TMMD Bebaskan Ribuan Jiwa dari Belenggu Beragam Rupa
Riuh tapak sepatu laras memecah kesunyian Kecamatan Tobadak. Ratusan serdadu itu mengemban misi pembebasan. Tiada granat apalagi sepucuk senapan. Mereka hanya dibekali perkakas pertukangan sebagai senjata. Operasi non militer itu bernama TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD).
TMMD bukan sekadar merubah wajah perdesaan. Bukan pula program kolaborasi tanpa strategi. Ia merajut harmoni pada simfoni kemajemukan dalam bingkai nasionalisme dan pemerataan pembangunan.
Rabu, 23 Juli 2025, gong TMMD Kodim 1418/Mamuju tertabuh lantang. Upacara pembukaan ini menjadi titik awal dimulainya gerakan perubahan. Dengan semangat patriotisme, prajurit akan menyisir satu per satu harapan masyarakat yang bertahun-tahun tertambat pada waktu. Bukan sekadar menggali cerita, tetapi mewujudkannya dengan cara yang berbeda.

Empat desa dari dua kecamatan menjadi gelanggang program TMMD ke-125. Selama 30 hari, bala tentara akan membebaskan ribuan jiwa dari belenggu penderitaan beragam rupa. Problematika itu bermacam-macam bentuk dan tersebar di sudut- sudut desa.
Di Kecamatan Tobadak, Desa Sejati tersandera jalan berlumpur dua setengah dekade. Seribu tiga ratus jiwa terasingkan bila hujan turun menghujam. Menyusuri jalan berbatu menuju Desa Saloadak, rumah lapuk Sibubung berdiri renta dalam kesunyian. Di desa itu pula, berdiri masjid usang yang mendambakan sentuhan warna dan sanitasi layak.
Sebagai sumber kehidupan, mata air juga menjadi dambaan masyarakat Desa Polongaan, Kecamatan Tobadak dan Desa Salugatta, Kecamatan Budong-Budong. Tetesannya dapat menambah masa panen padi dan mengisi bejana warga yang kesulitan mencari sumber air.
Seratus lima puluh personel gabungan siap menuntaskan masalah itu. Bukan prajurit TNI saja, tetapi personel Polri, pemerintah kabupaten, dan masyarakat setempat. Mereka bersatu padu menguatkan asa untuk membangun desa dalam dingin dan terik.

Memacu program TMMD, Kodim 1418/Mamuju menyiapkan ratusan perkakas. Mulai dari sekop, cangkul, martil, gergaji, linggis, serta berbagai macam peralatan lainnya. Selain alat manual, dihadirkan pula berbagai alat berat berupa satu mesin grader dan wheel loader, dua unit ekskavator serta delapan unit dump truck. Suntikan dana TMMD berasal dari Pemerintah Kabupaten Mamuju Tengah senilai Rp750 juta dan TNI sebesar Rp483,5 juta.
Sebagai sasaran pokok, peningkatan jalan sepanjang 4,2 kilometer di Desa Sejati menjadi prioritas utama. Tidak heran personel gabungan itu langsung berbondong-bondong memadati desa itu.
Prahara Tanah Sejati, Sirna di Tangan TNI

