Buka Pameran Budaya Pancasila, SDK Ingatkan Ancaman Penyimpangan Nilai Kebangsaan

waktu baca 2 menit

Mamuju – Gubernur Sulawesi Barat Suhardi Duka (SDK) menegaskan Pancasila bukan sekadar dasar negara, melainkan fondasi budaya yang menyatukan bangsa Indonesia di tengah perbedaan suku, bahasa, dan adat istiadat.

Pernyataan itu disampaikan saat membuka Pameran Budaya Pancasila 2026 di Pelataran Rumah Adat Mamuju, Jumat malam (8/5/2026). Kegiatan garapan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Sulbar bersama Pemuda Pancasila itu mengusung tema “Pancasila Dalam Lensa Budaya”.

SDK menilai nilai-nilai Pancasila lahir dari akar budaya masyarakat Indonesia jauh sebelum kemerdekaan. Karena itu, penguatan ideologi bangsa tidak bisa lepaskan dari budaya dan tradisi lokal yang hidup di tengah masyarakat.

“Pancasila lahir dari akar budaya bangsa yang mampu mempersatukan bangsa yang berbeda-beda ini, berbeda akar budaya, pulau, suku dan bahasa,” ujar Suhardi Duka.

Menurutnya, Pancasila harus dipahami sebagai fondasi kepribadian bangsa yang terus bergerak mengikuti perkembangan zaman tanpa kehilangan nilai luhur.

SDK Ingatkan Ancaman Penyimpangan Ideologi Pancasila

Ia juga mengingatkan perjalanan Pancasila tidak selalu berjalan mulus. Berbagai penyimpangan dan pengkhianatan terhadap ideologi negara pernah muncul dalam sejarah bangsa.

“Pancasila juga menanamkan harapan akan masa depan bangsa, sehingga itu dalam perjalanannya sering diuji dalam berbagai bentuk, baik itu penyelewengan maupun penghianatan. Sejarah orde baru dikenal dengan hari kesaktian pancasila 1 Oktober yang selalu kita diperingati,” ungkapnya.

SDK menekankan seluruh kebijakan pemerintah semestinya berpijak pada nilai Pancasila. Ia menilai pembangunan harus menghadirkan kesejahteraan yang merata bagi masyarakat.

“Kita ingin agar pancasila, kita wujudkan dalam bentuk program pembangunan untuk mengsejahterakan seluruh bangsa indonesia,” kata Suhardi Duka.

Ketua Majelis Pimpinan Wilayah Pemuda Pancasila Sulbar itu juga menyoroti pentingnya menanamkan nilai Pancasila kepada generasi muda, bukan sekadar menjadikannya kewajiban formal.

“Saya paham betul bagaimana perjalanan pancasila ditengah bangsa kita. Ideologi kita adalah pancasila dan pancasila yang mempersatukan kita,” katanya.

Menurut SDK, perdebatan mengenai siapa yang paling Pancasilais kerap muncul di ruang publik. Karena itu, ia meminta seluruh elemen bangsa memperkuat implementasi nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.

“Kadangkala itu yang menjadi diskusi ditengah publik kita. Olehnya itu tujuan kita bersama sebagai pemerintah, TNI-Polri, swasta dan siapapun kita tentunya ingin supaya pemahaman kita terhadap pancasila ini lebih bermakna didalam tingkahlaku kita sehari hari,” pungkas SDK.