TMMD Menyulam Harapan dari Gubuk yang Usang
Di balik bukit Desa Saloadak, Petrus Sibubung hidup sebatang kara. Pria paruh baya itu sama sekali tak ramah pada alam. Desau angin membuatnya cemas dan gemericik hujan menjadikannya gusar.
Kewaspadaan menghiasi sorot matanya setiap kali langit berubah warna. Bukan menentang semesta, ia hanya khawatir gubuknya yang renta tak lagi mampu menahan sapuan angin dan gemuruh hujan.
- Saharuddin Nasrun
- Mamuju Tengah
Dua ratus meter dari jalan desa, sebuah gubuk kayu berdiri dalam kesunyian. Rumah itu dibangun seadanya di tepian kawasan perkebunan sawit, Dusun Rawa Makmur, Desa Saloadak, Kecamatan Tobadak, Kabupaten Mamuju Tengah, Provinsi Sulawesi Barat.
Di sanalah pria berusia 57 tahun itu hidup seorang diri. Ia menua, terlelap, dan menjamah hidangan dalam sepetak ruangan tanpa sekat. Tungku berabu dan periuk legam jadi saksi hidupnya yang memilukan.
Tempat tinggal Sibubung lebih pantas disebut gubuk daripada rumah. Panjang dan lebarnya tidak lebih dari 2 x 1,3 meter. Tiangnya pun hanya setinggi 2,2 meter dengan bentuk dan ukuran tak serupa. Ada yang gempal dan berdiri tegap, ada pula yang ramping dan rawan patah.
Tak satu pun bagian rumah Sibubung yang menutup sempurna. Dinding kayunya lapuk dan meregang. Celah demi celah kian menganga seiring waktu. Beberapa bidang papan yang tanggal, bahkan harus diikat sebab luruh saat dipaku.

Lantainya pun mulai menghitam. Lubang bermacam-macam ukuran tampak di mana-mana. Atap asbes yang melindunginya dari hujan juga rapuh dan bocor. Jangankan badai, melangkah masuk saja membuat rumah itu berderak lantang.
“Kalau ada angin atapnya terangkat, jadi harus diikat supaya tidak terbang. Rumah juga goyang kalau hujan. Apalagi kalau deras, serpihan atapnya jatuh bersama air hujan,” Sibubung menyingkap kekhawatirannya ketika angin dan hujan datang tumpang tindih silih berganti.
Dari sudut mana pun mata memandang, rumah itu sudah di ujung napas. Istana kecil Sibubung bisa ambruk kapan saja. Bangunannya telah miring dan merebah ke belakang. Tanpa pasak bambu dan balok kayu, rumah itu sudah lama runtuh berkalang tanah.
Bujang senja itu acap kali ingin membenahinya. Namun, harapan itu selalu memudar lantaran ketiadaan biaya. Apalagi ia tidak mampu lagi bekerja. Jangankan menata rumah, makan pun ia perlu bersusah payah.
“Rumah ini sudah lama mau rubuh, tapi tidak ada uang untuk perbaiki. Jadi dikasih bambu dan kayu saja supaya tetap berdiri,” ia menjelaskan sembari menunjuk bagian rumah yang telah ditopangnya.
Selama ini, Sibubung nyaris tak pernah merasa tenteram. Keadaanlah yang memaksanya berdamai dengan ketidaknyaman. Untuk sekadar menutup mata, ia harus berjuang sepanjang malam.
Sensasi dingin menusuk dari segala arah membuatnya sulit terlelap. Selimut usang yang dijadikannya tilam dan penutup tubuh tak mampu menghangatkannya.
Nuansa makin mencekam ketika hujan datang menghujam. Tak hanya dingin, Sibubung harus terjaga sebab tiada tempat kering untuknya berbaring.
“Tunggu hujan berhenti dulu baru tidur, karena semua basah. Kadang kalau hujannya lama dan sudah mengantuk, tidur saja,” ucapnya dengan nada terbata-bata.
Layaknya orang lain, Sibubung juga menimang harapan pada mimpi sederhana. Rumah idaman dan penghidupan layak di usia senja. Tetapi luka bakar meregas mimpinya tujuh tahun silam.
Lengan kanannya bengkok permanen berpaut luka. Tiga jari di telapak tangan kirinya pun memutir dan membeku. Jangankan mencari nafkah, untuk sekadar berpakaian saja, Sibubung harus menguras tenaga.
Sejak saat itu, nyali Sibubung menciut untuk bermimpi. Ia tidak lagi mendambakan kesempurnaan bentuk maupun keindahan warna. Asal dapat melindunginya dari hujan, terik, dan rasa dingin, itu sudah cukup baginya.
Berbingkai Gotong-royong, Prajurit Datang Bawa Harapan

