Usulan Dispusip Menyulut Perubahan, Enam TBM Mamuju Dapat Ribuan Bacaan dan Rak Buku dari Pusat
Mamuju – Saat Taman Bacaan Masyarakat (TBM) diperkuat pemerintah, di situlah literasi lebih nyaring terdengar meski penuh dengan riuh kebisingan modernitas.
Di Kabupaten Mamuju, ada enam TBM yang memilih setia pada keheningan yang mencerdaskan, walau suara buku sering kali kalah oleh deru mesin dan bising politik.
TBM ini melaju perlahan dalam kepastian. Literasi akar rumput kian masif meski senyap dalam perbincangan. Tujuannya megah dalam balutan kesederhanaan; mencerdaskan masyarakat.
Tak seperti kisah negeri utopia yang pemangku kebijakannya abai. Di Mamuju, pemerintah daerah justru mendampingi mereka dalam berbagai aktivitas literasinya.
Baru-baru ini, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia mengirimkan seribu buku anak dan satu rak buku bagi setiap TBM. Tentu bukan sebagai ornamen, tetapi panggung kecil tempat kata-kata akan berdiri dan lantang bersuara.
TBM yang menerima bantuan bacaan berkualitas itu, yakni Gandang Dewata, Perpustakaan Karampuang, Perpustakan Literacy For Humanity, TBM Indonesia Membaca, TBM Desa Orobatu, dan Perpustakaan Akar Air Institute.
Di balik hadiah itu, terdapat institusi yang bergerak dalam diam. Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Mamuju melalui usulan yang sunyi namun pasti, menjadi penghubung antara mimpi dan kebijakan pusat.
Dispusip Kabupaten Mamuju kian gencar menanam benih literasi. Mereka menyusun rekomendasi bukan hanya menggunakan tinta birokrasi, tetapi dengan keyakinan bahwa kata-kata harus sampai ke tengah masyarakat.
“Bantuan ini dalam rangka penguatan literasi masyarakat. Bukan sekadar bacaan, ini adalah harapan besar Pemerintah Kabupaten Mamuju untuk melahirkan generasi yang literat dan berpengetahuan,” Kepala Dispusip Mamuju, M. Fausan Basir menjelaskannya dengan cukup antusiasi, siang tadi.
Terucap dalam ketegasan, Fausan ingin semua TBM mendapat bantuan yang sama. Sayangnya, pusat memiliki kriteria khusus bagi calon penerima. Tidak hanya pada aspek legalitas, tetapi juga aktivitas. Parameter itulah yang membatasi langkah pemerintah daerah mengakomodasi semua TBM.
“Harus punya SK pendirian dari pemerintah setempat, aktif berkegiatan, punya lembar komitmen, dan sebagainya. Hanya enam TBM itu yang memenuhi persyaratan,” pungkasnya menutup percakapan.
Di balik ruangan yang berbeda, salah satu penerima bantuan cukup terkesima dengan upaya Pemerintah Kabupaten Mamuju melalui Dispusip. Dia adalah Syafri Arifuddin Masser, pendiri Literacy For Humanity.
Di matanya, TBM-nya terpilih bukan semata-mata berlandaskan pada keberuntungan, tetapi kesamaan tekad untuk menggalakkan literasi di Bumi Manakarra. Dia menilai, Pemerintah Kabupaten Mamuju bukan sekadar pengelola wilayah, tetapi suar dari pelosok negeri untuk mencerdaskan masyarakat.
“Jika ingin sekaligus membeli bacaan hingga seribu buku rasanya cukup sulit. Dengan bantuan, mimpi kami menjadi kenyataan. Ini menjadi amunisi bagi kami untuk mengintensifkan literasi bersama pemerintah,” ucap Syafri dengan singkat.




