Pemikiran Sokrates sebab Keabadian Filsafat

waktu baca 10 menit
Ray Akbar Ramadhan, pemuda asal Kabupaten Mamuju, Provinsi Sulawesi Barat.

Opini ini ditulis oleh Ray Akbar Ramadhan

Filsafat lahir dari kegelisahan manusia dalam memahami realitas, diri, dan makna kehidupan. Di antara tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah filsafat Barat adalah Sokrates (469–399 SM), seorang filsuf Athena yang tidak meninggalkan karya tulis, tetapi pemikirannya tetap abadi melalui murid-muridnya, terutama Plato.

Kehadirannya menandai peralihan penting dari filsafat kosmologis pra-Sokrates, yang berfokus pada asal-usul alam semesta, menuju filsafat etis-antropologis yang menempatkan manusia dan moralitas sebagai pusat kajian.

Sokrates dikenal karena metode tanya-jawab dialektisnya (elenchus) yang bertujuan menyingkap ketidaktahuan dan mendorong pencarian kebenaran. Prinsipnya, “kenalilah dirimu”, menjadi dasar bagi upaya filsafat dalam membangun kesadaran moral dan intelektual. Ia meyakini bahwa kebajikan adalah pengetahuan, dan tanpa pengetahuan yang benar, manusia tidak akan mencapai kehidupan yang baik (eudaimonia).

Meskipun akhirnya dihukum mati oleh negaranya sendiri karena dituduh merusak moral pemuda dan menentang tradisi, konsistensi Sokrates dalam mempertahankan kebenaran menjadikannya simbol keberanian moral. Pemikirannya tidak hanya memengaruhi Plato dan Aristoteles, tetapi juga meletakkan fondasi bagi perkembangan filsafat etika, politik, hingga pendidikan.

Oleh karena itu, pemikiran Sokrates dapat disebut sebagai salah satu sebab keabadian filsafat: ia menjadikan filsafat bukan sekadar spekulasi tentang kosmos, tetapi sebagai seni hidup, jalan menuju kebijaksanaan, dan pencarian kebenaran universal yang terus relevan sepanjang zaman.

Biografi Singkat Sokrates

1. Kehidupan Awal dan Keluarga

Sokrates lahir sekitar tahun 469 SM di Athena. Ayahnya, Sophroniskos, adalah seorang pemahat batu, sedangkan ibunya, Phainarete, seorang bidan. Dari latar belakang ini, Sokrates sering menggunakan analogi “melahirkan pengetahuan” dalam metode filsafatnya. Ia menikah dengan Xanthippe dan memiliki beberapa anak. Walaupun hidup sederhana, ia lebih banyak menghabiskan waktu berdialog di ruang publik daripada bekerja mencari harta.

2. Aktivitas dan Gaya Hidup

Sokrates terkenal sebagai sosok yang sederhana dan asketis. Ia menolak kekayaan dan jabatan politik demi hidup sesuai prinsip filsafat. Kehidupannya dihabiskan di agora (alun-alun kota), tempat ia berdialog dengan warga Athena: politisi, pengrajin, pemuda, bahkan orang asing. Ia tidak menulis karya, karena percaya bahwa kebenaran lebih hidup dalam dialog ketimbang tulisan.

3. Metode dan Murid-Muridnya

Sokrates mengembangkan metode tanya jawab (dialektika atau elenchus) untuk menguji kebenaran pendapat lawan bicara. Dengan metode ini, ia berhasil menggugah kesadaran banyak orang, termasuk tokoh-tokoh muda yang kelak menjadi filsuf besar, seperti Plato, Xenophon, dan Antisthenes. Dari murid-murid inilah pemikiran Sokrates kemudian diwariskan ke dunia.

4. Konflik dengan Masyarakat Athena

Keberaniannya mengkritik para pejabat dan tradisi masyarakat membuat Sokrates sering dianggap provokatif. Ia dituduh “merusak akhlak pemuda” dan “tidak menghormati dewa-dewa negara.” Tuduhan ini berpuncak pada pengadilan tahun 399 SM, di mana ia divonis bersalah oleh mayoritas juri Athena.

5. Pengadilan dan Kematian

Dalam Apology yang ditulis Plato, Sokrates membela diri dengan menyatakan bahwa ia hanya menjalankan tugas filsafat untuk mencari kebenaran dan membimbing manusia ke arah kebajikan. Namun, vonis tetap dijatuhkan: hukuman mati dengan meminum racun hemlock. Ia menerima hukuman itu dengan tenang, menunjukkan konsistensinya terhadap prinsip: lebih baik mati demi kebenaran daripada hidup dalam ketidakadilan.