Bertahun-tahun dibelenggu putus asa, keajaiban akhirnya mengetuk pintu Sibubung. Sentuhan perbaikan rumah yang diidam-idamkan akhirnya tiba seiring prajurit TNI memenuhi Desa Saloadak melalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-125.
Sehari setelah pembukaan TMMD, prajurit Kodim 1418/Mamuju mengunjungi gubuknya Rabu malam, 24 Juli 2025. Aparat Pemerintah Kabupaten Mamuju Tengah turut hadir dalam kunjungan itu. Sibubung dipilih sebagai penerima manfaat bantuan renovasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).
Ia sempat terperangah dan ketakutan memenuhi hatinya. Baru kali ini rumahnya kedatangan tamu di malam hari. Apalagi yang datang pria berbadan tegap, kekar, dan berseragam loreng lengkap.
Seiring perbincangan mereka, suasana hati Sibubung berubah drastis. Kebahagiaan menggantikan rasa takutnya ketika mengetahui rumah miliknya akan disulap lebih layak.
Keesokan harinya, prajurit TNI dan warga setempat merombak habis rumah Sibubung. Papan demi papan dilepas tanpa sisa. Dengan sukacita, Sibubung menyaksikan rumah itu menanggalkan bentuk reyotnya.
Gotong-royong menguatkan semangat pembangunan rumah Sibubung. Tepat 30 hari, rumah itu rampung dengan bentuk baru. Tiada lagi kesan kumuh dan rapuh. Cat hijau berbalut putih mengelilingi rumah itu dengan cukup indah.

Hunian baru Sibubung memang tak terlampau luas. Tetapi jauh lebih besar dari rumah lamanya. Panjang dan lebarnya kini berukuran 4×6 meter. Desainnya pun cukup menawan berkonsep semi permanen.
Satu meter rumah Sibubung berdiri menggunakan bata. Dindingnya menggunakan calsiboard dan beratapkan seng. Tiada lagi celah bagi dingin dan angin yang membuat Sibubung risau. Semua tertutup rapat, kecuali jendela dan ventilasi.
“Terima kasih kasih bapak TNI dan pemerintah, rumah saya sudah bagus. Tidak takut lagi kalau ada angin dan hujan,” Sibubung berucap syukur sembari mencoba mengatur napas agar air matanya tak terjatuh.
Dandim 1418/Mamuju, Kolonel Inf. Andik Siswanto menggunakan otoritasnya sebagai Dansatgas dengan cukup apik. Sibubung bukanlah kandidat tunggal penerima bantuan RTLH. Tetapi ia dipilih berdasarkan hasil penilai multidimensi secara ketat.
Perwira itu tidak hanya menilai dari aspek sosial, tetapi juga kesehatan dan ekonomi. Tubuh Sibubung telah renta, kesehatannya rapuh, tiada pekerjaan, dan rumahnya pun jauh dari kata layak. Kondisi inilah yang membuat Andik Siswanto memilih Sibubung tanpa sedikit pun keraguan.
“Kita harus melihat mana yang betul-betul layak menerima bantuan. Rumah Sibubung itu tidak layak dihuni manusia,” jelas Andik Siswanto haru.
Ia tidak setengah hati mengubah hidup Sibubung. Di tengah pembangunan rumah, Andik Siswanto bergerilya menarik peran serta mitra kerja. Ia ingin rumah itu menghadirkan kenyamanan, bukan sekadar tempat bernaung.
Upaya Andik Siswanto berbuah manis. Sejumlah mitra tergugah dan mengucurkan uluran tangan. Sibubung tak hanya mendapat rumah, tetapi lengkap dengan perabotannya. Di antaranya tempat tidur, lemari, serta perhiasan ruangan lainnya.
“Alhamdulillah, kami dengan teman-teman bikin rumah layak huni, termasuk isi-isinya. Setidaknya Pak Sibubung tidak lagi kehujanan, tidak kepanasan, dan mendapatkan hidup yang layak di rumah itu,” imbuhnya menutup wawancara.
Rumah baru Sibubung memantik perhatian masyarakat. Tak terkecuali, Bupati Mamuju Tengah, Dr. Arsal Aras. Ia sangat terkesan dengan perubahan signifikan itu. Cukup antusias sampai-sampai ia melontarkan kalimat apresiasi berulang kali.
Sudah berkali-kali TMMD terlaksana di Kabupaten Mamuju Tengah. Tetapi baru kali ini Arsal berkolaborasi langsung dengan TNI sebagai bupati. Selama ini, Arsal pun tak pernah kecewa dengan kinerja TNI melalui TMMD.
“Saya selalu berharap kolaborasi ini berkelanjutan, karena saya tahu betul bagaimana kinerja TNI. Kami sudah melihat dan merasakan manfaatnya,” Arsal menjawabnya lantang sambil tersenyum semringah.


