Polda Sulbar Gembleng Personel agar Mahir Manajemen Risiko
Mamuju – Polda Sulbar memperkuat kapasitas personel melalui Pelatihan Manajemen Risiko yang berlangsung di Ballroom Hotel D’Maleo Mamuju, Kamis (7/5).
Pelatihan itu menjadi langkah Polda Sulbar membangun budaya kerja yang lebih profesional, terukur, dan responsif terhadap potensi persoalan dalam pelaksanaan tugas.
Kapolda Sulbar, Irjen Pol Adi Deriyan Jayamarta, menegaskan manajemen risiko bukan sekadar materi pelatihan, melainkan kemampuan penting yang wajib dimiliki setiap personel kepolisian.
Menurutnya, setiap tugas dan aktivitas selalu memiliki risiko yang harus dipahami sejak awal agar tidak memicu kesalahan langkah di lapangan.
“Dalam setiap perjalanan dan kegiatan pasti ada risiko. Kita harus paham dan mampu mengantisipasinya. Hari ini bukan hanya kalian yang belajar, saya pun belajar bersama. Ilmu ini harus disampaikan kembali ke seluruh jajaran,” tegas Irjen Pol Deriyan.
Pelatihan tersebut diikuti pejabat utama dan personel yang ditunjuk. Fokus pembahasan mengarah pada kemampuan mengidentifikasi, menganalisis, hingga mengelola risiko dalam tugas organisasi maupun pelayanan publik.
Irjen Pol Deriyan menilai, manajemen risiko menjadi elemen penting dalam menjaga kualitas pelayanan publik sekaligus reputasi institusi.
Karena itu, seluruh jajaran, mulai pimpinan hingga pelaksana, harus terlibat aktif dalam proses pengelolaan risiko agar organisasi lebih siap menghadapi persoalan maupun audit kerja.
Ia pun mengaitkan materi pelatihan dengan prinsip dasar kepolisian “CUMEMU” atau Cuaca, Medan, dan Musuh. Prinsip itu, menurutnya, menjadi dasar dalam membaca situasi sebelum mengambil tindakan.
“Manajemen risiko itu intinya mengenali diri sendiri dan mengenali lingkungan. Jika salah paham situasi, maka tindakan yang diambil pun bisa salah. Mari kita buka hati dan pikiran, serap ilmunya sebaik mungkin,” ucapnya.
Manajemen Risiko Berbasis ISO
Materi utama pelatihan disampaikan pemateri dari Biro Kajian dan Pengembangan Lemdiklat Polri. Narasumber memaparkan penerapan manajemen risiko berbasis standar internasional ISO yang menitikberatkan pada prinsip, kerangka kerja, dan proses pengendalian risiko.
Pemateri menegaskan manajemen risiko harus berjalan secara proaktif sebelum masalah muncul. Sejumlah kasus besar, mulai kebakaran hotel hingga tragedi Kanjuruhan, menjadi contoh pentingnya pemetaan risiko sejak tahap perencanaan hingga evaluasi kegiatan.
Dalam pelatihan itu, peserta mempelajari lima tahapan utama manajemen risiko, yakni penetapan konteks, identifikasi risiko, analisis risiko, evaluasi risiko, serta penanganan risiko melalui mitigasi, transfer, penerimaan, atau penghindaran risiko.
Di akhir kegiatan, Irjen Pol Deriyan menegaskan pelatihan tersebut membuka pemahamannya terkait pentingnya perencanaan dan mitigasi dalam pelaksanaan tugas kepolisian.
“Hari ini luar biasa. Saya sadar kita harus lebih profesional dan mampu mengukur kemampuan dalam menyusun rencana. Terima kasih kepada panitia, kegiatan ini sangat bermanfaat. Harapan saya, ilmu manajemen risiko ini tidak hanya kita pelajari, tapi benar-benar kita asah dan kita terapkan dalam pekerjaan sehari-hari,” tutup Kapolda.
Melalui pelatihan tersebut, Polda Sulbar berharap seluruh personel mampu membangun pola kerja yang lebih adaptif dan siap menghadapi berbagai tantangan tugas secara terukur. (Rilis)



