Pemprov Sulbar Bendung Radikalisme dari Ruang Kelas Lewat Pembatasan Gadget

waktu baca 2 menit

Sulbar – Pemerintah Provinsi Sulawesi Barat (Sulbar) mulai mengerem penggunaan gadget di lingkungan sekolah. Langkah ini bukan sekadar disiplin belajar, tetapi strategi menutup celah masuknya paham radikal ke kalangan pelajar.

Isu tersebut mengemuka dalam dialog “Halo Sulbar” di Studio RRI Mamuju, Jumat (3/4/2026). Diskusi menghadirkan sejumlah pejabat kunci, termasuk Kepala Kesbangpol Sulbar Darwis Damir, yang menegaskan ancaman radikalisme kini bergerak halus melalui ruang digital.

Darwis menilai, ketergantungan gadget membuka akses luas terhadap konten tanpa filter. Kondisi ini berpotensi membentuk pola pikir yang rentan terhadap ideologi menyimpang jika tidak dikendalikan sejak dini.

“Kita ingin mencetak generasi Sulbar yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga kokoh secara mental dan ideologi,” ujarnya.

Menurutnya, sekolah harus kembali menjadi ruang aman yang membentuk karakter, bukan sekadar tempat transfer pengetahuan. Interaksi langsung antar siswa dan penguatan nilai kebangsaan dinilai lebih efektif ketimbang paparan layar yang sulit diawasi.

“Dengan membatasi gadget di sekolah, kita memberikan ruang bagi siswa untuk kembali pada penguatan nilai-nilai kebangsaan dan interaksi sosial yang sehat, sehingga mereka tidak mudah terinfiltrasi oleh paham radikal yang mengancam persatuan di Bumi Manakarra,” ujar Darwis Damir.

Kebijakan ini sekaligus menunjukkan pergeseran pendekatan pemerintah daerah dalam menghadapi radikalisme. Ancaman tidak lagi dipandang kasatmata, tetapi menyusup melalui algoritma dan konten digital yang dikonsumsi pelajar setiap hari.

Sejumlah pihak dalam diskusi itu menekankan pentingnya pengawasan terpadu. Sekolah, orang tua, dan pemerintah harus bergerak serentak agar pembatasan gadget tidak berhenti sebagai aturan administratif.