Retret Pemprov Sulbar Jadi Panggung BI Perkuat Komitmen Bangun Ekonomi Daerah, Dorong Sinergitas, Digitalisasi dan Penguatan Sektor Riil 

waktu baca 3 menit
Kepala KPw BI Sulbar, Eka Putra Budi Nugroho ketika memaparkan prospek ekonomi global, nasional, dan regional di hari kedua Retret Pemprov Sulbar.

Mamuju – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Sulawesi Barat menunjukkan komitmennya dalam memperkuat perekonomian daerah melalui pemanfaatan digitalisasi, penguatan sektor riil, dan kolaborasi lintas sektor.

Di hari kedua Retret Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat, Kepala KPw BI Sulbar, Eka Putra Budi Nugroho hadir memaparkan prospek ekonomi, Sabtu kemarin. Mulai dalam aspek ekonomi global, nasional, dan regional, serta menekankan pentingnya sinergi untuk membangun ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan.

Dalam pemaparannya, Eka Putra menitikberatkan lima pokok utama pembahasan. Mulai dari perkembangan ekonomi global dan nasional, kondisi ekonomi serta inflasi Sulbar, stabilitas sistem keuangan daerah, potensi sektor unggulan Sulawesi Barat, serta upaya Bank Indonesia dalam mendukung pertumbuhan ekonomi di daerah.

Dia menjelaskan bahwa meskipun ketidakpastian ekonomi global mulai mereda, tensi geopolitik dan kebijakan tarif AS masih menjadi faktor penekan. Pertumbuhan ekonomi global pada 2025 diperkirakan bertahan di angka 2,8%. Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan I 2025 tercatat sebesar 4,87% (yoy), sedikit menurun dibandingkan triwulan sebelumnya.

“Nilai tukar rupiah menunjukkan tren penguatan, sementara kredit perbankan tetap tumbuh solid sebesar 8,88% (yoy) per April 2025. Transaksi ekonomi dan keuangan digital pun terus meningkat, menandakan kestabilan sistem pembayaran nasional,” jelas Eka Putra.

Sulawesi Barat, kata dia, mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 4,83% (yoy) pada triwulan I 2025, lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya (6,65%) dan di bawah rata-rata nasional.

Kinerja sistem keuangan daerah pun menunjukkan tren moderat. Pertumbuhan kredit hanya mencapai 4,42%, melambat dibandingkan periode sebelumnya. Namun demikian, risiko kredit (LAR) menunjukkan perbaikan, sementara rasio LDR yang tinggi (190–200%) mengindikasikan dominasi sumber kredit dari luar daerah.

Struktur ekonomi Sulbar masih ditopang oleh sektor pertanian (39,21%) dan industri pengolahan (10,78%), dengan kelapa sawit (CPO) sebagai komoditas utama. CPO juga mendominasi ekspor Sulbar dengan kontribusi 92,32% dari total ekspor 2024.

“Potensi komoditas unggulan lainnya seperti kakao dan kopi juga sangat besar, terutama karena hampir seluruh produksinya berasal dari perkebunan rakyat, yang juga menyerap tenaga kerja dalam jumlah signifikan,” paparnya.

Bank Indonesia, lanjut Eka, terus mendorong pertumbuhan ekonomi Sulbar melalui berbagai strategi:

  • Pengembangan UMKM, termasuk klaster pangan strategis dan UMKM ekspor, dengan pendekatan pull and push strategy.
  • Peningkatan akses keuangan, melalui pelatihan pencatatan keuangan, database UMKM layak dibiayai, dan business matching.
  • Penguatan ekonomi dan keuangan syariah, dengan tiga pilar: produk halal, literasi syariah, dan keuangan syariah.
  • Perluasan merchant QRIS, yang kini mencapai 85.170 merchant tersebar di seluruh kabupaten di Sulbar, mayoritas dari sektor usaha mikro.

“Digitalisasi sistem pembayaran dan penguatan sektor riil kami pandang sebagai katalisator utama dalam membangun ekonomi Sulbar yang inklusif dan berkelanjutan,” tegas Eka Putra Budi Nugroho.

Sinergi untuk Sulbar yang Lebih Kuat

Menutup paparannya, Eka menekankan pentingnya sinergi antara BI, pemerintah daerah, lembaga vertikal, dan seluruh pemangku kepentingan dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang berdaya saing.

“Bank Indonesia berkomitmen untuk terus hadir sebagai mitra strategis daerah dalam mewujudkan Sulbar yang maju, tangguh, dan sejahtera,” tandas Eka Budi.

error: Content is protected !!