Di Antara Gemuruh Kota dan Cahaya Kebaikan
Di tengah riuh demo perkotaan Jakarta, kaki prostesis Rahman tetap melangkah. Perjalanan menuju Temu Inklusi ke-6 di Cirebon baginya bukan sekadar agenda, melainkan ruang belajar, berbagi, dan menyalakan cahaya harapan bagi gerakan difabel di Mamuju.
- Rahman
- Gema Difabel Sulbar
Gemuruh Pagi Bandara Soekarno-Hatta (CGK)
Bandara Soekarno-Hatta di Tangerang, Banten, sibuk oleh lalu-lalang penumpang. Dari sinilah Rahman memulai perjalanannya menuju Cirebon. Jakarta sore itu terasa tegang. Suara demo menggema di pusat-pusat perkotaan, hunian anggota dewan dijarah, jalan diblokade, dan menambah kecemasan di udara.
Namun, di balik gemuruh itu, ada dukungan yang menenangkan langkah. INKLUSI, lembaga kemitraan Indonesia–Australia, hadir sebagai filantropis yang membiayai perjalanan Rahman dan rombongan Self-Help Group dari Mamuju yang merupakan kelompok binaan dari GEMA Difabel Sulbar.
Dukungan ini bukan hanya tentang akomodasi, tetapi juga komitmen memperkuat gerakan inklusi di akar rumput.
Melangkah di Tengah Suara Kota
“Awalnya saya ragu karena kondisi Jakarta cukup tegang… Tapi panitia memandu kami dengan baik, sehingga perjalanan terasa aman,” ujar Rahman dengan ekspresi intens yang tajam.
Rombongan SHG mengikuti arahan, menghindari jalur rawan, dan perjalanan akhirnya berjalan lancar menuju Cirebon.
Selamat Datang di Cirebon yang Ramah

Setibanya di Cirebon, semangat dan antusiasme langsung menyapa. Para peserta SHG bersama perwakilan pemerintah desa/kelurahan disambut dengan kegiatan padat dan penuh makna. Mereka belajar tentang efisiensi anggaran, manajemen program, serta hak-hak disabilitas yang bisa diakses secara khusus sesuai regulasi.
Menyelami Kreativitas dan Impian
“Belajar soal anggaran ternyata penting. Banyak hal yang bisa kita atur lebih efisien, tapi tetap sesuai aturan,” kata Rahman sambil menatap pameran karya teman-teman disabilitas. Setiap karya yang dipajang bukan sekadar tampilan, melainkan cerita, kreativitas, dan impian yang hidup.
Temu Para Penggerak Perubahan Inklusi
Yang paling berkesan bagi Rahman adalah bertemu langsung dengan penggerak dan aktivis disabilitas dari berbagai daerah. “Seru sekali bisa bertukar pengalaman dan berbagi cara memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas,” ujarnya. Pertemuan ini menyalakan energi baru, membangun jaringan, dan menumbuhkan inspirasi.
Diskusi Malam di Bawah Lampu Temaram
Malam harinya, mereka menginap di rumah warga. Diskusi panjang tentang praktik pendampingan dan inovasi daerah masing-masing menemani cahaya lampu redup.
“Banyak hal yang bisa saya pelajari dari teman-teman dari luar daerah,” kata Rahman.
Perjalanan Panjang Menuju Yogyakarta
Setelah Cirebon, tim program inklusi melanjutkan perjalanan darat sekitar 12 jam ke Yogyakarta. Sementara anggota SHG dan perwakilan pemerintah desa/kelurahan kembali ke Mamuju, komunikasi tetap terjaga sepanjang perjalanan, memastikan semua dalam keadaan aman.
Refleksi dan Program Fase Dua
Di Yogyakarta, mereka membahas program fase dua untuk Sulawesi Barat, khususnya Mamuju.
“Kami merefleksikan kegiatan sebelumnya, tantangan yang muncul, dan mencari cara agar program fase dua lebih efektif,” ujar Rahman. Diskusi reflektif tersebut menjadi jantung pertemuan.
Hikmah dari Banyak Kisah
Selain agenda resmi, tim juga belajar dari pengalaman peserta lain. “Setiap cerita teman-teman memberi perspektif baru. Banyak hal yang bisa diterapkan di Mamuju,” kata Rahman. Pertukaran ide ini menjadi bekal penting untuk memperkuat gerakan inklusi di daerah.
Inklusi Bukan Sekadar Kata
Bagi Rahman, perjalanan ini lebih dari sekadar tugas. Ia menyadari bahwa inklusi bukan hanya kata, tetapi aksi nyata. “Kolaborasi dan semangat belajar bisa membawa perubahan,” ujarnya. Keberanian melangkah di tengah tantangan menumbuhkan dampak positif nyata.
Cahaya Kebaikan yang Membawa Inspirasi
Temu Inklusi dan perjalanan ke Yogyakarta membuktikan bahwa inklusi adalah kerja bersama. Dari pameran karya disabilitas hingga diskusi strategi program, setiap momen memberi inspirasi dan energi baru.
Rahman menutup pengalamannya dengan nada penuh harapan:
“Saya pulang dengan banyak pelajaran dan semangat baru untuk memperjuangkan hak-hak penyandang disabilitas di Mamuju.”
Kegiatan tersebut berlangsung dari tanggal 1 hingga 4 september 2025, Maya Sarmila yang akrab disapa Mae enggan berkomentar terkait perjalanan ini hanya mengirimkan foto sembari melempar senyum dan menunjukkan sebungkus obat berisi 4 tablet Antimo.
Semua itu terwujud berkat dukungan INKLUSI sebagai lembaga filantropis yang memfasilitasi perjalanan ini. Di antara gemuruh kota, cahaya kebaikan itulah yang menjaga nyala semangat Rahman dan kawan-kawan. (WSLIFE – Reportase)


