Tak Sekadar Ganti Pengurus, Muscab PKB Se-Sulbar Bidik Pemimpin Progresif dan Politik Solutif
Mamuju – Muscab PKB kabupaten se-Sulawesi Barat menjadi panggung konsolidasi sekaligus penentu arah kepemimpinan dan strategi partai menuju politik yang lebih solutif bagi masyarakat.
Forum ini merangkum 178 kader dari enam Dewan Pimpinan Cabang (DPC). Jajaran Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) dan Dewan Syura PKB Sulbar serta perwakilan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) turut hadir mengawal proses tersebut.
Komposisi itu mencerminkan basis kekuatan partai, sekaligus menjadi ruang evaluasi menyeluruh terhadap kinerja dan arah gerak organisasi di tingkat daerah.
Di tengah dinamika politik yang kompleks dan dinamis, Muscab mengambil peran lebih dari sekadar forum internal dalam memilih pengurus DPC.
Agenda ini menjadi titik temu antara konsolidasi organisasi dan penajaman strategi. Utamanya dalam menyiapkan kepemimpinan dan kebijakan politik yang secara kultural mampu menjawab dinamika zaman.

Bagi PKB, Muscab bukan sekadar ajang merestrukturisasi kepengurusan. Apalagi menetapkan agenda politik secara serampangan tanpa arah yang jelas.
Sebaliknya, Muscab menjadi instrumen kaderisasi struktural guna mendorong lahirnya figur pemimpin ideal bagi partai. Sosok progresif yang energik, visioner, dan kreatif.
Terutama piawai dalam menerjemahkan kebutuhan masyarakat ke dalam kerja politik yang konkret. Bertumpu pada solusi bukan sekadar janji dan narasi.
Perwakilan DPP PKB, Idham Arsyad, menegaskan Muscab merupakan ruang kaderisasi untuk membedakan arah kepemimpinan dan kekuasaan dalam tubuh partai.
Ia menilai, pemimpin sejati bekerja dengan visi pengabdian tanpa distorsi kepentingan personal. Sebaliknya, penguasa cenderung menjadikan kekuasaan sebagai tujuan akhir.
“Kaderisasi ini untuk melahirkan calon-calon pemimpin, bukan calon penguasa,” tegas Idham di sela-sela Muscab PKB kabupaten se-Sulbar di Mal Matos Mamuju, Rabu (22/4).
Penegasan itu sejalan dengan upaya internal partai menuju meritokrasi. Sistem tersebut menempatkan kader berdasarkan kapasitas, rekam jejak, dan kinerja, bukan kedekatan personal.
Dengan pola itu, partai diharapkan melahirkan kader yang memiliki kapasitas dan kapabilitas dalam memegang tampuk kepemimpinan di daerah. Utamanya mampu menyusun formulasi kebijakan visioner dan solutif yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
“Rakyat tidak memerlukan sosok yang pandai berbicara, tetapi turun ke lapangan memberikan jawaban, memberikan solusi,” ungkapnya dalam sambutan.
Idham juga mengingatkan, partai tidak boleh terjebak pada kepentingan lokal semata. Ia menilai dinamika global ikut memengaruhi kondisi sosial masyarakat, sehingga membutuhkan respons politik yang lebih luas dan terukur.
“Program yang akan dirumuskan dalam Muscab tentu tidak hanya berdampak untuk memenangkan 5 tahun ke depan, tetapi harus menjadi jawaban konkret terhadap realitas beban masyarakat kita,” imbau Idham.

Ia cukup antusias dalam Musda kali ini. Betapa tidak, baginya, kehadiran pengurus baru menjadi aspek fundamental bagi partai untuk memberikan dukungan konkret terhadap rakyat. Tidak hanya moril, namun bantuan riil yang bermuara pada penyelesaian masalah melalui program yang nyata.
“Situasi saat ini sedang tidak baik-baik saja. Tentu rakyat harus punya teman supaya berbagai macam keluhan, masalah-masalahnya itu bisa ditemani oleh partai. Terutama pengurus baru ini untuk mencarikan solusi untuk meringankan beban hidup mereka,” tandasnya.
Di tempat yang sama, Ketua DPW PKB Sulbar, KH. Muh. Syibli Sahabuddin, menilai pergantian kepemimpinan dalam organisasi merupakan keniscayaan. Namun, ia menegaskan, substansi utama Muscab tidak berhenti pada pergantian figur semata.
Muscab, kata KH. Muh. Syibli, harus dipahami sebagai momentum konsolidasi untuk memperbaiki arah gerak partai. Bukan sekadar siklus rutin pergantian kepemimpinan.
Yang terpenting, menurutnya, pergantian itu menghadirkan energi baru untuk memperkuat dan menyempurnakan proses transformasi partai ke arah yang lebih baik.
“Kalau ada pergantian, berarti kan kita butuh transformasi. Kita butuh pembaharuan, kita butuh inovasi yang baru,” pungkas KH. Muh. Syibli dengan nada tegas.