6. Warisan dan Pengaruh

Meskipun tidak menulis karya, pengaruh Sokrates sangat besar melalui murid-muridnya, terutama Plato yang mendokumentasikan ajaran dan dialognya. Dari Plato, pemikiran Sokrates mengalir ke Aristoteles, lalu menjadi fondasi utama filsafat Barat.

Konsep Filsafat Sokrates

1. Orientasi Antroposentris

Sokrates menggeser perhatian filsafat dari kosmologi (asal-usul alam) menuju manusia. Menurutnya, yang lebih penting bukanlah bagaimana alam semesta tercipta, tetapi bagaimana manusia menjalani hidup yang baik dan bermoral. Dengan pendekatan ini, Sokrates meletakkan dasar bagi lahirnya filsafat etika.

2. Know Thyself (Kenalilah Dirimu)

Salah satu ajaran paling terkenal dari Sokrates adalah seruan gnōthi seauton (“kenalilah dirimu”). Ia percaya bahwa manusia yang memahami dirinya akan mampu menjalani kehidupan yang benar. Pengakuan terhadap keterbatasan dan ketidaktahuan justru menjadi pintu menuju kebijaksanaan.

3. Kebajikan adalah Pengetahuan (Virtue is Knowledge)

Bagi Sokrates, kebajikan (arete) hanya dapat dicapai melalui pengetahuan. Orang yang mengetahui apa yang baik pasti akan melakukannya, sedangkan kejahatan timbul karena ketidaktahuan (ignorance). Dengan demikian, pendidikan dan pencerahan akal budi menjadi sarana utama membentuk moralitas.

4. Metode Dialektika / Elenchus (Metode Sokratis)

Metode khas Sokrates adalah dialog tanya-jawab kritis untuk menguji pendapat lawan bicara. Tujuannya bukan sekadar menjatuhkan, melainkan menuntun lawan bicara pada kesadaran diri dan pemahaman yang lebih benar. Tahapan umumnya:

  • Sokrates mengajukan pertanyaan mendasar.
  • Lawan bicara memberi jawaban spontan dilakukan.
  • Sokrates menguji jawaban itu dengan pertanyaan lanjutan.
  • Muncul kontradiksi yang membuat lawan bicara sadar akan ketidaktahuannya.
  • Hasil akhirnya adalah pengakuan bahwa pencarian kebenaran harus terus dilakukan.

5. Ironi Sokratis

Dalam dialog, Sokrates sering berpura-pura tidak tahu (ironia). Sikap ini memancing lawan bicara untuk mengemukakan pendapat mereka secara jujur. Dengan cara itu, Sokrates dapat menunjukkan kelemahan argumen mereka.

6. Etika dan Moral

Bagi Sokrates, etika harus didasarkan pada rasio, bukan pada mitos atau otoritas tradisi. Ia menekankan nilai-nilai integritas, kejujuran, keberanian moral, serta komitmen pada kebenaran. Kesediaannya menerima hukuman mati daripada meninggalkan prinsipnya menunjukkan konsistensi etisnya.

7. Hidup yang Baik (Eudaimonia)

Sokrates menekankan bahwa tujuan hidup manusia adalah eudaimonia (kebahagiaan atau hidup yang bermakna). Namun, kebahagiaan bukanlah kesenangan jasmani, melainkan hasil dari jiwa yang selaras dengan kebajikan.

Kontribusi dan Pengaruh Sokrates

1. Peletak Dasar Filsafat Moral

Sokrates dikenal sebagai “Bapak Etika” karena untuk pertama kalinya ia menjadikan pertanyaan tentang kebaikan, kebajikan, dan bagaimana manusia seharusnya hidup sebagai pusat filsafat. Ia meyakinkan orang Athena bahwa pencarian pengetahuan tidak hanya tentang alam semesta, melainkan juga tentang moralitas dan jiwa manusia.

2. Transformasi Filsafat Yunani

Dengan mengalihkan perhatian dari kosmologi ke antropologi, Sokrates mengubah arah filsafat Yunani. Perubahan ini menjadi dasar kelahiran filsafat etika, politik, dan pendidikan di masa-masa setelahnya.

3. Pengaruh terhadap Plato

Plato, murid terdekat Sokrates, menuliskan banyak dialog yang menghadirkan Sokrates sebagai tokoh utama. Melalui Plato, gagasan-gagasan Sokrates diwariskan ke dunia. Pemikiran tentang jiwa, kebajikan, dan metode dialektis kemudian dikembangkan lebih lanjut dalam filsafat idealisme Plato.

4. Pengaruh terhadap Aristoteles

Meskipun lebih banyak belajar dari Plato, Aristoteles tetap terinspirasi oleh Sokrates, terutama dalam pencarian definisi universal dan hubungan antara pengetahuan dan kebajikan. Aristoteles kemudian menyempurnakan konsep etika menjadi Etika Nikomakea.

