Safari Ramadan di Pasangkayu, SDK Dorong Tiga Kekuatan Bersatu Bangun Sulbar
Pasangkayu – Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat melangsungkan Safari Ramadan 1447 Hijriah di Kabupaten Pasangkayu, Minggu, 22 Februari 2026.
Agenda ini bukan sekadar kunjungan seremonial. Pemprov membawa pesan tegas bahwa pembangunan butuh barisan yang rapat antara pemerintah dan masyarakat.
Gubernur Sulawesi Barat, Suhardi Duka memimpin langsung rombongan. Ia hadir bersama Sekretaris Daerah Sulbar Junda Maulana, staf ahli gubernur, para asisten Setda, pimpinan perangkat daerah, kepala biro, tim ahli gubernur, jajaran UPTD RSUD, serta unsur pemerintah daerah lainnya.
Safari Ramadan kali ini membuka rangkaian kegiatan dengan peninjauan infrastruktur pascapeningkatan jalan dan jembatan pada ruas akses Pelabuhan Pasangkayu di jalur Kayumaloa – Pelabuhan – SPBU Ako.
Peninjauan ini untuk memastikan proyek infrastruktur tidak berhenti sebagai laporan. Akan tetapi, betul-betul mendorong konektivitas dan mempercepat pergerakan ekonomi warga.
Selepas peninjauan, rombongan Pemprov melanjutkan agenda buka puasa bersama di Rumah Jabatan Bupati Pasangkayu. Pada kesempatan itu, pemerintah menyalurkan lebih dari 700 paket Ramadan untuk masyarakat.
Kegiatan berlanjut hingga malam. Gubernur bersama rombongan dan masyarakat melaksanakan salat Isya dan Tarawih berjamaah di Masjid Agung Al-Madaniah Pasangkayu.
Keberhasilan Tak Sekedar dari Ukuran Angka
Di hadapan jamaah, Suhardi Duka menekankan ukuran keberhasilan pembangunan bukan hanya angka dan proyek, melainkan kesanggupan pemerintah dan warga berjalan seirama.
Ia menyatakan setiap program pemerintah berangkat dari niat mendorong kemajuan daerah. Pada saat yang sama, ia mengingatkan ruang kritik tetap terbuka. Dengan catatan, kritik harus santun dan membangun agar berubah menjadi energi koreksi, bukan bara perpecahan.
“Dalam ajaran Islam, persatuan antara umara, ulama, dan umat menjadi kunci kemajuan suatu daerah. Ketika ketiganya bersatu, maka pembangunan akan berjalan dengan baik,” ujar Suhardi Duka.
Ia juga menegaskan tidak ada pemimpin yang sempurna. Karena itu, ia memandang nasihat ulama, kontribusi pemikiran cendekiawan, serta doa masyarakat sebagai penopang penting agar kekurangan kepemimpinan tidak berubah menjadi hambatan pembangunan.
Gubernur berharap Safari Ramadan tidak berhenti pada kunjungan tahunan, tetapi melahirkan ikatan kebersamaan yang lebih kuat. Ia menargetkan persatuan sosial itu menjadi modal agar Sulawesi Barat mampu bergerak lebih cepat dan berdiri sejajar dengan daerah maju lain di Indonesia.
“Semoga seluruh doa kita di bulan suci Ramadan ini diijabah oleh Allah SWT dan membawa kebaikan bagi daerah yang kita cintai bersama,” tutupnya.




