Sekda Sulbar Tegaskan Anak Bukan Objek, Forum Anak Jadi Motor Aspirasi Generasi 2045

waktu baca 2 menit

Sulbar – Sekretaris Daerah Sulawesi Barat, Junda Maulana, menegaskan peran strategis anak sebagai subjek pembangunan saat membuka pemilihan pengurus Forum Anak Sulbar periode 2026–2028, Selasa (7/4). Ia mendorong forum ini menjadi kanal utama aspirasi generasi muda menuju Indonesia Emas 2045.

Sebanyak 45 pelajar dari berbagai sekolah mengikuti proses pemilihan tersebut. Forum Anak hadir sebagai jembatan komunikasi antara pemerintah dan generasi muda, sekaligus ruang partisipasi dalam pembangunan daerah.

Junda menilai, paradigma pembangunan harus berubah dengan menempatkan anak sebagai pelaku aktif. Hak anak untuk berkembang, berpendapat, serta mengakses pendidikan dan layanan kesehatan perlu mendapat perhatian serius.

“Anak-anak kita harus diberikan ruang. Mereka punya hak untuk berkembang dan menyampaikan kebutuhan-kebutuhannya,” ujar Junda Maulana.

Ia mengingatkan, peserta forum saat ini berada pada fase krusial. Dalam dua dekade ke depan, mereka akan menjadi aktor utama yang menentukan arah bangsa.

“Ini adalah generasi emas 2045. Mereka harus kita arahkan agar mampu menghadapi tantangan global,” ucapnya.

Lebih jauh, Junda menyampaikan pesan Gubernur Sulbar Suhardi Duka terkait pentingnya peningkatan kapasitas generasi muda. Ia menekankan kebutuhan atas kombinasi pendidikan formal dan keterampilan tambahan sebagai syarat dasar menghadapi persaingan global.

“Sekarang, seseorang bisa dianggap tertinggal jika tidak memiliki pendidikan dan keterampilan. Minimal menguasai satu bahasa internasional dan mampu menggunakan teknologi,” jelas Junda Maulana.

Ta Cukup Melek Teknologi

Ia juga menyoroti tantangan era digital. Generasi muda, kata dia, tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi harus mampu menciptakan inovasi. Penggunaan gawai pun perlu pengawasan ketat untuk mencegah dampak negatif.

“Pembatasan penggunaan gadget itu penting, tidak hanya di sekolah tapi juga di rumah. Peran orang tua sangat dibutuhkan dalam mengawasi anak-anak,” ungkapnya.

Pemerintah, lanjutnya, perlu memperkuat kontrol terhadap konten berbahaya, tanpa menghambat akses informasi yang edukatif.

Menanggapi perkembangan kecerdasan buatan (AI), Junda menilai teknologi tersebut harus bermanfaat dalam pendidikan, namun tetap dalam koridor pengawasan agar tidak mematikan kreativitas.

“AI itu bagus, tapi jangan sampai disalahgunakan. Jangan hanya copy-paste tanpa ada kreativitas,” tegas Junda Maulana.

Melalui Forum Anak, ia berharap aspirasi generasi muda dapat terhimpun secara sistematis dari tingkat bawah hingga nasional. Mekanisme ini untuk memastikan kebijakan publik berpijak pada kebutuhan riil anak.

“Semua kebutuhan itu harus berasal dari bawah atau bottom-up, dari anak-anak itu sendiri. Forum ini menjadi sarana untuk menyampaikan itu kepada pemerintah,” tandasnya.