Jembatan Gantung Salu Patagang Dikebut, Korem 142/Tatag Jawab Isolasi dan Ketimpangan Akses di Pasangkayu

waktu baca 2 menit
Komandan Korem 142/Tatag Brigjen TNI Hartono saat meletakkan batu bertama pembangunan groundbreaking jembatan gantung Perintis Garuda Sungai Salu patagang, Pasangkayu.

Pasangkayu – Pembangunan jembatan gantung di Sungai Salu Patagang merupakan respons cepat Korem 142/Tatag terhadap persoalan klasik di daerah. Mulai dari keterisolasian wilayah, mahalnya distribusi hasil kebun, hingga sulitnya akses pendidikan di Pasangkayu.

Komandan Korem 142/Tatag Brigjen TNI Hartono memimpin langsung peletakan batu pertama proyek tersebut, Kamis (2/4), di Lingkungan Tinapu, Kelurahan Pasangkayu. Keterlibatan TNI menunjukkan proyek ini masuk prioritas strategis nasional, bukan sekadar agenda daerah.

Sejumlah pejabat daerah hadir dalam kegiatan itu, mulai dari Wakil Bupati Pasangkayu, Dr. Hj. Erni Agus hingga unsur Forkopimda.

Kehadiran lintas sektor ini mempertegas bahwa pembangunan jembatan tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari upaya terpadu membuka akses wilayah.

Brigjen TNI Hartono menegaskan, proyek tersebut berada dalam kerangka program nasional yang digerakkan langsung pemerintah pusat melalui Kepala Staf Angkatan Darat.

Groundbreaking ini bukan hanya seremoni peletakan batu pertama, tetapi wujud nyata perhatian negara dalam menjawab kebutuhan masyarakat, khususnya di wilayah yang masih menghadapi keterbatasan akses,” kata Brigjen TNI Hartono.

Selama ini, warga di sejumlah titik Pasangkayu menghadapi hambatan mobilitas akibat keterbatasan infrastruktur penghubung. Sungai yang menjadi jalur alami justru berubah menjadi penghalang utama aktivitas ekonomi dan sosial.

Kondisi tersebut berdampak langsung pada rantai distribusi komoditas, terutama kelapa sawit yang menjadi tulang punggung ekonomi lokal. Biaya logistik tinggi dan waktu tempuh panjang membuat nilai jual hasil kebun tidak optimal.

Namun, Hartono menekankan persoalan paling mendesak bukan hanya ekonomi, melainkan akses pendidikan yang masih timpang.

“Bapak Presiden sangat tersentuh melihat kondisi anak-anak sekolah yang harus menyeberangi sungai dengan berjalan kaki bahkan basah kuyup. Ini menjadi salah satu alasan utama percepatan pembangunan jembatan. Pendidikan adalah kunci utama kemajuan bangsa, dan akses menuju sekolah tidak boleh menjadi hambatan,” ungkapnya.

Fakta anak-anak harus mempertaruhkan keselamatan untuk bersekolah menunjukkan masih lebarnya jurang layanan dasar di daerah. Dalam konteks ini, jembatan gantung menjadi simbol intervensi negara untuk memutus rantai ketertinggalan.

Hartono mengingatkan keterbatasan akses pendidikan berpotensi menurunkan kualitas sumber daya manusia dan memperkuat lingkaran kemiskinan. Karena itu, pembangunan infrastruktur harus dilihat sebagai investasi sosial jangka panjang, bukan sekadar proyek fisik.

Prosesi peletakan batu pertama berlangsung khidmat dan mendapat respons antusias warga. Bagi masyarakat setempat, proyek ini membawa harapan konkret atas perubahan yang selama ini dinanti.