Bagi warga Desa Sejati, gemericik hujan memendam definisi menakutkan dari sekadar berkah dari langit. Secara berkelindan, hujan menjadi simbol kesuburan, tetapi juga pertanda keterasingan.
Selama 25 tahun, hujan menjadi pedang bermata dua yang terhunus lewat doa. Tetesannya menikam keringnya ladang, tetapi juga menebas langkah ribuan jiwa. Berkah dan bencana seakan hadir dalam satu tarikan napas.
Desa Sejati berada di ujung timur Kecamatan Tobadak, Kabupaten Mamuju Tengah, Provinsi Sulawesi Barat. Ia bersemayang di tengah pelukan bukit dan pepohonan sawit. Di atas lahan seluas 288,28 km², seribu tiga ratus jiwa hidup harmonis. Sejati merupakan akronim dari Sulawesi-Jawa-Timor Timur, sebuah entitas awal yang mendiami wilayah tersebut.
Dari kota kabupaten, Desa Sejati hanya berjarak 32 kilometer. Dengan sepeda motor, cukup berkendara 1,5 jam saja. Waktu tempuh bertambah sejam bila menggunakan roda empat. Walau terdengar dekat, akses menuju perkampungan itu seakan menari di tepi ajal.
Sepanjang lintasan, jurang nan curam menganga di bibir jalan. Tiada bebatuan apalagi pengaman di setiap sisinya. Hanya tanah merah yang rapuh dan mudah amblas. Walau lebarnya 2,5 meter, jalan itu selalu berhasil membuat jantung berdegup kencang.
Nuansa mencekam semakin pekat seiring rintik hujan turun menghujam. Dalam sekejap, tanah yang semula kering menjelma menjadi lautan lumpur. Jalanan amblas dan tebing yang runtuh menjadi pemandangan lumrah dalam setiap peristiwa.
Kendaraan meluncur bebas jika memaksa melintas. Bila itu terjadi, tiada pilihan lain kecuali menerjang tebing atau tersungkur ke dalam lembah. Sejumlah kejadian nahas menjadi kisah kelam di desa itu.
Kepala Desa Sejati, Nurdin Karim mulai menyusuri ingatan pada nasib pilu desanya. Kata demi kata yang terlontar menguak kondisi penduduk yang selama ini bergantung pada hujan. Sembilan puluh persen warga menjadikan ladang sawit sebagai tulang punggung ekonomi keluarga. Ada yang bekerja sebagai petani dan sisanya buruh pabrik kelapa sawit.

Itulah mengapa masyarakat tiada henti melantunkan doa demi setitik hujan. Dengan tetesannya, ladang mereka tumbuh dan berkembang dengan asupan air yang cukup. Hujan pula yang menjadikan hasil panen mereka jauh lebih banyak dari biasanya.
“Tetapi di saat yang sama, hujan juga yang membuat aktivitas masyarakat lumpuh total. Satu-satunya akses yang kami miliki terputus karena penuh lumpur. Hasil panen membusuk karena tidak bisa diangkut ke pabrik,” Nurdin Karim menyibak perasaan dilematis warganya.
Kehadiran dua sungai yang mengapit permukiman warga memperparah kerusakan jalan. Bila hujan mengguyur cukup lama, Sungai Tetapa langsung meluap dan memblokade aliran Sungai Lumu. Akibatnya, air Sungai Lumu yang seharusnya mengalir menjauhi desa, malah berbalik menyerang penduduk.
Tak tanggung-tanggung, lima dusun di desa itu tergenang. Kelima dusun itu, yakni Timor Oan Namkari, Timor Oan Dame, Tateppa, Asri, dan Baban Lumu. Peristiwa bisa terjadi dua kali dalam setahun. Ketinggian air paling rendah mencapai lutut orang dewasa.
“Kerusakan jalan bertambah parah dan waktu keringnya makin lama. Harus tunggu berhari-hari supaya jalan itu bisa dilalui,” pria 37 tahun itu berkisah sembari mengecap kenangan buruk yang pernah dialaminya.
Selama ini, jalan rusak tidak hanya membuat perjalanan menantang dan melelahkan. Tetapi juga memicu lonjakan harga kebutuhan pokok. Cukup beralasan, sebab tak satu pun distributor pangan yang berani menjajal tanah desa itu.
“Telur di sini bisa sampai Rp70 ribu per rak, di luar cuma 48 ribu. Gas elpiji selisihnya bisa 25 ribu per tabung. Beras, ikan, semua mahal,” Yaba, pria paruh yang duduk kursi belakang, ikut menimpali percakapan kami dengan kepala desa.
Hidup terombang-ambing dalam harapan dan acaman, tak membuat masyarakat berpasrah diri. Sepanjang waktu, jemari silih berganti meminta sebuah keajaiban. Bagi mereka, merawat harapan dalam lantunan doa adalah sebuah keniscayaan. Dan harapan itu terwujud melalui TMMD.
Dalam program TMMD, Desa Sejati merupakan sasaran utama. Jalan yang selama ini membelenggu masyarakat akan dibenahi. Struktur jalan diperkuat melalui pengerasan memakai bebatuan dan pasir sepanjang 4,2 kilometer. Lebar dan ketebalannya pun ditambah menjadi 4 meter dan 20 sentimeter. Sebelum pengerasan, dilakukan pula menambal pada ruas-ruas jalan yang berlubang.
“Karena semuanya materialnya pakai pasir dan batu, maka saya yakin ini akan bertahan lama dan jauh lebih bagus dari sebelumnya. Sebagai kepala desa, saya harus berterima kasih kepada TNI dan pemerintah kabupaten,” ucap Nurdin Karim menutup percakapan dengan wajah penuh keyakinan.
Memastikan target rampung dengan kualitas terbaik, Kodim 1418/Mamuju mengerahkan upaya terbaiknya. Berbagai alat berat dikerahkan, mulai dari grader, wheel loader, ekskavator, dan dump truck. Kehadiran alat berat itu seakan menjadi jaminan bahwa kualitas dan ukuran tak boleh kurang sedikit pun.

