Asap Karhutla Mulai Mengusik Kesehatan Warga Sulbar

waktu baca 2 menit

Mamuju — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tak berhenti sebagai ancaman terhadap lingkungan. Asap yang menyertainya membawa partikel pencemar yang dapat masuk ke saluran pernapasan dan memicu gangguan kesehatan, terutama bagi kelompok rentan.

Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Sulawesi Barat meminta masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama paparan asap berlangsung. Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta warga dengan asma, penyakit paru dan penyakit jantung menghadapi risiko lebih besar.

Kepala DKPPKB Sulawesi Barat, dr. Nursyamsi Rahim, mengatakan paparan asap dapat memicu gangguan kesehatan mulai dari keluhan ringan hingga kondisi yang membutuhkan penanganan medis.

“Paparan asap dapat menimbulkan berbagai keluhan kesehatan, mulai dari iritasi hidung, batuk dan pilek, tenggorokan terasa perih, mata merah dan berair, hingga sesak atau kesulitan bernapas. Karena itu, masyarakat perlu mengurangi paparan asap dan segera mendapatkan pelayanan kesehatan jika mengalami keluhan yang semakin berat,” kata Nursyamsi, Senin (5/10).

Masyarakat perlu membatasi aktivitas luar ruangan saat kualitas udara memburuk. Penggunaan masker juga penting, terutama bagi warga yang harus beraktivitas di tengah paparan asap.

Ancaman tak berhenti pada batuk, iritasi mata atau gangguan pernapasan ringan. Sesak berat, kesulitan bernapas, nyeri dada, anak tampak lemas, atau kondisi kesehatan yang terus memburuk menjadi tanda bahaya yang membutuhkan pemeriksaan segera.

DKPPKB Sulawesi Barat meminta warga yang mengalami gejala tersebut segera mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan. Kelompok rentan juga perlu mendapat perhatian lebih selama kondisi udara belum kembali membaik.

Di sisi lain, pencegahan karhutla menjadi bagian penting untuk memutus sumber persoalan. Masyarakat perlu menghindari pembakaran hutan dan lahan yang berpotensi memperluas paparan asap dan memperburuk kualitas udara.

Nursyamsi menekankan perlindungan kesehatan tak hanya bergantung pada layanan medis. Pemerintah, tenaga kesehatan, pemerintah kabupaten dan masyarakat perlu memperkuat kewaspadaan sekaligus mencegah munculnya sumber asap baru.

error: Konten Ini Dilindungi !!!
Putar suara