14 Kerajaan Iringi Peringatan Kemerdekaan RI di Mamuju
Mamuju — Kemerdekaan Indonesia tidak lahir dalam satu babak. Jauh sebelum Proklamasi 1945, kerajaan-kerajaan telah menjadi bagian dari perjalanan panjang masyarakat Nusantara menghadapi kekuasaan asing, membangun persatuan, dan mempertahankan wilayahnya.
Jejak sejarah itu kembali muncul dalam upacara detik-detik Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia tingkat Provinsi Sulawesi Barat di Lapangan Ahmad Kirang, Mamuju, Senin (17/8).
Perwakilan 14 kerajaan Sulawesi Barat hadir dalam upacara tersebut. Mereka berasal dari konfederasi Pitu Babbana Binanga dan Pitu Ulunna Salu.
Kehadiran mereka bukan sekadar simbol adat. Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat ingin menarik kembali ingatan publik pada perjalanan panjang yang mengantar Indonesia menuju kemerdekaan.
Gubernur Sulbar Suhardi Duka bertindak sebagai pembina upacara. Ia mengenakan setelan putih-putih saat memimpin upacara yang turut diikuti pimpinan organisasi perangkat daerah serta peserta lainnya.
Kepala Kesbangpol Sulbar Muh. Darwis Damir mengatakan keterlibatan perwakilan kerajaan berkaitan erat dengan sejarah perjuangan menuju kemerdekaan.
“Perjuangan itu dimulai dari kerajaan kerajaan. Setelah kerajaan masuklah ke masa persatuan dan kesatuan itu dimaknai dengan adanya pemuda-pemuda yang berhasil dan termasuk juga pimpinan pimpinan kita. Para founder yang menyiapkan kemerdekaan itu,” kata Darwis.
Menurut dia, perjalanan tersebut penting kembali diingat agar kemerdekaan tidak dipahami sebatas peristiwa pengibaran bendera setiap 17 Agustus.
“Itu pengantar, bahwa bendera itu tidak akan berdiri sendiri, tidak akan bisa direbut kalau tidak ada perjuangan. Perjuangan itu dimulai dari kerajaan-kerajaan kita. Habis itu masuk kepada masa perjuangan dari masa perjuangan itu masuklah kepada kemerdekaan saat ini,” ujarnya.
Pesan itu menempatkan kemerdekaan sebagai hasil dari rangkaian perjuangan yang berlangsung lintas generasi. Kerajaan, gerakan persatuan, peran pemuda, hingga para pendiri bangsa menjadi bagian dari mata rantai sejarah tersebut.
Darwis menegaskan Indonesia memperoleh kemerdekaan melalui perjuangan, bukan pemberian.
“Masa perjuangan itu kita salah satunya bangsa Indonesia yang berjuang untuk merebut merdeka itu. Kalau mungkin bangsa-bangsa lain mungkin hadiah, tapi kita bukan hadiah. Ini adalah perjuangan, perjuangan kemerdekaan kita,” katanya.
Kehadiran 14 kerajaan akhirnya memberi makna lain pada upacara kemerdekaan tingkat Sulbar. Lapangan Ahmad Kirang bukan hanya menjadi tempat mengenang Proklamasi, tetapi juga ruang untuk mengingat akar sejarah yang jauh lebih panjang.