Berjibaku dengan persoalan jalan bukan tanpa rintangan. Nyaris setiap hari desa itu diguyur hujan. Alat berat dan truk cukup kesulitan mengangkut material. Betapa tidak, tanah yang basah membuat kendaraan itu tertelan lumpur. Namun, semua teratasi berkat gotong-royong antara TNI, Pemkab Mamuju Tengah, Polri, dan masyarakat setempat.
“Satu bulan itu tidak pernah tidak hujan. Itu kendalanya, tapi kita tetap hajar agar dapat segera dirasakan manfaatnya. Alhamdulillah dengan keterlibatan semua pihak dan antusias masyarakat yang tinggi, semua bisa selesai. Sekarang sudah bisa dilalui dengan mudah,” Dandim 1418/Mamuju, Kolonel Inf. Andik Siswanto memaparkan hasil peningkatan jalan itu dengan wajah puas.
Perwira itu paham betul bahwa peningkatan jalan bukanlah solusi permanen. Demi keamanan dan kenyamanan masyarakat, jalan itu tetap harus dibeton. Apalagi berada di kawasan perkebunan sawit. Beban kendaraan jauh lebih berat daripada kapasitas struktur jalan yang menopangnya.
“Ini akan bertahan lama, namun lebih baik lagi kalau dibeton. Saya sudah sampaikan ke bupati dan beliau merespons baik usulan ini,” jawaban bupati membuat Andik Siswanto bernapas lega.
Kapoksahli Kodam XIV/Hasanuddin, Brigjen TNI, Musa David M. Hasibuan cukup terkesan dengan capaian TMMD kali ini. Walau beragam rintangan dan medan yang menantang, prajurit tetap mampu menyelesaikan seluruh sasaran TMMD, termasuk peningkatan jalan.
Tidak hanya itu, Kodim 1418/Mamuju pun dianggap telah memenuhi unsur fundamental dari pelaksanaan TMMD. Brigjen Musa menjelaskan, kesuksesan TMMD tidak terpaku pada sektor infrastruktur fisik saja, tetapi pada non fisiknya.
“Kalau proyek, yang didapat hanya infrastruktur fisik saja. Tapi kalau dilaksanakan secara kolaborasi, hasilnya jauh lebih besar. Dengan kolaborasi, terutama masyarakat, akan tercipta persatuan dan itu yang kita utamakan. Kita harap TMMD membantu perputaran ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” tandasnya.
Decak kagum tampak sangat jelas di wajah Bupati Mamuju Tengah, Dr. Arsal Aras. Ia sempat berkecil hati lantaran hanya mampu mengalokasikan anggaran Rp750 juta. Namun, rasa puas segera mengambil alih gerak-geriknya. Ia bahkan tak percaya, TNI mampu menyelesaikan seluruh sasaran TMMD dengan dana seadanya.
Tanpa sadar, Arsal bahkan membandingkan proyek reguler dengan hasil program TMMD. Ia membeberkan, peningkatan jalan sepanjang 4,2 kilometer itu jauh melebihi ekspektasinya.
“Dengan anggaran yang sama, proyek pemerintah paling 1 sampai 2 kilometer. Tetapi di tangan TNI bisa sampai 4 kilometer. Ini luar biasa menurut saya,” Arsal menjawab dengan penuh antusiasi.
Hasil memuaskan itu membuat Arsal membuka lebar pintu kolaborasi pada TMMD berikutnya. Menurutnya, TMMD memberikan dampak sigfinikan terhadap pembangunan daerah dan masyarakat. Sehingga, Arsal melanjutkan, tidak berlebih jika program itu kembali digelar di Mamuju Tengah.
“Sebelumnya, terima kasih kepada Panglima TNI telah menjadikan daerah kami sasaran TMMD. Dan tentu kami ingin program ini berkelanjutan, karena kami sudah rasakan manfaatnya,” imbuhnya penuh harap.
Segala infrastruktur yang dibangun dalam TMMD tidak akan berlalu begitu saja. Pemerintah Kabupaten Mamuju Tengah siap menggelontorkan dana untuk pemeliharannya. Tidak lain, bangunan fisik itu tetap berkelanjutan dan dapat dinikmati masyarakat.
“Semua terbangun itu menjadi aset pemerintah daerah. Jadi kami tentu berkewajiban untuk melakukan pemeliharaan, perbaikan-perbaikan, dan seterusnya,” Arsal menutup perbincangannya dengan seutas janji pemeliharaan.
Menyusuri bebatuan menuju Desa Saloadak, sebuah gubuk lapuk berdiri dengan renta. Rumah itu menjadi sasaran fisik tambahan TMMD tahun ini.
TMMD Menyulam Harapan dari Gubuk yang Usang