5. Dampak dalam Sejarah Filsafat Barat

Tradisi filsafat kritis (bertanya, menguji, berdialog) menjadi ciri utama filsafat Barat hingga kini.

Ajarannya tentang integritas moral memengaruhi tradisi humanisme dan pemikiran modern tentang pendidikan.

Filsafat hukum dan politik juga terinspirasi dari prinsip keberanian Sokrates menghadapi kematian demi kebenaran.

6. Pengaruh Lintas Zaman

Era Helenistik: Stoisisme dan Skeptisisme mengambil semangat Sokratis dalam kesederhanaan hidup dan keraguan metodis.

Era Kristen Awal: Kehidupan dan kematian Sokrates kerap disandingkan dengan kisah Yesus, sama-sama guru moral yang dihukum mati demi kebenaran.

Era Modern: Filsuf seperti Descartes, Kant, hingga Kierkegaard menjadikan Sokrates sebagai model filsuf sejati yang berani mempertanyakan segalanya.

Kritik terhadap Pemikiran Sokrates

1. Ketiadaan Tulisan Asli

Sokrates tidak meninggalkan karya tulis. Semua pemikiran dan ajarannya diketahui hanya melalui catatan murid-muridnya (Plato, Xenophon) dan karikatur dari lawannya (Aristophanes). Hal ini membuat sulit membedakan mana gagasan asli Sokrates dan mana yang sudah dipengaruhi interpretasi Plato.

2. Konsep “Kebajikan = Pengetahuan”

Sokrates berpendapat bahwa orang yang tahu kebaikan pasti akan melakukannya. Kritik terhadap pandangan ini adalah:

Psikologi moral: tidak semua orang yang tahu mana yang baik pasti melakukannya; faktor nafsu, emosi, dan kehendak sering mengalahkan akal.

Relativitas moral: dalam praktik sosial, definisi kebaikan bisa berbeda-beda, tidak selalu bisa ditentukan oleh pengetahuan rasional semata.

3. Pendekatan Elitis

Metode dialog Sokrates lebih banyak dilakukan dengan kalangan intelektual atau pemuda kota, bukan masyarakat luas. Hal ini menimbulkan kesan bahwa filsafatnya kurang menyentuh dimensi praktis bagi seluruh lapisan masyarakat.

4. Tuduhan Sosial dan Politik

Di mata sebagian warga Athena, Sokrates dianggap berbahaya karena:
Mengkritik kepercayaan tradisional terhadap dewa-dewa.
Diduga merusak moral pemuda dengan mengajarkan mereka mempertanyakan otoritas.
Hubungan murid-muridnya dengan politik (misalnya Alcibiades yang berkhianat pada Athena) memperburuk citranya.

5. Paradoks Etika

Sokrates menekankan keberanian moral, tetapi sebagian menganggap sikapnya di pengadilan terlalu keras kepala. Ia memilih mati daripada kompromi, yang oleh sebagian orang dilihat sebagai bentuk kesombongan filosofis, bukan semata keberanian.

Kaum Sofis dan Pandangannya

Kaum Sofis adalah guru bayaran di Athena pada abad ke-5 SM yang mengajarkan retorika, logika praktis, dan keterampilan berdebat.

Mereka berpandangan relativistik: kebenaran itu bergantung pada situasi, tempat, dan kepentingan. Protagoras misalnya mengatakan: “Manusia adalah ukuran segala sesuatu.”

Bagi Sofis, realitas eksternal (alam, hukum, norma sosial) bukan sesuatu yang tetap. Ia hanyalah hasil kesepakatan manusia (nomos), sehingga bisa berubah sesuai kebutuhan praktis.

Karena itu, mereka lebih menekankan realitas internal praktis berupa kemampuan berargumentasi dan memenangkan debat, bukan mencari kebenaran objektif.

2. Kritik dan Perdebatan dari Sokrates

Sokrates menentang pandangan Sofis dengan beberapa argumen:

a. Soal Realitas Eksternal

Sokrates mengakui bahwa dunia luar (eksternal) memang dapat memengaruhi manusia, tetapi baginya yang lebih penting adalah bagaimana jiwa (internal) meresponsnya.

Ia menekankan bahwa realitas eksternal (hukum, tradisi, atau opini publik) bisa salah, sedangkan kebenaran sejati hanya dapat dicapai dengan akal dan refleksi diri.

Dengan metode dialektika, Sokrates berusaha membedakan opini (doxa) yang relatif dengan pengetahuan sejati (episteme) yang universal.

b. Soal Realitas Internal

Bagi Sokrates, realitas internal manusia adalah jiwa. Jiwa inilah yang menentukan baik-buruknya tindakan.

Jiwa tidak boleh tunduk begitu saja pada realitas eksternal yang berubah-ubah. Sebaliknya, jiwa harus dipandu oleh pengetahuan sejati tentang kebaikan.

