Harkitnas ke-118, Gubernur Sulbar Serukan Kebanggaan Nasional dan Kritik Budaya Gratifikasi

waktu baca 2 menit

Mamuju – Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka mengajak masyarakat memperkuat rasa bangga sebagai bangsa Indonesia saat peringatan Hari Kebangkitan Nasional (Harkitnas) ke-118, Rabu (20/5).

Momentum itu sekaligus menjadi pengingat pentingnya menjaga persatuan dan meninggalkan budaya negatif yang menghambat kemajuan bangsa.

Peringatan Harkitnas di Sulbar berlangsung khidmat. Suhardi Duka memimpin langsung upacara sekaligus menegaskan bahwa Kebangkitan Nasional menjadi titik awal lahirnya kesadaran rakyat Indonesia untuk bersatu melawan penjajahan.

“Itu mulai tumbuh-tumbuhnya embrio kesadaran tentang berbangsa. Indonesia dijajah karena raja-raja berkelahi sendiri. Tahun 1908 mulai muncul kesadaran bahwa kita dijajah dan dihadapkan satu sama lain. Dari situlah muncul gagasan untuk hidup bersama-sama dan lahirlah Kebangkitan Nasional,” ujar Suhardi Duka.

Hari Kebangkitan Nasional diperingati setiap 20 Mei untuk mengenang lahirnya organisasi Budi Utomo pada 1908. Organisasi itu berdiri atas prakarsa Dr. Sutomo bersama mahasiswa School tot Opleiding van Indische Artsen (STOVIA). Peristiwa tersebut menjadi tonggak awal tumbuhnya nasionalisme modern di Indonesia.

Suhardi menyebut semangat Kebangkitan Nasional terus berkembang hingga melahirkan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928 dan mencapai puncaknya lewat Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada 1945.

Ia juga menilai Bahasa Indonesia menjadi salah satu kekuatan utama yang menjaga persatuan bangsa di tengah keberagaman suku dan budaya.

“Kalau kita bahasa resminya hanya Indonesia. Paling dipadukan dengan bahasa daerah. Itu yang membuat persatuan kita kuat,” ucapnya.

Capaian Indonesia Berbagai Sektor Strategis

Menurut Suhardi, sejumlah negara di Asia Tenggara masih menghadapi sekat identitas berbasis etnis maupun bahasa dalam sistem pendidikan. Kondisi itu berbeda dengan Indonesia yang memiliki identitas nasional lebih kuat melalui penggunaan Bahasa Indonesia.

Pada kesempatan itu, Suhardi turut menyoroti capaian Indonesia di berbagai sektor strategis. Ia meminta masyarakat tidak memandang sebelah mata kemampuan bangsa sendiri, terutama dalam penguasaan teknologi dan industri pertahanan.

“Di ASEAN saya kira kita lebih maju. Kita bisa bikin pesawat terbang, kapal, bahkan kapal perang. Kita juga bisa membuat senjata dan lain sebagainya. Banggalah kita sebagai bangsa Indonesia yang besar ini,” ungkap Suhardi Duka.

Namun, Suhardi mengingatkan bahwa kemajuan bangsa harus berjalan seiring dengan perbaikan budaya sosial. Ia menilai praktik gratifikasi dan sogok-menyogok masih menjadi persoalan yang perlu dikoreksi bersama.

Menurutnya, budaya tersebut telah tumbuh sejak masa kerajaan melalui tradisi upeti dan masih memengaruhi kehidupan sosial hingga saat ini.

Peringatan Harkitnas ke-118 di Sulawesi Barat tidak sekadar menjadi agenda seremonial. Momentum itu menjadi refleksi untuk memperkuat nasionalisme, menjaga persatuan, serta mendorong Indonesia menjadi bangsa yang lebih maju dan berdaya saing.