Gubernur Sulbar Sentil Pola Pikir PNS di Konferda GMNI, Dorong Kader Mandiri dan Ideologis
Mamuju — Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka, menegaskan pentingnya penguatan ideologi dan kemandirian kader saat membuka Konferensi Daerah (Konferda) DPD GMNI Sulbar, Sabtu (25/4).
Ia sekaligus menyentil pola pikir generasi muda yang masih menjadikan status aparatur sipil negara sebagai tolok ukur utama kesuksesan.
Dalam forum tersebut, Suhardi Duka menempatkan nasionalisme dan marhaenisme sebagai fondasi utama gerakan kader. Ia mengingatkan, tanpa pijakan ideologis yang kuat, arah perjuangan organisasi mudah kehilangan orientasi.
“Kalau kita berjuang tanpa landasan, maka perjuangan itu tidak punya arah. Karena itu, nasionalisme dan marhaenisme harus benar-benar tertanam dalam diri setiap kader,” ujar Suhardi Duka.
Ia menilai, kader GMNI harus mampu menjaga nilai kebangsaan sekaligus bersikap kritis terhadap kebijakan yang menyimpang. Respons itu, menurutnya, bisa ditempuh melalui dialog maupun aksi yang terukur.
Di sisi lain, Suhardi Duka menyoroti dinamika ideologi dan ekonomi nasional yang kerap bergerak di antara berbagai kepentingan. Kondisi tersebut menuntut generasi muda untuk menentukan arah yang jelas bagi masa depan bangsa.
Ia juga menekankan pentingnya membangun karakter kuat dan jiwa kewirausahaan, terutama di tengah momentum bonus demografi hingga 2035. Menurutnya, peluang tersebut belum dimanfaatkan secara optimal.
“Banyak tenaga kerja kita yang produktif justru tidak produktif. Ada yang menjadi tenaga honorer atau P3K paruh waktu dengan penghasilan sangat minim, bahkan di bawah Rp400 ribu per bulan, yang itu masuk kategori miskin ekstrem,” jelasnya.
Suhardi Duka kemudian mengingatkan agar generasi muda tidak lagi terpaku pada pola lama yang menganggap profesi PNS sebagai satu-satunya jalan sukses.
“Sekarang bukan lagi soal jadi PNS. Yang penting adalah bagaimana mampu menangkap peluang di tengah persaingan global yang semakin ketat,” tegas Suhardi Duka.
Dalam kesempatan itu, ia juga mengapresiasi soliditas kader GMNI Sulbar yang tetap menjaga persatuan di tengah dinamika internal. Ia menilai sikap tersebut mencerminkan praktik nasionalisme yang menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan lain.
“Ketika negara memanggil, maka kepentingan pribadi, keluarga, organisasi, bahkan politik harus dikesampingkan. Itulah nasionalisme,” tuturnya.
Konferda GMNI Sulbar menjadi ruang konsolidasi kader sekaligus penguatan arah gerakan organisasi. Pemerintah daerah berharap forum ini melahirkan generasi muda yang tidak hanya kuat secara ideologi, tetapi juga adaptif menghadapi tantangan ekonomi dan sosial.