Di balik bukit Desa Saloadak, Petrus Sibubung hidup sebatang kara. Pria paruh baya itu sama sekali tak ramah pada alam. Desau angin membuatnya cemas dan gemericik hujan menjadikannya gusar.
Kewaspadaan menghiasi sorot matanya setiap kali langit berubah warna. Bukan menentang semesta, ia hanya khawatir gubuknya yang renta tak lagi mampu menahan sapuan angin dan gemuruh hujan.
Dua ratus meter dari jalan desa, sebuah gubuk kayu berdiri dalam kesunyian. Rumah itu dibangun seadanya di tepian kawasan perkebunan sawit, Dusun Rawa Makmur, Desa Saloadak, Kecamatan Tobadak.
Di sanalah pria berusia 57 tahun itu hidup seorang diri. Ia menua, terlelap, dan menjamah hidangan dalam sepetak ruangan tanpa sekat. Tungku berabu dan periuk legam jadi saksi hidupnya yang memilukan.
Tempat tinggal Sibubung lebih pantas disebut gubuk daripada rumah. Panjang dan lebarnya tidak lebih dari 2 x 1,3 meter. Tiangnya pun hanya setinggi 2,2 meter dengan bentuk dan ukuran tak serupa. Ada yang gempal dan berdiri tegap, ada pula yang ramping dan rawan patah.
Tak satu pun bagian rumah Sibubung yang menutup sempurna. Dinding kayunya lapuk dan meregang. Celah demi celah kian menganga seiring waktu. Beberapa bidang papan yang tanggal, bahkan harus diikat sebab luruh saat dipaku.

Lantainya pun mulai menghitam. Lubang bermacam-macam ukuran tampak di mana-mana. Atap asbes yang melindunginya dari hujan juga rapuh dan bocor. Jangankan badai, melangkah masuk saja membuat rumah itu berderak lantang.
“Kalau ada angin atapnya terangkat, jadi harus diikat supaya tidak terbang. Rumah juga goyang kalau hujan. Apalagi kalau deras, serpihan atapnya jatuh bersama air hujan,” Sibubung menyingkap kekhawatirannya ketika angin dan hujan datang tumpang tindih silih berganti.
Dari sudut mana pun mata memandang, rumah itu sudah di ujung napas. Istana kecil Sibubung bisa ambruk kapan saja. Bangunannya telah miring dan merebah ke belakang. Tanpa pasak bambu dan balok kayu, rumah itu sudah lama runtuh berkalang tanah.
Bujang senja itu acap kali ingin membenahinya. Namun, harapan itu selalu memudar lantaran ketiadaan biaya. Apalagi ia tidak mampu lagi bekerja. Jangankan menata rumah, makan pun ia perlu bersusah payah.
“Rumah ini sudah lama mau rubuh, tapi tidak ada uang untuk perbaiki. Jadi dikasih bambu dan kayu saja supaya tetap berdiri,” ia menjelaskan sembari menunjuk bagian rumah yang telah ditopangnya.
Selama ini, Sibubung nyaris tak pernah merasa tenteram. Keadaanlah yang memaksanya berdamai dengan ketidaknyaman. Untuk sekadar menutup mata, ia harus berjuang sepanjang malam.
Sensasi dingin menusuk dari segala arah membuatnya sulit terlelap. Selimut usang yang dijadikannya tilam dan penutup tubuh tak mampu menghangatkannya.
Nuansa makin mencekam ketika hujan datang menghujam. Tak hanya dingin, Sibubung harus terjaga sebab tiada tempat kering untuknya berbaring.
“Tunggu hujan berhenti dulu baru tidur, karena semua basah. Kadang kalau hujannya lama dan sudah mengantuk, tidur saja,” ucapnya dengan nada terbata-bata.
Layaknya orang lain, Sibubung juga menimang harapan pada mimpi sederhana. Rumah idaman dan penghidupan layak di usia senja. Tetapi luka bakar meregas mimpinya tujuh tahun silam.
Lengan kanannya bengkok permanen berpaut luka. Tiga jari di telapak tangan kirinya pun memutir dan membeku. Jangankan mencari nafkah, untuk sekadar berpakaian saja, Sibubung harus menguras tenaga.
Sejak saat itu, nyali Sibubung menciut untuk bermimpi. Ia tidak lagi mendambakan kesempurnaan bentuk maupun keindahan warna. Asal dapat melindunginya dari hujan, terik, dan rasa dingin, itu sudah cukup baginya.
Berbingkai Gotong-royong, Prajurit Datang Bawa Harapan

