Karhutla Sulbar Capai 519 Kejadian, 878 Hektare Lahan Terbakar
Sulbar – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sulawesi Barat mencapai 519 kejadian sepanjang 1 Januari hingga 16 Oktober 2026.
Total lahan terdampak mencapai 878,48 hektare, dengan Kabupaten Polewali Mandar mencatat luasan kebakaran terbesar, yakni 559,92 hektare.
Data Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops) BPBD Sulbar yang diperbarui Jumat (16/10) pukul 17.00 WITA itu juga mencatat 88 kejadian kebakaran permukiman yang berdampak pada 165 unit bangunan.
Di tengah tingginya angka karhutla, pemadaman kebakaran lahan masih berlangsung di Kecamatan Luyo, Polewali Mandar. Sementara itu, pemerintah terus menyalurkan air bersih untuk membantu masyarakat yang terdampak kekeringan di sejumlah kabupaten.
Berdasarkan rekapitulasi BPBD Sulbar, Polewali Mandar mencatat 145 kejadian karhutla dengan luas lahan terbakar 559,92 hektare. Kabupaten Majene berada pada urutan berikutnya berdasarkan jumlah kejadian, dengan 172 kasus dan luas lahan terdampak 161,14 hektare.
Kabupaten lainnya meliputi Mamuju dengan 52 kejadian seluas 86,18 hektare, Mamuju Tengah 84 kejadian seluas 56,81 hektare, Mamasa 57 kejadian seluas 11,03 hektare, serta Pasangkayu sembilan kejadian seluas 3,39 hektare.
Data tersebut memperlihatkan bahwa jumlah kejadian tidak selalu sebanding dengan luas lahan yang terbakar. Majene mencatat kejadian terbanyak, sedangkan Polewali Mandar mengalami dampak luasan lahan paling besar.
Kepala Pelaksana BPBD Sulbar, Muhammad Yasir Fattah, mengatakan pemantauan dan pembaruan data melalui Pusdalops menjadi dasar koordinasi serta pengambilan keputusan dalam penanganan bencana.
“Pusdalops terus memantau perkembangan situasi dan memperbarui informasi dari kabupaten. Kami mendorong agar penanganan kebakaran di wilayah yang masih dalam proses pemadaman dilakukan secara terkoordinasi, sementara distribusi air bersih harus terus diupayakan agar kebutuhan dasar masyarakat terdampak kekeringan dapat terpenuhi,” kata Yasir, kemarin.
Distribusi air bersih mencapai 3,9 juta liter
Selain ancaman kebakaran, kekeringan masih membebani masyarakat di sejumlah wilayah Sulbar. Rekapitulasi BPBD mencatat distribusi air bersih telah mencapai 3.921.783 liter, meski data Kabupaten Mamasa masih dalam proses validasi.
Mamuju Tengah menerima distribusi terbesar, yakni 2.021.033 liter. Disusul Pasangkayu sebanyak 802.300 liter, Mamuju 459.450 liter, Majene 355.000 liter, dan Polewali Mandar 284.000 liter.
BPBD Sulbar menyatakan penanganan karhutla dan kekeringan terus dikoordinasikan bersama unsur terkait, mulai dari pemantauan titik panas, patroli, pemadaman, hingga pemenuhan kebutuhan air bersih.




