Dispusip Mamuju Pantik Budaya Kritis Generasi Muda Lewat Kampanye Literasi

waktu baca 3 menit
Suasana kampanye literasi yang digagas Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Mamuju dalam mendorong budaya kritis generasi muda.

Mamuju – Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Mamuju mendorong penguasaan keterampilan abad 21 dalam merelevansikan eksistensi generasi muda di tengah ancaman disrupsi digital dan stagnasi budaya baca.

Keterampilan itu, yakni Critical Thinking, Creativity, Communication, and Collaboration (4C). Topik menarik ini menjadi perbincangan fundamental dalam kampanye literasi yang digagas Dispusip Mamuju di Ruang Rindu, Sabtu, 18 Oktober 2025.

Kegiatan ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan upaya artikulatif untuk mengontekstualisasikan literasi sebagai fondasi daya saing dan resiliensi sosial-intelektual.

Kampanye bertajuk “Muda, Bergerak, Berdaya, dan Berdampak” ini menghimpun pelajar dan mahasiswa. Secara analitis, aktivitas literasi ini menyoroti pergeseran paradigma literasi.

Pemerhati literasi, Muhammad Zakir Akbar, menegaskan bahwa literasi saat ini telah melampaui batas kemampuan membaca teks (literasi fungsional).

“Empat skill yang relevan di abad ke-21 adalah berpikir kritis, berkreativitas, komunikatif, dan mampu berjejaring,” kata Zakir dalam paparannya pagi tadi.

Aspek paling menarik dari diskusi ini adalah interaksi akademik-jurnalistik yang membedah fenomena sosial-digital kontemporer.

Pertanyaan kritis dari peserta, Sakinah, mengenai doomscrolling kebiasaan kompulsif mengakses berita negatif menjadi penanda daruratnya kemampuan berpikir kritis.

Secara analitis, doomscrolling bukan hanya masalah psikologis, tetapi juga kegagalan fungsi critical thinking dalam memfilter dan memproses informasi.

Menanggapi hal tersebut, Zakir menekankan perlunya menghidupkan sikap skeptis sebagai mekanisme pertahanan epistemologis.

Dalam konteks jurnalistik, skeptisisme berfungsi sebagai verifikasi; dalam konteks akademik, ia adalah dasar untuk membangun argumen yang kokoh dan bebas bias.

Konsekuensinya, kegagalan dalam mengasah skeptisisme dapat membuat generasi muda rentan menjadi “konsumen informasi” pasif alih-alih “pencipta gagasan dan solusi.”

Pendekatan analitis diperkaya oleh pandangan Rinaldi Nur Ibrahim, Founder Youth Ranger Indonesia. Ia hadir untuk menempatkan literasi dalam bingkai lingkungan dan identitas diri.

Rinaldi menggarisbawahi urgensi “mengenali diri sendiri” sebelum terjebak dalam tren populer, sebuah perspektif yang resonan dengan teori perkembangan kognitif dan pembentukan identitas. Lebih lanjut, ia mengemukakan bahwa literasi yang berdaya memerlukan

“Lingkungan yang baik bisa mendorong kita berkembang,” ucapnya serius meski senyum semringah mewarnai wajahnya.

Secara sosiologis, hal ini menunjuk pada pentingnya peer group dan ekosistem sosial yang mendukung praktik membaca dan diskusi kritis, terutama untuk mengatasi paparan berlebihan terhadap “konten negatif di media sosial.”

“Solusinya terletak pada pemanfaatan media sosial secara bijak, mengubahnya dari sumber distraksi menjadi tools literasi,” kata Rinaldi.

Kepala Dispusip Mamuju, M. Fausan Basir, memberikan perspektif historis struktural yang krusial. Ia mengakui bahwa upaya menuju Kabupaten Mamuju yang literat adalah “pekerjaan berat”. Itu karena ada rintangan dan tangangan budaya yang feodalistis yang cenderung membatasi keterbukaan dan kritik.

Dari sudut pandang analitis-kebudayaan, pernyataan ini menyingkap tantangan terbesar literasi di Indonesia: bukan sekadar masalah ketersediaan buku, tetapi perombakan tradisi yang menghambat masyarakat menjadi terbuka, kritis, dan toleran.”

“Kalau orang literat, tidak anti kritik. Kritik justru menjadi vitamin yang menguatkan,” ucap Fausan.

Inisiatif Dispusip Mamuju, dengan agenda pembinaan perpustakaan sekolah, layanan keliling, dan gerakan relawan pustaka, dipandang sejalan dengan program Pemerintah Provinsi Sulbar, Gerakan Sulbar Mandarras.

Apresiasi dari Kepala DPKD Sulbar, Mustari Mula, memperkuat tesis bahwa penguatan literasi kini telah menjadi agenda struktural daerah, bukan lagi sekadar kegiatan insidental.

Secara keseluruhan, kegiatan literasi di Mamuju ini berhasil mentransformasi isu minat baca menjadi diskursus yang melibatkan analisis terhadap tantangan kognitif abad ke-21 (4C), fenomena sosial digital (doomscrolling), dan resistensi budaya-tradisi.

Hal ini menandai pergeseran dari sekadar gerakan membaca buku menjadi strategi pembangunan manusia yang berdaya kritis dan siap menghadapi kompleksitas disrupsi.

error: Content is protected !!
Play sound