Bertahun-tahun dibelenggu putus asa, keajaiban akhirnya mengetuk pintu Sibubung. Sentuhan perbaikan rumah yang diidam-idamkan akhirnya tiba seiring prajurit TNI memenuhi Desa Saloadak melalui program TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-125.
Sehari setelah pembukaan TMMD, prajurit Kodim 1418/Mamuju mengunjungi gubuknya Rabu malam, 24 Juli 2025. Aparat Pemerintah Kabupaten Mamuju Tengah turut hadir dalam kunjungan itu. Sibubung dipilih sebagai penerima manfaat bantuan renovasi Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).
Ia sempat terperangah dan ketakutan memenuhi hatinya. Baru kali ini rumahnya kedatangan tamu di malam hari. Apalagi yang datang pria berbadan tegap, kekar, dan berseragam loreng lengkap.
Seiring perbincangan mereka, suasana hati Sibubung berubah drastis. Kebahagiaan menggantikan rasa takutnya ketika mengetahui rumah miliknya akan disulap lebih layak.
Keesokan harinya, prajurit TNI dan warga setempat merombak habis rumah Sibubung. Papan demi papan dilepas tanpa sisa. Dengan sukacita, Sibubung menyaksikan rumah itu menanggalkan bentuk reyotnya.
Gotong-royong menguatkan semangat pembangunan rumah Sibubung. Tepat 30 hari, rumah itu rampung dengan bentuk baru. Tiada lagi kesan kumuh dan rapuh. Cat hijau berbalut putih mengelilingi rumah itu dengan cukup indah.

Hunian baru Sibubung memang tak terlampau luas. Tetapi jauh lebih besar dari rumah lamanya. Panjang dan lebarnya kini berukuran 4×6 meter. Desainnya pun cukup menawan berkonsep semi permanen.
Satu meter rumah Sibubung berdiri menggunakan bata. Dindingnya menggunakan calsiboard dan beratapkan seng. Tiada lagi celah bagi dingin dan angin yang membuat Sibubung risau. Semua tertutup rapat, kecuali jendela dan ventilasi.
“Terima kasih kasih bapak TNI dan pemerintah, rumah saya sudah bagus. Tidak takut lagi kalau ada angin dan hujan,” Sibubung berucap syukur sembari mencoba mengatur napas agar air matanya tak terjatuh.
Dandim 1418/Mamuju, Kolonel Inf. Andik Siswanto menggunakan otoritasnya sebagai Dansatgas dengan cukup apik. Sibubung bukanlah kandidat tunggal penerima bantuan RTLH. Tetapi ia dipilih berdasarkan hasil penilai multidimensi secara ketat.
Perwira itu tidak hanya menilai dari aspek sosial, tetapi juga kesehatan dan ekonomi. Tubuh Sibubung telah renta, kesehatannya rapuh, tiada pekerjaan, dan rumahnya pun jauh dari kata layak. Kondisi inilah yang membuat Andik Siswanto memilih Sibubung tanpa sedikit pun keraguan.
“Kita harus melihat mana yang betul-betul layak menerima bantuan. Rumah Sibubung itu tidak layak dihuni manusia,” jelas Andik Siswanto haru.

