BPS Ungkap Kunci Sulbar Jadi Terbaik se-Sulawesi Tekan Angka Pengangguran

waktu baca 3 menit

Mamuju – Badan Pusat Statistik (BPS) Sulawesi Barat mengungkap sejumlah faktor yang mendorong Provinsi Sulawesi Barat menjadi daerah terbaik di Regional Sulawesi dalam kategori penurunan tingkat pengangguran tahun 2026.

Keberhasilan tersebut tidak hanya ditopang pertumbuhan sektor formal, tetapi juga kuatnya peran sektor informal dalam menyerap tenaga kerja.

Capaian itu mengantarkan Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat meraih penghargaan pada ajang Apresiasi Pemerintah Daerah Berprestasi Tahun 2026 Regional Sulawesi.

Penghargaan tersebut diserahkan kepada Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka, di Kendari, Sulawesi Tenggara (29/5). Sulbar juga menerima insentif fiskal senilai Rp3 miliar.

Kepala BPS Sulawesi Barat, Suri Handayani, mengatakan penurunan angka pengangguran merupakan hasil dari meningkatnya penyerapan tenaga kerja di berbagai sektor ekonomi. Salah satu faktor yang berkontribusi adalah pelaksanaan program padat karya yang mampu membuka kesempatan kerja bagi masyarakat.

Menurutnya, program tersebut memberikan ruang bagi masyarakat untuk tetap memperoleh pekerjaan dan penghasilan, terutama kelompok rentan yang menghadapi keterbatasan aktivitas ekonomi pada kondisi tertentu.

Namun, Suri Handayani menegaskan, bahwa ukuran keberhasilan menekan pengangguran tidak bisa hanya dilihat dari bertambahnya pekerja formal. Struktur pasar kerja di Sulawesi Barat masih didominasi sektor informal yang memiliki kontribusi besar terhadap penyerapan tenaga kerja.

“Kalau bicara pengangguran, kita tidak bisa hanya melihat satu angka. Dunia kerja itu ada sektor formal dan nonformal. Pekerja bebas, pelaku usaha mandiri, hingga UMKM yang tidak memiliki pekerja tetap juga termasuk bekerja dalam sektor nonformal,” jelas Suri Handayani.

Ia menjelaskan pekerja mandiri, pelaku usaha mikro, pedagang kecil, hingga pekerja bebas tetap masuk dalam kategori penduduk bekerja berdasarkan metodologi ketenagakerjaan BPS. Karena itu, pertumbuhan sektor informal menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi penurunan tingkat pengangguran.

Data BPS menunjukkan kondisi ketenagakerjaan Sulawesi Barat mengalami perbaikan sepanjang setahun terakhir. Jumlah penduduk bekerja pada Februari 2026 mencapai 801,23 ribu orang atau bertambah 36,61 ribu orang dibandingkan Februari 2025.

Pada periode yang sama, jumlah pengangguran turun menjadi 24,20 ribu orang. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tercatat sebesar 2,93 persen, lebih rendah dibandingkan 3,17 persen pada Februari tahun sebelumnya.

Perbaikan juga terlihat pada tingkat partisipasi masyarakat dalam pasar kerja. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) Sulawesi Barat mencapai 73,75 persen pada Februari 2026, naik dari 71,81 persen pada periode yang sama tahun lalu.

Dari total 1,12 juta penduduk usia kerja, sebanyak 825,43 ribu orang masuk kategori angkatan kerja. Sementara 293,78 ribu orang tergolong bukan angkatan kerja.

BPS mencatat sektor pertanian masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di Sulawesi Barat. Selain itu, sektor perdagangan dan industri pengolahan turut berkontribusi besar dalam menciptakan lapangan kerja.

Meski sektor informal masih mendominasi dengan jumlah 575,03 ribu pekerja atau 71,77 persen dari total pekerja, sektor formal juga menunjukkan tren positif. Jumlah pekerja formal meningkat menjadi 226,20 ribu orang atau 28,23 persen dari total pekerja, lebih tinggi dibandingkan 215,40 ribu orang pada Februari 2025.

Kualitas pekerjaan pun menunjukkan perbaikan. BPS mencatat jumlah pekerja penuh yang bekerja minimal 35 jam per minggu mencapai 411,31 ribu orang atau 51,34 persen dari total pekerja.