Dorong Literasi Pelajar, Lingkar Literasi Intensif dan Dispusip Bedah Film Bersama Lintas OSIS Mamuju

waktu baca 2 menit
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Mamuju, M. Fausan Basir berdialog dengan peserta bedah film.

Mamuju – Komunitas Lingkar Literasi Intensif dan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kabupaten Mamuju berkolaborasi mendorong literasi pelajar lewat bedah film.

Kegiatan ini berlangsung di Home Theater Dispusip Mamuju, Kamis malam tadi, (4/9). Puluhan pelajar SMA dan SMK yang hadir merupakan fungsionaris lintas OSIS Mamuju.

Selama empat jam, peserta menonton dan mendiskusikan film “Roald Dahl’s Matilda the Musical.” Film ini mengisahkan gadis cerdas yang gemar membaca, namun hidup di keluarga yang tak peduli pendidikan.

Kegiatan dipimpin Ray Akbar Ramadan, Founder Lingkar Literasi Intensif. Pembedah film yang hadir, yaitu Syafri Arifuddin Masser dan Moch. Ferdi Al-Qadry.

Suasana bedah film yang diikuti puluhan siswa dan siswi lintas OSIS Mamuju.

“Terima kasih kepada Lingkar Literasi Intensif telah menginisiasi kegiatan ini. Semoga ini menjadi awal pelajar Mamuju rajin ke perpustakaan,” ujar Kepala Dispusip Mamuju, M. Fausan Basir memberi apresiasi.

Ray Akbar menjelaskan, bedah film ini lahir dari rapat koordinasi lintas OSIS pada 31 Agustus 2025. Forum tersebut sepakat membuat pertemuan rutin setiap Kamis malam dan Minggu. Kesepakatan itu mendapat dukungan penuh dari Kepala Dispusip Mamuju.

“Dukungan tersebut menjadi titik awal bagi kami untuk menginisiasi kegiatan bedah film dalam mewujudkan tradisi literasi di kalangan pelajar,” ucap Ray.

Dia menjelaskan alasannya memilih film Matilda. Menurut Ray, film “Roald Dahl’s Matilda the Musical” tak sekadar menyuguhkan hiburan.

Ia menjadi simbol, sekaligus pemantik berpikir kritis di kalangan pelajar. Terutama di tengah realitas zaman yang kian kompleks.

Foto bersama inisiator kegiatan, pembedah, dan peserta bedah film.

Melalui film itu, Ray berupaya mempertegas bahwa literasi bukan hanya soal membaca buku. Melainkan membangun kesadaran dan sensitivitas generasi muda.

“Agar mampu menafsirkan perubahan, menjawab tantangan, dan menyiapkan diri sebagai pribadi yang peka terhadap arus perkembangan zaman,” terangnya.

Salah seorang pelajar, Auksilia Krisdayanti bersyukur dapat mengikuti bedah film itu. Tempat diskusi yang nyaman dan aman membuatnya betah berdiskusi. Selama kegiatan, ia pun mendapat banyak pengetahuan baru.

“Banyak pembelajaran-pembelajaran baru yang bisa kita dapatkan. Kalau dinilai, kegiatan ini seribu dari per sepuluh (rating, red),” ujarnya antusias.

Dari film Matilda, Auksilia belajar tentang pentingnya keberanian dan percaya diri. Bagi dirinya, keberanian sekecil apa pun dapat memberi dampak besar bagi lingkungan sekitar.

“Semoga kegiatan seperti ini terus diadakan karena sangat bermanfaat bagi kami yang masih pelajar,” pungkas Auksilia.

error: Content is protected !!
Play sound