Sulbar Bangun Labkesmas BSL-2 Plus, Targetkan Deteksi Penyakit Lebih Cepat dan Akurat

waktu baca 2 menit

Mamuju – Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat mempercepat penguatan sistem kesehatan dengan menyiapkan Laboratorium Kesehatan Masyarakat (Labkesmas) berstandar Biosafety Level 2 (BSL-2) Plus.

Fasilitas ini diproyeksikan menjadi garda depan deteksi dini penyakit menular di daerah. Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DKPPKB) Sulbar mendorong pengembangan tersebut sebagai bagian dari strategi preventif sekaligus peningkatan kualitas layanan kesehatan.

Kepala DKPPKB Sulbar, Nursyamsi Rahim, meninjau langsung kesiapan Labkesmas, Kamis (26/3/2026). Ia menilai penguatan laboratorium menjadi kebutuhan mendesak di tengah meningkatnya tantangan kesehatan.

“Penguatan laboratorium menjadi langkah penting dalam upaya preventif. Deteksi dini sangat menentukan agar penanganan penyakit bisa dilakukan lebih cepat dan tepat,” ujar Nursyamsi.

Ia mengungkapkan, kapasitas laboratorium tingkat provinsi masih terbatas, terutama untuk diagnosis komprehensif. Kondisi ini membuat daerah perlu mempercepat peningkatan fasilitas dan teknologi.

Labkesmas dengan standar BSL-2 dirancang menangani agen penyakit berisiko sedang. Fasilitas ini mendukung pemeriksaan berbasis PCR serta menerapkan sistem keamanan hayati yang ketat.

Nursyamsi menargetkan Labkesmas Sulbar tidak hanya berfungsi sebagai pusat surveilans, tetapi juga sebagai layanan skrining kesehatan masyarakat secara luas dan terintegrasi.

“Ke depan kita ingin layanan laboratorium berjalan berjenjang, mulai dari Puskesmas, kabupaten, hingga provinsi. Semua harus terhubung dan saling mendukung,” jelasnya.

Pengembangan ini sejalan dengan transformasi sistem kesehatan nasional yang menekankan penguatan laboratorium dari sisi kapasitas dan kualitas. Peran laboratorium dinilai krusial dalam mendeteksi penyakit menular maupun potensi wabah baru.

Selain itu, fasilitas PCR akan memperkuat sistem surveilans untuk mengantisipasi kemunculan penyakit seperti flu burung dan virus lainnya.

DKPPKB juga merancang integrasi layanan berbasis siklus hidup, mulai dari ibu hamil hingga lansia. Pendekatan ini diharapkan memperluas jangkauan layanan sekaligus meningkatkan kualitas intervensi kesehatan.

“Transformasi ini memang tidak mudah. Dibutuhkan kolaborasi dan komitmen semua pihak. Kita harus hilangkan ego sektoral dan fokus pada kepentingan masyarakat,” tegas Nursyamsi.

Pemprov Sulbar optimistis pengembangan Labkesmas BSL-2 Plus mampu memperkuat deteksi dini, mempercepat respons kesehatan, serta mendorong peningkatan kualitas layanan bagi masyarakat.

error: Content is protected !!