Program TBC Makin Menantang, Dinkes Se-Sulbar Perlu Inovatif Cari Alternatif Pembiayaan
Mamuju – Program tuberkulosis Sulawesi Barat memasuki fase krusial. Perubahan skema pembiayaan global memaksa pemerintah daerah bergerak cepat agar layanan TBC tidak tersendat tahun ini.
Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Provinsi Sulawesi Barat mengumpulkan seluruh Dinkes kabupaten, Selasa (6/1). Fokus pembahasan mengarah pada kesiapan daerah menghadapi potensi berkurangnya dukungan dana Global Fund.
Kepala Dinas Kesehatan P2KB Sulbar, dr. Nursyamsi Rahim, menegaskan ancaman nyata muncul dari kemungkinan penghentian pembiayaan pemeriksaan Tes Cepat Molekuler, pengiriman spesimen, hingga sebagian layanan TBC Resistan Obat.
“Situasi ini menuntut kita untuk lebih adaptif dan responsif dengan mengoptimalkan sumber pembiayaan alternatif, seperti BPJS Kesehatan, APBD provinsi dan kabupaten, serta pemanfaatan DAK Non Fisik (BOK) secara tepat dan terencana, agar layanan TBC tetap berkelanjutan,” ujar dr. Nursyamsi.
Penemuan dan pengobatan kasus terus berjalan sepanjang tahun kemarin. Hanya saja belum cukup kuat mengejar target. Tantangan terbesar masih berkisar pada penemuan kasus, keberhasilan pengobatan, dan kesinambungan layanan.
Menurutnya, komitmen daerah harus sejalan dengan visi pembangunan Sulawesi Barat dan target nasional eliminasi TBC 2030. Penguatan layanan kesehatan tidak hanya soal angka, tetapi juga soal keberanian menekan stigma terhadap pasien.
Selain pembiayaan, masalah logistik turut mengemuka. dr. Nursyamsi menekankan pentingnya perencanaan kebutuhan obat dan alat diagnostik agar fasilitas kesehatan tidak menghadapi kekosongan maupun penumpukan stok.