Ia tidak setengah hati mengubah hidup Sibubung. Di tengah pembangunan rumah, Andik Siswanto bergerilya menarik peran serta mitra kerja. Ia ingin rumah itu menghadirkan kenyamanan, bukan sekadar tempat bernaung.
Upaya Andik Siswanto berbuah manis. Sejumlah mitra tergugah dan mengucurkan uluran tangan. Sibubung tak hanya mendapat rumah, tetapi lengkap dengan perabotannya. Di antaranya tempat tidur, lemari, serta perhiasan ruangan lainnya.
“Alhamdulillah, kami dengan teman-teman bikin rumah layak huni, termasuk isi-isinya. Setidaknya Pak Sibubung tidak lagi kehujanan, tidak kepanasan, dan mendapatkan hidup yang layak di rumah itu,” imbuhnya menutup wawancara.
Rumah baru Sibubung memantik perhatian masyarakat. Tak terkecuali, Bupati Mamuju Tengah, Dr. Arsal Aras. Ia sangat terkesan dengan perubahan signifikan itu. Cukup antusias sampai-sampai ia melontarkan kalimat apresiasi berulang kali.
Sudah berkali-kali TMMD terlaksana di Kabupaten Mamuju Tengah. Tetapi baru kali ini Arsal berkolaborasi langsung dengan TNI sebagai bupati. Selama ini, Arsal pun tak pernah kecewa dengan kinerja TNI melalui TMMD.
“Saya selalu berharap kolaborasi ini berkelanjutan, karena saya tahu betul bagaimana kinerja TNI. Kami sudah melihat dan merasakan manfaatnya,” Arsal menjawabnya lantang sambil tersenyum semringah.
Lima Titik Air dan Masjid yang Representatif

Mata masyarakat berbinar penuh haru seiring sepercik air menyembur ke udara. Bulir-bulirnya menjadi harapan baru di tengah kemarau berkepanjangan. Manunggal Air TMMD hadir menjadi solusi untuk mengatasi kesulitan masyarakat dalam mencari sumber air bersih.
Program Manunggal Air menyasar lima titik. Empat titik menyuplai irigasi Desa Polongaan, Kecamatan Tobadak dan satu titik khusus memenuhi kebutuhan air masyarakat Desa Salugatta, Kecamatan Budong-Budong.
Dandim 1418/Mamuju, Kolonel Inf. Andik Siswanto punya alasan kuat memilih menempatkan sasaran Manunggal Air di kedua desa itu. Selama ini, hujan menjadi sumber air utama untuk mengairi ladang padi para petani di Desa Polongaan.
Di Desa Salugatta, masyarakat memenuhi kebutuhan air bersihnya juga dari hujan. Selama ini, mereka sangat kesulitan mencari air bersih. Musim kemarau benar-benar meregas harapan masyarakat.
“Sumur air untuk ketahanan pangan sudah dibangun dan airnya bagus. Dengan air ini, masyarakat yang biasanya panen satu kali setahun, bisa menjadi dua sampai tiga kali dalam setahun. Semoga ini juga membantu masyarakat kita yang selama ini kesulitan mencari air bersih,” ucap Andik Siswanto.
Kepala Dusun Mekar Sari II, Desa Polongaan, Lukas Lando sangat menyambut kehadiran sumber air tersebut di dekat hamparan sawah seluas sekira 300 hektare. Betapa tidak, musim tanam petani ditentukan oleh hujan.
“Kalau tidak hujan, kami tidak menanam. Tapi dengan adanya sumber air ini, kami tidak terlalu bergantung pada hujan lagi,” Lukas tersenyum lebar mengakhiri kalimatnya.

Di Desa Saloadak, masjid yang usang kembali berdiri dengan gagah. Wajah baru dengan cat yang mencolok menyelimuti masjid bernama Al-Mubarokah itu. Tiada lagi kesan usang yang tampak di masjid tersebut.
Rehab masjid ini juga menjadi sasaran fisik tambahan yang berada di Desa Saloadak, Kecamatan Tobadak. Masjid itu dipoles sedemikian rupa agar lebih representatif sebagai untuk beribadah. Tidak hanya cat, toilet hingga tempat wudhu pun tampak baru setelah direhab.
Dandim 1418/Mamuju, Kolonel Inf. Andik Siswanto cukup terkesan dengan antusias masyarakat menyelesaikan rumah ibadah itu. Sejak pertama dibenahi, masyarakat datang membantu tanpa aba-aba.
“Mereka langsung membantu tanpa kita minta. Itu iniatif mereka sendiri. Di sana mereka berkumpul, kita berikan arahan dan bekerja bersama-sama memperbaiki sarana ibadah. Dan kita berharap hasilnya bisa dirasakan masyarakat,” pungkasnya.


