Sulbar Kejar Modal, DPMPTSP Siapkan Top Investment Pancing Investor
Mamuju – Pemprov Sulawesi Barat mengubah strategi promosi investasi. Bukan lagi jargon, melainkan peta peluang yang siap dibawa calon investor.
DPMPTSP menyiapkan distribusi buku Top Investment 2025 sebagai senjata utama. Upaya ini untuk memperluas informasi proyek unggulan dan sektor potensial di daerah.
Buku itu memuat daftar peluang investasi, sektor prioritas, hingga gambaran kondisi investasi yang pemerintah klaim makin kompetitif.
DPMPTSP menargetkan buku tersebut sampai ke calon investor, pemangku kepentingan, dan mitra strategis di tingkat regional maupun nasional.
Plt Kepala DPMPTSP Sulbar, Amir, menyebut penyusunan dan distribusi buku itu sebagai upaya memperjelas akses informasi bagi investor.
“Buku Top Investment 2025 menjadi instrumen penting untuk memperkenalkan potensi unggulan daerah secara lebih sistematis dan profesional. Ini adalah langkah nyata kami dalam memperkuat kepercayaan investor serta mendorong peningkatan realisasi investasi,” ujar Amir, Rabu (4/2).
Di internal DPMPTSP, tim pengembangan iklim investasi menekankan penyusunan berbasis pemetaan dan data. Ketua Tim Kerja Pengembangan Iklim Penanaman Modal, Satriawan Hasan Sulur, menegaskan timnya memilih materi yang investor butuhkan, bukan sekadar daftar panjang potensi.
“Kami memastikan setiap informasi yang disajikan dalam Top Investment 2025 relevan, aktual, dan memiliki nilai jual investasi. Harapannya, buku ini dapat menjadi jembatan antara potensi daerah dan kebutuhan investor,” jelasnya.
Namun, tantangan utama tidak berhenti pada penerbitan. DPMPTSP perlu memastikan isi buku benar-benar berujung pada transaksi. Memuat kepastian lahan, perizinan yang cepat, dan paket insentif yang jelas. Tanpa itu, buku promosi mudah berubah menjadi dokumen rapi yang berhenti di meja rapat.
DPMPTSP menilai distribusi Top Investment 2025 bisa memperlebar kanal promosi sekaligus memperkuat jejaring kerja sama lintas pihak. Target akhirnya mendorong investasi masuk dan menggerakkan ekonomi daerah tanpa bergantung pada seremoni.