Jadi, walaupun faktor eksternal (lingkungan sosial, hukum, tradisi) dapat memengaruhi, yang menentukan nilai moral tetaplah kesadaran rasional internal.

c. Perbedaan Kunci dengan Sofis

Sofis: realitas eksternal (opini masyarakat, hukum, kepentingan politik) membentuk kebenaran → sehingga kebenaran relatif.

Sokrates: realitas eksternal hanyalah ujian bagi jiwa. Yang menentukan adalah realitas internal berupa pengetahuan moral yang benar → sehingga kebenaran universal.

3. Contoh Konkret dalam Perdebatan

Sofis bisa mengatakan: “Jika suatu kota sepakat bahwa korupsi itu boleh, maka itu benar bagi kota itu.”

Sokrates menolak: “Kesepakatan eksternal tidak menentukan kebenaran. Jika korupsi merusak jiwa dan masyarakat, maka ia tetap salah, sekalipun dibenarkan oleh hukum.”

4. Implikasi

Dari perdebatan ini lahir dua tradisi:

Relativisme Sofis → kebenaran bersifat praktis, bergantung pada kondisi eksternal.

Universalisme Sokrates → kebenaran sejati ada dalam jiwa yang tahu dan menjalankan kebajikan, meskipun bertentangan dengan opini eksternal.

Inilah sebabnya Sokrates berani menolak kompromi dengan pengadilan Athena; baginya realitas eksternal (putusan hukum) tidak boleh mengalahkan realitas internal (kesadaran moral).

Kesimpulan

Sokrates (469–399 SM) merupakan salah satu tokoh paling berpengaruh dalam sejarah filsafat Yunani. Ia hadir pada masa peralihan dari filsafat kosmologis pra-Sokrates menuju filsafat etis-antropologis. Fokus utamanya adalah manusia, moralitas, dan pencarian kebenaran melalui akal.

Konsep-konsep kunci Sokrates—know thyself, “kebajikan adalah pengetahuan”, metode dialektika (elenchus), dan ironi—menjadi fondasi bagi filsafat etika dan pendidikan kritis. Ia menegaskan bahwa hidup yang baik (eudaimonia) tidak dapat dicapai tanpa kebajikan, dan kebajikan hanya dapat diperoleh melalui pengetahuan.

Meski tidak meninggalkan tulisan, pengaruh Sokrates tetap abadi berkat murid-muridnya, terutama Plato, yang meneruskan dan mengembangkan pemikirannya. Kontribusinya meliputi: peletakan dasar filsafat moral, pembentukan tradisi dialog kritis, serta inspirasi bagi perkembangan etika, politik, dan pendidikan di sepanjang sejarah filsafat Barat.

Namun, ajarannya juga tidak lepas dari kritik. Pandangannya tentang hubungan pengetahuan dan kebajikan dianggap terlalu rasionalistik, sementara posisinya dalam masyarakat Athena membuatnya dituduh merusak moral pemuda dan menentang tradisi. Meski demikian, sikap teguhnya dalam menghadapi kematian menunjukkan konsistensi etis yang mengilhami banyak generasi setelahnya.

Dengan demikian, Sokrates tidak hanya menjadi seorang filsuf, tetapi juga simbol keberanian moral, integritas, dan pencarian kebenaran yang tiada henti—sebuah warisan intelektual yang tetap relevan hingga era modern.

Referensi :

Buku Utama

1. Plato. Apology, Crito, Phaedo. Terjemahan oleh G.M.A. Grube. Indianapolis: Hackett Publishing, 2000.

2. Xenophon. Memorabilia. Terjemahan Amy L. Bonnette. Ithaca: Cornell University Press, 1994.

3. Aristophanes. Clouds. Dalam The Complete Plays. New York: Bantam, 1981.

Buku Sekunder

4. Copleston, Frederick. A History of Philosophy: Greece and Rome. New York: Image Books, 1993.

5. Guthrie, W.K.C. A History of Greek Philosophy: Socrates. Cambridge: Cambridge University Press, 1969.

6. Stumpf, Samuel Enoch. Socrates to Sartre and Beyond: A History of Philosophy. New York: McGraw-Hill, 2010.

7. Reeve, C.D.C. Socrates in the Apology: An Essay on Plato’s Apology of Socrates. Indianapolis: Hackett, 1989.

8. Benson, Hugh H. (ed.). A Companion to Plato. Malden: Blackwell Publishing, 2006.

Artikel/Jurnal

9. Vlastos, Gregory. “The Socratic Elenchus.” Oxford Studies in Ancient Philosophy 1 (1983): 27–58.

10. Brickhouse, Thomas C. & Smith, Nicholas D. Socrates on Trial. Princeton: Princeton University Press, 1989.

error: Content is protected !!
Play sound