Di Balik Lantunan Yasin, Kapolda Sulbar Titip Doa untuk Negeri dan Harapan Anak Yatim
Mamuju – Siang itu, Masjid Jabal Rahmah Mapolda Sulawesi Barat tidak hanya dipenuhi lantunan ayat suci. Ada harap yang mengalir pelan, menyusup di sela suara Yasin yang menggema.
Di antara barisan jamaah, anak-anak yatim duduk tenang, menyimak, seolah memahami makna doa yang dipanjatkan bersama.
Kapolda Sulbar, Irjen Pol Adi Deriyan Jayamarta, hadir di tengah suasana khidmat itu. Ia tidak sekadar mengikuti rangkaian ibadah.
Ia mengajak, merangkul, dan menitipkan harapan yang lebih luas tentang keamanan, tentang negeri, dan tentang masa depan.
“Hari ini adalah hari yang istimewa, ditambah lagi dengan kehadiran para anak yatim. Jangan pernah lewatkan kesempatan emas ini untuk menitipkan doa terbaik kita, khususnya demi keamanan dan ketertiban negeri agar terhindar dari segala ancaman dan gangguan,” tutur Kapolda.
Kegiatan yasinan setiap Jumat itu telah menjadi ruang sunyi yang sarat makna. Bagi jajaran Polda Sulbar, ini bukan sekadar rutinitas. Ini menjadi titik temu antara tugas menjaga keamanan dan ikhtiar batin yang tak kasatmata.
Di tengah doa yang mengalir untuk negeri, Kapolda juga menyelipkan harapan pribadi. Ia memohon kesembuhan bagi seorang sahabat yang tengah berjuang melawan sakit.
“Semoga segala proses pengobatannya diberikan kemudahan dan kesembuhan yang sempurna oleh Allah Subuhanahu Wataala,” pintanya.
Momen itu terasa manusiawi. Seorang pemimpin yang terbiasa bergelut dengan strategi dan keamanan, tiba-tiba hadir sebagai pribadi yang penuh empati. Ia menunjukkan bahwa di balik seragam dan jabatan, ada sisi rapuh yang sama dengan manusia lainnya.
Bagi Adi Deriyan, kekuatan spiritual menjadi penopang penting dalam menjalankan tugas. Ia percaya, kebersamaan dalam doa mampu menghadirkan ketenangan, sekaligus memperkuat ikatan di antara sesama.
Suasana masjid pun terus terjaga khusyuk. Ayat demi ayat mengalun, doa demi doa terucap. Tidak ada hiruk-pikuk. Hanya ketenangan yang perlahan menyelimuti ruang.
Kehadiran anak-anak yatim memberi warna tersendiri. Mereka tidak hanya menjadi tamu, tetapi juga pengingat tentang arti kepedulian dan kebersamaan. Dalam kesederhanaan itu, terbangun rasa kekeluargaan yang sulit tergantikan.
Kegiatan kemudian berlanjut dengan makan bersama. Tawa mulai terdengar, mencairkan suasana yang sebelumnya penuh keheningan. Di meja sederhana itu, jarak antara pimpinan dan anggota seolah menghilang.
Di Masjid Jabal Rahmah, doa tidak berhenti sebagai ritual. Ia menjelma menjadi harapan yang hidup—tentang Sulawesi Barat yang tetap aman, tentang kebersamaan yang terus terjaga, dan tentang kemanusiaan yang tak pernah luntur.




