yang duduk kursi belakang, ikut menimpali percakapan kami dengan kepala desa.
Hidup terombang-ambing dalam harapan dan acaman, tak membuat masyarakat berpasrah diri. Sepanjang waktu, jemari silih berganti meminta sebuah keajaiban. Bagi mereka, merawat harapan dalam lantunan doa adalah sebuah keniscayaan. Dan harapan itu terwujud melalui TMMD.
Dalam program TMMD, Desa Sejati merupakan sasaran utama. Jalan yang selama ini membelenggu masyarakat akan dibenahi. Struktur jalan diperkuat melalui pengerasan memakai bebatuan dan pasir sepanjang 4,2 kilometer. Lebar dan ketebalannya pun ditambah menjadi 4 meter dan 20 sentimeter. Sebelum pengerasan, dilakukan pula menambal pada ruas-ruas jalan yang berlubang.
“Karena semuanya materialnya pakai pasir dan batu, maka saya yakin ini akan bertahan lama dan jauh lebih bagus dari sebelumnya. Sebagai kepala desa, saya harus berterima kasih kepada TNI dan pemerintah kabupaten,” ucap Nurdin Karim menutup percakapan dengan wajah penuh keyakinan.
Memastikan target rampung dengan kualitas terbaik, Kodim 1418/Mamuju mengerahkan upaya terbaiknya. Berbagai alat berat dikerahkan, mulai dari grader, wheel loader, ekskavator, dan dump truck. Kehadiran alat berat itu seakan menjadi jaminan bahwa kualitas dan ukuran tak boleh kurang sedikit pun.

Berjibaku dengan persoalan jalan bukan tanpa rintangan. Nyaris setiap hari desa itu diguyur hujan. Alat berat dan truk cukup kesulitan mengangkut material. Betapa tidak, tanah yang basah membuat kendaraan itu tertelan lumpur. Namun, semua teratasi berkat gotong-royong antara TNI, Pemkab Mamuju Tengah, Polri, dan masyarakat setempat.
“Satu bulan itu tidak pernah tidak hujan. Itu kendalanya, tapi kita tetap hajar agar dapat segera dirasakan manfaatnya. Alhamdulillah dengan keterlibatan semua pihak dan antusias masyarakat yang tinggi, semua bisa selesai. Sekarang sudah bisa dilalui dengan mudah,” Dandim 1418/Mamuju, Kolonel Inf. Andik Siswanto memaparkan hasil peningkatan jalan itu dengan wajah puas.
Perwira itu paham betul bahwa peningkatan jalan bukanlah solusi permanen. Demi keamanan dan kenyamanan masyarakat, jalan itu tetap harus dibeton. Apalagi berada di kawasan perkebunan sawit. Beban kendaraan jauh lebih berat daripada kapasitas struktur jalan yang menopangnya.
“Ini akan bertahan lama, namun lebih baik lagi kalau dibeton. Saya sudah sampaikan ke bupati dan beliau merespons baik usulan ini,” jawaban bupati membuat Andik Siswanto bernapas lega.
Kapoksahli Kodam XIV/Hasanuddin, Brigjen TNI, Musa David M. Hasibuan cukup terkesan dengan capaian TMMD kali ini. Walau beragam rintangan dan medan yang menantang, prajurit tetap mampu menyelesaikan seluruh sasaran TMMD, termasuk peningkatan jalan.
Tidak hanya itu, Kodim 1418/Mamuju pun dianggap telah memenuhi unsur fundamental dari pelaksanaan TMMD. Brigjen Musa menjelaskan, kesuksesan TMMD tidak terpaku pada sektor infrastruktur fisik saja, tetapi pada non fisiknya.
“Kalau proyek, yang didapat hanya infrastruktur fisik saja. Tapi kalau dilaksanakan secara kolaborasi, hasilnya jauh lebih besar. Dengan kolaborasi, terutama masyarakat, akan tercipta persatuan dan itu yang kita utamakan. Kita harap TMMD membantu perputaran ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tandasnya.
Decak kagum tampak sangat jelas di wajah Bupati Mamuju Tengah, Dr. Arsal Aras. Ia sempat berkecil hati lantaran hanya mampu mengalokasikan anggaran Rp750 juta. Namun, rasa puas segera mengambil alih gerak-geriknya. Ia bahkan tak percaya, TNI mampu menyelesaikan seluruh sasaran TMMD dengan dana seadanya.
Tanpa sadar, Arsal bahkan membandingkan proyek reguler dengan hasil program TMMD. Ia membeberkan, peningkatan jalan sepanjang 4,2 kilometer itu jauh melebihi ekspektasinya.
“Dengan anggaran yang sama, proyek pemerintah paling 1 sampai 2 kilometer. Tetapi di tangan TNI bisa sampai 4 kilometer. Ini luar biasa menurut saya,” Arsal menjawab dengan penuh antusiasi.
Hasil memuaskan itu membuat Arsal membuka lebar pintu kolaborasi pada TMMD berikutnya. Menurutnya, TMMD memberikan dampak sigfinikan terhadap pembangunan daerah dan masyarakat. Sehingga, Arsal melanjutkan, tidak berlebih jika program itu kembali digelar di Mamuju Tengah.
“Sebelumnya, terima kasih kepada Panglima TNI telah menjadikan daerah kami sasaran TMMD. Dan tentu kami ingin program ini berkelanjutan, karena kami sudah rasakan manfaatnya,” imbuhnya penuh harap.
Segala infrastruktur yang dibangun dalam TMMD tidak akan berlalu begitu saja. Pemerintah Kabupaten Mamuju Tengah siap menggelontorkan dana untuk pemeliharannya. Tidak lain, bangunan fisik itu tetap berkelanjutan dan dapat dinikmati masyarakat.
“Semua terbangun itu menjadi aset pemerintah daerah. Jadi kami tentu berkewajiban untuk melakukan pemeliharaan, perbaikan-perbaikan, dan seterusnya,” Arsal menutup perbincangannya dengan seutas janji pemeliharaan.
Menyusuri bebatuan menuju Desa Saloadak, sebuah gubuk lapuk berdiri dengan renta. Rumah itu menjadi sasaran fisik tambahan TMMD tahun ini.


