Iran Ancam Serang Pusat Data OpenAI di Abu Dhabi Jika Amerika Gempur Infrastruktur Sipil
News – Ketegangan Iran dan Amerika Serikat memasuki babak baru. Teheran secara terbuka mengancam akan menyerang pusat data Stargate milik OpenAI di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, sebagai respons atas ancaman serangan Washington terhadap infrastruktur sipil Iran.
Militer Iran menegaskan, setiap serangan terhadap fasilitas sipil akan berbalas serangan ke aset energi dan teknologi milik AS di kawasan Timur Tengah. Pernyataan itu muncul dalam video resmi yang dirilis pekan lalu oleh juru bicara militer Iran, Ebrahim Zolfaghari.
Dalam video tersebut, militer Iran menampilkan visual peta dunia yang kemudian mengarah ke lokasi pusat data Stargate di Abu Dhabi. Pesan yang disampaikan bernada tegas.
“Tidak ada yang tersembunyi dari penglihatan kami, meskipun disembunyikan oleh Google,” tulis militer Iran dalam video tersebut dilansir dari Kumparan.
Ancaman ini menempatkan proyek Stargate sebagai target strategis. Proyek bernilai 500 miliar dolar AS itu merupakan kolaborasi OpenAI, SoftBank, dan Oracle untuk membangun jaringan pusat data kecerdasan buatan global. Sejak diumumkan pada Januari 2025, proyek ini menghadapi tantangan pembiayaan dan tekanan biaya, sebelum akhirnya memperluas jangkauan ke berbagai negara.
Eskalasi terbaru tidak terlepas dari pernyataan Presiden AS Donald Trump yang mengancam akan menyerang fasilitas vital Iran, termasuk pembangkit listrik dan instalasi desalinasi air. Ancaman itu terkait desakan agar Iran membuka kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran utama dunia yang terganggu sejak konflik pecah pada Februari 2026.
Konflik bersenjata yang berlangsung juga mulai menyeret infrastruktur digital sebagai sasaran. Sejumlah laporan menyebutkan serangan rudal telah menghantam pusat data di kawasan tersebut.
Iran sebelumnya dilaporkan menyerang fasilitas milik Amazon Web Services (AWS) di Bahrain serta pusat data Oracle di Dubai. Pekan lalu, Teheran juga melontarkan ancaman terhadap perusahaan teknologi global lain, termasuk Nvidia dan Apple.
Perkembangan ini menunjukkan pergeseran medan konflik. Infrastruktur digital kini menjadi target utama, sejajar dengan aset energi dan militer. Situasi tersebut mempertegas bahwa perang modern tidak lagi terbatas pada wilayah fisik, tetapi juga menyasar pusat kendali data dan teknologi global. (Dilansir dari Kumparan).





